Kisah Sukses Arman: Dulu Sering Kelaparan, Sekarang Keuntungan Usahanya Ratusan Juta

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 03 April 2021 07:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 03 337 2388632 kisah-sukses-arman-dulu-sering-kelaparan-sekarang-keuntungan-usahanya-ratusan-juta-8LLMupv0uP.jpg Arman (Foto : Dokumen pribadi)

MASA kecil Arman atau Abdulrochman dihabiskan di desa Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah. Sejak usia 3 tahun dirinya tak lagi menyaksikan senyum Ayahnya karena telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Kini Arman sudah jadi pengusaha sukses dengan keuntungan per bulan hingga ratusa juta rupiah.

“Saya hanya ingat samar-samar wajah Ayah. Setiap pagi Ayah mengayuh sepeda ke kota Pemalang,” ungkap Arman di Bintaro, Tangerang Selatan.

Hari-hari berikut, mereka sekeluarga hidup dalam keprihatinan. Untuk menghemat pengeluaran, mereka harus makan nasi aking (nasi bekas yang dikeringkan lalu dimasak lagi). Lauknya pun sederhana hanya pakai urap daun pepaya, singkong atau kangkung (daun-daunan direbus lalu diberi parutan kelapa).

Bagi keluarga mereka makan daging atau ikan adalah barang mewah. Jika ada menu “istimewa” itu pun harus dibagi-bagi dengan saudara-saudaranya. Sekerat daging dipotong kecil-kecil supaya sekeluarga bisa merasakan.

Senyum Arman semakin jarang ketika di usia yang baru menginjak 8 tahun, ibunya menyusul ayahnya meninggal dunia. Dia yang masih bocah tidak menyadari arti sebuah kematian. Arman baru menyadari ketika di rumahnya mulai sepi. Dia tidak lagi menemukan pelukan dan ciuman ibunya.

”Jika ingat ibu, saya cuma bisa menangis saat akan tidur,” cetusnya terbata-bata.

Himpitan ekonomi keluarganya membuat dirinya hampir diadopsi oleh keluarga yang cukup berada di Tegal. Dia sempat beberapa hari tinggal di keluarga itu, namun oleh saudara-saudaranya akhirnya dibawa pulang kembali. Kisah pedih masih berlanjut, Arman di usia yang masih belia ditinggal saudara-saudaranya merantau ke Jakarta.

Meski setiap bulan dikirimi uang saudaranya, namun Arman hidup sebatang kara. Dia harus menghidupi dirinya sendiri. Menanak nasi sendiri untuk mengganjal perutnya.

”Hampir setiap hari saya makan nasi lauk telor goreng. Setiap hari makan cuma dua kali pagi dan malam. Siang hari puasa untuk menghemat pengeluaran,” ujarnya.

Beruntung tetangganya ada yang menjadi penjual telor dari kampung ke kampung. Arman kecil ikut membantu menjajakan telor itu. Upah jerih payahnya diberi telor yang retak atau rusak karena tak laku dijual. Dengan suka hati Arman akan menggoreng telor tadi, diberi sejumput garam, ditaburi kecap. Telor hasil kerjanya menjadi hidangan lezat untuk makan malam.

“Sampai sekarang saya hobi makan telor untuk mengingat masa-masa susah kala itu,” ujarnya.

Tamat SMP, Arman melanjutkan pendidikan SMA ke Jakarta. Dia ikut kakaknya yang telah lama hidup di Ibu Kota. Dia bekerja membantu kakaknya yang memilik sebuah penerbitan dan klinik pengobatan herbal. Sambil bekerja menjadi wartawan, dia kuliah di IISIP Jakarta.

Baca Juga : Cerita Menko Muhadjir Jadi Wartawan di Masa Mudanya

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini