Diponegoro Dipenjara, Dijaga 200 Serdadu dan Hampir Dibuang ke Belanda

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 02 April 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 02 337 2388215 diponegoro-dipenjara-dijaga-200-serdadu-dan-hampir-dibuang-ke-belanda-732Ft6xZCs.jpg Foto: Istimewa

Sebagai gantinya, Van den Bosch diperintahkan untuk mencari tempat lain di Hindia Belanda. Ia pun bertindak cepat: Pangeran akan dipindahkan secara sangat rahasia ke selatan, tepatnya ke Makassar. Di sana ia akan ditahan hingga ajal menjemputnya di Fort Rotterdam, benteng besar yang dibangun Admiral Speelman (1628-84).

Bila garnisun pengawal di Manado hanya berkekuatan 40 orang, pasukan penjaga benteng di Sulawesi Selatan ini berkekuatan 200 serdadu dan didukung beberapa meriam besar yang ditaruh di beberapa tempat, menghadap ke setiap penjuru dari arah mana ancaman kemungkinan akan datang, dari laut maupun darat. Secara keseluruhan, struktur bangunannya pun lebih kokoh.

Maka, demikianlah, dalam suatu perjalanan rahasia selama 21 hari yang menyiksa antara tanggal 20 Juni dan 11 Juli 1833, Diponegoro, istri, kedua anaknya, dan 23 pengikutnya diangkut dari “penjara ke penjara” Belanda di Sulawesi, dari Fort Nieuw Amsterdam ke Fort Rotterdam.

"Ini adalah sebuah perjalanan rahasiayang terasa makin pedih karena nama kapal yang ditugaskan membawa mereka adalah kapal angkut Angkatan Laut Belanda, Circe, nama seorang dewi Yunani berlidah perak dalam epos Homerus, yang dapat mengubah manusia menjadi hewan,"terangnya.

Repotnya, para awak kapal yang pribumi di kapal angkut itu bereaksi negatif saat mengetahui mantan pemimpin Perang Jawa ada di tengah-tengah mereka.

J.I. van Sevenhoven (1782-1841; menjabat, 1832-9), yang kemudian bertugas sebagai Raad van Indië (Dewan Hindia), menyarankan agar Diponegoro jangan pernah lagi di angkut dalam kapal Angkatan Laut Belanda yang memberi kemungkinan timbulnya kerusuhan di antara awak kapal pribumi.

Langkah pemindahan berikut, kalau ada lagi nanti, menurut dia, hendaknya dilakukan dengan memakai “kapal dagang kolonial”, yaitu kapal dagang biasa (Carey 2008:738-9).

Penjagaan Pangeran dan keluarganya saat ditahan di Makassar jauh lebih ketat ketimbang di Manado: baik Pangeran maupun pengikutnya tidak diizinkan berkeliaran di luar tembok Fort Rotterdam.

Diponegoro dan keluarganya ditahan di ruangan perwira yang dekat dengan pos jaga utama, dengan pemandangan dari lotengnya mengarah ke Teluk Makassar; namun tembok bagian dalam yang tinggi menghalangi pandangan kearah kota (Eerdmans 1922: I.2:355-6;Peta 7).

Pangeran diizinkan untuk berolahraga di bawah penjagaan di dalam benteng, tetapi hal itu hanya boleh dilakukan siang hari. Saat matahari terbenam, komandan pengawal akan memeriksa ulang untuk memastikan Pangeran dan para pengikutnya sudah kembali ke kamar mereka masing-masing (Carey 2008:739).

Terlepas dari semua pembatasan ruang gerak ini, Diponegoro dan para pengikutnya tetap dapat menemukan cara-cara untuk mengirim pesan atau surat. Hal ini terlihat dalam korespondensi dengan pejabat yang belum lama dipromosikan, Mayor-Jenderal Cleerens (Bab 11).

Diponegoro tidak hanya diberitahu tentang kembalinya pejabat asal daerah Flam itu ke Tanah Jawa dalam minggu-minggu kedatangannya di Batavia pada 13 Oktober 1835, tetapi Pangeran juga dapat mendiktekan dan mengirim sepucuk surat resmi kepadanya lengkap dengan sampul sutra kuning dan cap (Carey 2008:826-7), dengan menembus blokade prosedur keamanan yang ditetapkan Van den Bosch.(dody)

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini