Pasukan KNIL Hindia Belanda dari Jawa Ternyata Suka Minum Jamu

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 02 April 2021 06:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 02 337 2388212 pasukan-knil-hindia-belanda-dari-jawa-ternyata-suka-minum-jamu-sMEz82UTna.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Dalam buku berjudul "KNIL Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Prancis" tulisan Jean Rocher-Iwan Santosa diceritakan perjalanan sejarah operasi militer Belanda di Nusantara pada tahun 1830 hingga Indonesia merdeka.

Buku ini menceritakan para prajurit bumiputra di KNIL yang menjadi bagian penting dari konsolidasi wilayah Nusantara sesudah era Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

KNIL adalah singkatan dari Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger yang artinya Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Pasukan KNIL dibentuk oleh pemerintah kolonial untuk menghadapi perlawanan lokal.

Setiap kapal Belanda yang berlayar ke lautan wilayah penjajahan dari Afrika sampai Jepang dibekali dengan tentara untik mengantisipasi munculnya serangan dari pembajak laut.

Petrik Matanasi dalam buku " Pribumi Jadi Letnan KNIL, " menveritakan kekuatan pasukan KNIL sekitar 5.000-6.000 orang. Satuan ini terdiri atas Korporaalschappen dengan 12 orang prajurit dipimpin oleh seorang kopral.

Sergeantschappen terdiri dari 2 Korporaalschappen. Dua sampai lima Sergeantschappen bisa menjadi sebuah barisan sendiri dengan pimpinan seorang letnan dua.

Menurut sejarawan Belanda G.G de Jong yang ditulis Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2018), KNIL hanya merupakan suatu kekuatan kepolisian yang agak ditingkatkan. Bukan kekuatan militer untuk menghadapi suatu perang internasional dan modern.

Buku lain yang mengulas tentsng KNIL adalah "Dunia Kompeni: Antara Kami, KNIL, dan Indonesia".

KNIL dikenal sebagai militer yang kerjanya menumpas pemberontakan orang-orang Indonesia. P. van Meel, dalam tulisannya De Krijgsverrichtingen van het KNIL, dalam buku Gedenkschrzft Koninklijk Nederlandsche Indische Leger 1830-1950 (1990: 65-66) membuat daftar pengerahan ekspedisi KNIL dari 1830 hingga 1950 ke daerah-daerah di nusantara.

Tak hanya pemberontakan menolak pajak saja, tapi juga melawan bajak laut. Semua musuh pemerintah kolonial yang bersenjata dan sulit diatasi polisi adalah tugas KNIL. Semua demi kejayaan Ratu Singa, dan juga uang.

Terdapat pula buku "KNIL: Bom Waktu Tinggalan Belanda". KNIL secara resmi berdiri pada tanggal 28 Agustus 1814, tidak lama setelah kekuasaan Belanda di Hindia Belanda dikembalikan. Pada awalnya, KNIL merupakan bagian dari tentara kerajaan Belanda dan dibentuk untuk menumpas pemberontakan di koloni-koloninya.

Pada tanggal 4 Desember 1830, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes Van de Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan "Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger" , ditetapkan pembentukan angkatan tentara tersendiri untuk Hindia Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur).

Pada tahun 1836, Raja Willem Imemberi predikat "Koninklijk" pada angkatan perang ini.

Pada tahun 1933 Hendrik Colin, Perdana Menteri Belanda, memberitahu Gubernur Jenderal bahwa ia akan menghargai jika nama n tentaranya diganti dengan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger.

Undang-Undang Belanda tidak mengizinkan para wajib militer untuk ditempatkan di wilayah jajahan, sehingga tentara di Hindia Belanda hanya terdiri dari prajurit bayaran atau sewaan.

Mereka berasal dari Perancis, Jerman, Belgia dan Swiss. Ada juga tentara Belanda yang melanggar peraturan di Belanda diberikan pilihan, menjalani hukuman penjara atau bertugas di Hindia Belanda. Mereka mendapat gaji bulanan yang besar. Tahun 1870, seorang serdadu menerima 300 Gulden atau setara dengan penghasilan seorang buruh selama setahun.

Serdadu Eropa, persentase orang Belanda adalah 61 persen dan sisanya 39 persen dari negara tetangganya. Komposisi orang Eropa selain Belanda meliputi 30 persen orang Belgia, 30 persen orang Jerman, orang Swiss sebanyak 20 persen, 12 persen orang Prancis dan sisanya 8 persen lagi dari negara lain.

Sedang serdadu pribumi, pada 1830, jumlah bintara pribumi ada 60 persen. Sedangkan perwiranya hanya 5 persen dari jumlah semua perwira.

C.A. Heshusius dalam bukunya, Het KNIL van Tempo Doeloe, menerangkan komposisi serdadu KNIL yang berdarah Eropa dan Indo pada 1929 menjelang Perang Dunia II hanya sekitar 18 persen dari jumlah total prajurit KNIL sebanyak 37 ribu orang. Bagian terbesarnya justru orang-orang dari kepulauan Nusantara.

Mantan Atase Militer Kedutaan Besar Prancis di Jakarta itu menjelaskan komposisi serdadu dari Nusantara yang terbesar adalah orang-orang Jawa, yang mencapai 45 persen.

Prajurit KNIL dari jawa tidak memakai sepatu hingga tahun 1905. Mereka tergabung dalam kompi yang bertugas untuk menenangkan dan menetralisir situasi pasca peretempuran.

Prajurit Jawa juga memiliki keunikan dari kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kebiasaan tersebut adalah sangat bergantungnya prajurit Jawa pada bakul jamu. Mungkin jamu mengembalikan stamina mereka setelah bertempur.

Lalu etnis Minahasa sebanyak 15 persen, Ambon Lease, yang mencakup Pulau Nusa Laut, Haruku, Saparua, dan wilayah Maluku Selatan (12 persen), kelompok Sunda (5 persen), dan kelompok Timor 4 persen.

Saat Perang Pasifik pada 1941, KNIL masih memiliki satuan tempur dari legiun Mangkunegoro di Surakarta dan kompi legiun Paku Alam di Yogyakarta.

Pemuda Indonesia yang menjadi perwira KNIL berasal dari keluarga terpandang. Mereka punya pendidikan yang cukup baik pada zaman kolonial. Meskipun gaji perwira KNIL dari pribumi dan Belanda sama, tapi jenjang karier untuk pribumi terbatas. Pangkat tertinggi perwira KNIL dari golongan pribumi hanya sampai pangkat Letnan Kolonel.

Beberapa perwira KNIL yang terkenal di antaranya, Soeharto, AH Nasution, TB Sumatupang, Alex Evert Kawilarang, dan Urip Sumoharjo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini