Pengantin Bom Gereja Anggap Bunuh Diri sebagai Bulan Madu di Luar Akal Sehat

Tim Okezone, Okezone · Kamis 01 April 2021 15:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 337 2387877 pengantin-bom-gereja-anggap-bunuh-diri-sebagai-bulan-madu-di-luar-akal-sehat-AeiPMW9r0s.jpg Foto:Ist

JAKARTA – Pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, merupakan pengantin baru berinisial ML dan YSF diduga menjadi. Keduanya menganggap aksi bom bunuh diri sebagai bulan madu.

(Baca juga: Kepala BNPT: Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar Orang Baru JAD)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli menyebut keduanya merupakan anggota baru jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Mereka direkrut seniornya yang beberapa sudah tertangkap.

"Ya tentu bulan madu yang mereka lakukan dengan aksi bom bunuh diri itu di luar akan sehat dan jauh dari nilai agama. Bulan madu dengan akal sehat tentunya mensyukuri telah menjadi pasangan hidup selalu berdoa, meminta doa menjadi pasangan sakinah mawaddah, warahmah. Bukan melakukan tindakan yang dilakukan pasangan ini," ujar Boy Rafli, beberapa waktu lalu

"Jaringannya JAD, tapi orang merupakan orang baru. Artinya proses rekrutan dari seniornya terdahulu yang saat ini antara lain senior itu sudah ditangkap termasuk yang ditangkap bulan Januari di Makassar," sambungnya.

(Baca juga: Ketakutan Warga Dekat Rumah Zakiah Aini Pelaku Penyerangan Mabes Polri)

Mantan Kapolda Papua ini menambahkan, pasangan tersebut masuk dalam kategori milenial yang rentan terpapar paham radikalisme. Karena, kaum milenial mudah didoktrin untuk melakukan aksi kekerasan.

"Memang kaum milenial yang paling efektif untuk aksi-aksi seperti itu. Kalau orang tua sudah mikir gak mau seperti itu. Kalau anak muda, dia langsung telan itu doktrin-doktrin menyesatkan, dia percaya dan laksanakan apa kata mentornya," ungkapnya.

Di sisi lain, aksi bom bunuh diri pasangan suami istri yang belum lama menikah itu sebagai 'bulan madu' sangat jauh dari akal sehat dan norma agama.

Ke depan, pihaknya terus bekerja keras untuk melakukan upaya-upaya pencegahan terutama untuk kaum milenial agar tidak mudah terpengaruh atau terjerumus dalam lingkaran paham radikalisme.

"Kita harus berusaha keras jangan lagi ada pasangan atau anak-anak muda berpandangan atau berprinsip seperti itu. Cukup itu yang terkahir. Karena tidak layak, tudak sepantasnya kita bangsa Indonesia terjebak dalam tindak kekerasan sebagaimana yang dilakukan aksi bom bunuh diri tersebut," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini