Milenial Jadi Pelaku Teror, Anggota DPR: Bukti Indoktrinasi Radikalisme Mengancam Seluruh Generasi

Tim Okezone, Okezone · Kamis 01 April 2021 10:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 337 2387638 milenial-jadi-pelaku-teror-anggota-dpr-bukti-indoktrinasi-radikalisme-mengancam-seluruh-generasi-M9fpSy6w99.jpeg Penjagaan di Gereja Katedral Makassar diperketat pasca-bom bunuh diri. (Foto: Antara)

JAKARTA - Anggota Komisi 1 DPR RI Fraksi PAN, Farah Puteri Nahlia mengaku prihatin melihat anak milenial melakukan aksi teror di Indonesia. Para pelaku kelahiran 1995 menyerang Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri. 

Farah mengatakan, usia muda adalah usia harapan untuk menoreh masa depan. Apalagi jika mengacu data BPS tahun 2020, total persentase penduduk usia produktif mencapai 70,72% dan angka itu seharusnya menjadi cerminan usia generasi masa depan bangsa Indonesia.

“Namun seiring dengan adanya fakta keterkaitan beberapa anak-anak dan remaja dalam pusaran terorisme tentu menjadi ancaman tersendiri sebagai bentuk kerawanan generasi,” ujar Wasekjen DPP PAN itu, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/4/2021).

Menurutnya, tindakan terorisme di dua lokasi yang dilakukan anak milenial itu bukti bahwa tindakan kekerasan dan indoktrinasi radikalisme mengancam seluruh usia generasi tanpa terkecuali.

“Usia muda yang seharusnya tengah bersiap dan berjuang menggapai cita-citanya termasuk fase-fase mencari jati diri, justru kini terancam membunuh dirinya sendiri, membunuh masa depannya sendiri seperti dengan bom bunuh diri,” kesal Farah.

Baca juga: KTA Shooting Club Seperti Milik Teroris di Mabes Polri Ternyata Bisa Dibeli Online

Untuk itulah, lanjut Farah, program BNPT terkait deradikalisasi serta pencegahan terorisme dan paham radikal intoleran perlu ditingkatkan terutama dengan mendorong penguatan pendekatan yang menyasar generasi muda.

Pendekatan seperti Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang melibatkan kalangan pelajar yang telah dilakukan BNPT, perlu diperkuat dengan inovasi-inovasi pendekatan kreatif kontra radikal. 

Selain itu, lanjut dia, implementasi UU No. 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi kata kunci untuk memastikan Bhineka Tunggal Ika masih menjadi pilar negeri sebagai manifestasi dari program deradikalisasi.

Baca juga: Minta Masyarakat Tetap Tenang, Jokowi: Tak Ada Tempat bagi Terorisme di Tanah Air

“Memang tugas BNPT tidak mudah, perlu keterlibatan berbagai stakeholder terutama sekolah dan perguruan tinggi untuk menyelaraskan komitmen kebangsaan di lingkungan generasi muda. Poin pentingnya, di usia generasi muda yang terkadang masih labil baik dari sisi emosi maupun pendirian (mudah terpengaruh), tentu program-program terkait deradikalisasi harus relevan dengan sasaran tersebut agar dapat diterima dengan optimal,” kata dia.

Selain BNPT, ujar Farah, peran Kemkominfo dalam menangkal terorisme ini juga sangat penting. Mengingat terorisme bukan sekedar bicara aspek fisik tindakannya, tetapi sebelum tindakan itu terjadi, pengaruh konten-konten bermuatan intoleransi dan radikalisme di dunia siber penting untuk dicegah.

Pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tegasnya, jangan sampai justru mengarah pada hal-hal yang negatif, destruktif terutama mendorong perilaku yang kontraproduktif terhadap integrasi nasional, persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, upaya literasi digital dan optimalisasi patroli siber perlu dimaksimalkan.

Dia juga menekan pentingnya peran aktor-aktor lain. Di negara dengan mayoritas penduduk muslim, peran kiaai masih sangat vital. Pemahaman agama yang rahmatan lil alamin dengan spirit hablum minallah dan hablum minnas perlu dijunjung tinggi dan harus memahami betul makna yang dimaksud.

“Sikap menghargai perbedaan dan mencintai kebersamaan (ukhuwah) perlu terus dilestarikan apalagi di kalangan muda. Peran pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini menjadi garda terdepan untuk mencegah paham radikal intoleran dan terorisme tidak semakin berkembang,” ucapnya.

Farah juga mengingatkan seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, dimulai dari diri, keluarga sampai negara sebagai kerangka kewaspadaan nasional.

“Hal itu dapat ditunjang dengan aparat keamanan baik Polri/TNI yang memperkuat pengamanannya di seluruh wilayah dan jajaran. Sekali lagi, persoalan terorisme seperti ini adalah musuh bersama, sinergi menjadi kekuatan utama untuk melawannya,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini