Tangisan Nenek Hulda Luluhkan Hati Pembajak Pesawat Woyla

Fahmi Firdaus , Okezone · Rabu 31 Maret 2021 10:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 31 337 2386988 tangisan-nenek-hulda-luluhkan-hati-pembajak-pesawat-woyla-YTZqX7k0SK.jpg Tangkapan layar media sosial

DALAM suasana tegang saat pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”, para penyandera memerintahkan Kapten Pilot Herman Rante dan Kopilot Hedhy Djuantoro untuk membawa pesawat dengan 48 penumpang dan lima kru (dua penerbang dan tiga pramugari) ke luar wilayah Indonesia.

Pembajakan tersebut dilakukan oleh kelompok radikal, Komando Jihad yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein

(Baca juga: 40 Tahun Operasi Woyla: Puja-puji Dunia untuk Pasukan Baret Merah)

Namun, bahan bakar di pesawat tersebut tidak mencukupi. Pesawat sempat mengisi bahan bakar di Penang, Malaysia ketika berada di Penang.

Saat di Penang para penyandera membolehkan seorang penumpang lansia, Hulda Pandjaitan untuk diturunkan, lantaran tak berhenti menangis. Nenek berusia 76 tahun asal Taruntung, Sumatera Utara itu terkejut saat melihat gerombolan pembajak mengacungkan pistol dan pisau.

Setelah menurunkan Hulda Pandjaitan, pesawat kembali diterbangkan untuk mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.

(Baca juga: Saat Sintong 'Disemprot' Benny Murdani soal Senjata Operasi Woyla)

Ketika pembajakan terhadap 48 penumpang dan lima awak Pesawat Garuda GA206 terjadi, Kapusintelstrat, Leonardus Benyamin ‘Benny’ Murdani yang sudah diperintahkan Presiden Suharto untuk melancarkan operasi pembebasan, langsung menghubungi Asrama Kopassandha.

Saat itu yang berada di asrama adalah Sintong Pandjaitan. Namun kakinya tengah cedera usai latihan Mobile Training Team (MTT) dari Pasukan Khusus Amerika Serikat di Cijantung, pada awal tahun 1981.

Dalam buku “Sintong Pandjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”, dia pun akhirnya dipercaya merencanakan operasi, kendati kakinya masih harus di-gips.

Singkat cerita, Sintong pun menjalankan tugasnya dengan baik. Drama penyanderaan empat hari tiga malam itu pun berakhir pada 31 Maret 1981 atau tepat 40 tahun silam.

Sintong Pandjaitan beserta anak-anak buahnya dianugerahi Bintang Sakti sepulangnya ke Indonesia. Sementara Pembantu Letnan Achmad Kirang yang tertembak dan sempat dirawat di Rumah Sakit Bhumibol, menghembuskan nafas terakhir. Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini