Kisah Londo Ireng Tentara Belanda Berkulit Hitam yang Suka Pakai Sepatu

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 31 Maret 2021 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 31 337 2386880 kisah-londo-ireng-tentara-belanda-berkulit-hitam-yang-suka-pakai-sepatu-cNDxrvRr4I.jpg Tentara Belanda. (Ilustrasi/Wikipedia)

DULU dikenal istilah Belanda Hitam (zwarte Nederlander) yaitu tentara Belanda yang terdiri dari orang Afrika yang berkulit hitam gelap.

Selain mengontrak orang-orang Eropa untuk menjadi serdadu di dinas ketentaraan India-Belanda, juga terdapat pasukan yang dinamakan Belanda Hitam.

Mulai tahun 1830, di Gold Coast (sekarang Ghana) Afrika Barat, Belanda membeli budak-budak, dan melalui St George d’Elmina dibawa ke India Belanda untuk dijadikan serdadu.

Untuk setiap kepala, Belanda membayar f 100,- kepada Raja Ashanti. Sampai tahun 1872, jumlah mereka kemudian mencapai 3.000 orang dan dikontrak untuk 12 tahun atau lebih. Berdasarkan Nationaliteitsregelingen (Peraturan Kewarganegaraan), mereka masuk kategori berkebangsaan Belanda, sehingga mereka dinamakan Belanda Hitam (zwarte Nederlander).

Kisah itu diungkap di buku "Serdadu Afrika di Hindia-Belanda 1831-1945 ", judul aslinya Zwarte Hollanders: Afrikaanse Soldaten in Nederlands-Indië, penulisnya Ineke van Kessel , penerjemah, S.Hertini Adiwoso.

Terbiasa hidup di Afrika, mereka tidak mendapat kesulitan dengan iklim di Indonesia, menjadi tentara yang tangguh dan berharga bagi Belanda, dan menerima bayaran sama dengan tentara Belanda. Namun mereka harus mencicil uang tebusan sebesar f 100,- dari gaji mereka.

Sebagian besar dari mereka ditempatkan di Purworejo. Tahun 1950, sekitar 60 keluarga Indo-Afrika dibawa ke Belanda dalam rangka “repatriasi.”

Dalam buku "Mengungkap Hilangnya Jejak Londo Ireng Tentara Asal Afrika di Purworejo" yang ditulis Riska Ari Nurhastuti dan Tannisa Ardelia Fortuna diceritakan antara tahun 1831-1872 Kerajaan Belanda mendatangkan 3.085 pria dari Afrika Barat untuk dijadikan prajurit militer di Hindia Belanda.

Mereka sebagian besar berasal dari wilayah Elmina yang sekarang bernama Ghana dan Burkina Faso. Setelah mengikuti pendidikan militer di Jawa, para prajurit Afrika itu dikirim untuk ekspedisi di Sumatra, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Bali, Timor, dan perang Aceh.

Baca Juga : Sosrokartono, Guru Bung Karno yang Kuasai 24 Bahasa dan Wartawan Perang Dunia I 

Prajurit Afrika pertama diterjunkan pada 1832 dalam pertempuran di barat daya Sumatera dan detasemen terakhir pasukan Afrika diturunkan dalam Perang Aceh (1873-1893).

Dalam kurun waktu tersebut, mereka juga ikut dalam ekspedisi memadamkan “pemberontakan” di Borneo, Celebes, Bali, kepulauan Maluku dan Timor.

Menurut Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië, hingga 1892 tercatat 54 prajurit Afrika berdinas dalam pasukan KNIL.

Para prajurit Afrika ini memperoleh status sama dengan prajurit Eropa. Oleh karena itu mereka harus memakai sepatu selama bertugas. Begitu bangganya mereka, hingga saat lepas tugas, sepatu masih tetap dipakai. Namun, ada saja yang karena tak terbiasa bersepatu, masih lebih suka telanjang kaki berselimutkan lumpur.

Di antara para orang Afrika itu terdapat pangeran Ashanti, Pangeran Kwasi Boakye yang didatangkan ke Belanda sebagai ‘jaminan’ karena perjanjian antara Raja Willem I dengan Raja Ashanti.

Pangeran yang meskipun lulusan Delft dan meraih gelar ingenieur (insinyur) serta merasa sudah menjadi “Belanda”, tetap mendapatkan perlakuan diskriminatif rasial dari pemerintah Belanda.

Seperti halnya para prajurit KNIL lainnya baik pribumi maupun Eropa, para prajurit Afrika ini tinggal bersama nyai di tangsi.

Kelak, anak-anak mereka yang laki-laki akan menjadi serdadu KNIL sedangkan yang perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Mereka menikah dengan sesama Indo-Afrika serta juga tinggal di tangsi

Jaminan bahwa anak-anak laki mereka akan menjadi serdadu dibuktikan Pemerintah Hindia Belanda dengan mendirikan sekolah militer anak-anak pertama di Weltevreden, Batavia pada 1828.

Awalnya, sekolah militer itu khusus ditujukan untuk anak-anak Eropa dan Indo Eropa. Namun, kelak anak-anak pribumi serta Afrika diperbolehkan sekolah di sana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini