Kisah Tulisan Terakhir Fatmawati, "Tjintamu Menjiwai Rakyat, Tjinta Fat" saat Bung Karno Meninggal

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 30 Maret 2021 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 30 337 2386233 kisah-tulisan-terakhir-fatmawati-tjintamu-menjiwai-rakyat-tjinta-fat-saat-bung-karno-meninggal-07AnBkxSO7.jpg Lukisan Fatmawati di Bengkulu. (Foto : Okezone/Demon Fajri)

PADA 21 Juni 1970, pukul 07.00 WIB, Bung Karno meninggal dunia di Wisma Yaso, Jakarta Selatan. Dokter Mahar Mardjono menjadi orang yang menyaksikan Bung Karno di saat terakhir. RRI menyiarkan berita sekitar pukul 07.00 pagi tentang kematiannya. Ini dituliskan Roso Daras di bukunya Total Bung Karno.

Dokter Mahar melaporkan, saat itu pukul 04.00 pagi, Bung Karno dalam keadaan koma.

Ia dan dokter Sukaman berada di sampingnya. Menjelang pukul 07.00 pagi, Sukaman sebentar meninggalkan ruangan rawat. Ia sendiri berada di ruang rawat bersama Bung Karno. Bung Karno berbaring setengah duduk, tiba-tiba beliau membuka mata sedikit, memegang tangannya, dan sesaat kemudian Bung Karno mengembuskan napas yang terakhir.

Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan, buruknya penanganan terhadap penyakit Bung Karno juga mempercepat kematiannya. Beberapa bulan di awal 1969, Bung Karno tidak boleh menerima tamu, termasuk keluarganya, karena harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan interogasi. Keluarganya hanya bisa mengantar makanan melalui penjaga.

"Bung Karno yang suka keramaian dan selalu membutuhkan teman bicara menjadi makin depresi karena diasingkan. Sementara dulu penjajah Belanda saat membuang tahanan politik ke luar Jawa, tidak melarang mereka bergaul dengan lingkungannya,"ujar Roso.

Keluarga boleh menengok dengan pembatasan, harus mengantongi izin dan cap instansi militer, tidak serta merta dimudahkan. Rachmawati dibentak dan dimarahi penjaga karena mengajak Bung Karno jalan-jalan di halaman Wisma Yaso.

Jika penjaga sedang baik, keluarga boleh ke Wisma Yaso. Tapi kalau sedang tidak baik, mobil ditahan di gerbang. Istri Bung Karno, Hartini sering harus berjalan kaki menenteng rantang makanan melintasi halaman yang sangat luas.

Bung Karno sempat menulis surat ke Presiden Soeharto tanggal 3 November 1968 untuk meminta kelonggaran agar keluarganya bisa mengunjungi. Ia juga meminta agar Ny Sugio yang selama ini mengurusi rumah Wisma Yaso, dizinkan membantu lagi.

Pembantu rumah tangganya tidak diizinkan masuk ke Wisma Yaso, sehingga untuk urusan dapur, Bung Karno harus mengurusnya sendiri.

Baca Juga : Ni Luh Putu Sugianitri Ajudan Terakhir Bung Karno Meninggal, Jasadnya Dikremasi

Ketika akhirnya ia mengembuskan napas terakhirnya. Di antara sayup-sayup suara seorang Ibu yang membacakan surat Yasin dekat jenazah Bung Karno, terdengar Ibu Wardoyo kakak kandung Soekarno terus meratap. “Karno, kowe kok sengsoro men."

Pemerintah memutuskan jenazah Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso. Fatmawati marah dan kecewa dengan campur tangan Pemerintah. “Tidak, tidak ada cerito. Ini rumahnyo." Batin Fatma terguncang. Ia amat terpukul dan tercampak ke sudut yang paling sunyi. Air matanya menetes.

Fatma masih mencintai Soekarno. Ia berharap lelaki itu hanya mencintai dirinya. Semua ini tercermin dari sikapnya yang memohon agar Bung Karno dapat disemayamkan di rumahnya di Jalan Sriwijaya Kebayoran Baru. Namun, Pemerintah menolak permintaan itu.

Fatma teguh pendiriannya karena tidak akan datang ke Wisma Yaso – rumah Ratna Sari Dewi – hanya bisa mengirim karangan bunga. Sebuah tulisan tangan Fatma berbunyi “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat".

Ketika Bung Karno akan dimakamkan terjadi perundingan antara Hoegeng, Kepala Polisi RI yang bertindak sebagai wakil keluarga Bung Karno dengan Alamsyah Prawiranegara dan Tjokropranolo yang menjadi asisten pribadi Soeharto.

Baca Juga : Jargon Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Ternyata Dikutip dari Surat Ad Dhuha

Sejak awal Bung Karno menginginkan dimakamkan di Bogor. Namun, Soeharto memutuskan untuk memakamkan di Blitar, dengan alasan dekat dengan ibunda Soekarno.

Siang harinya, jenazah Bung Karno dibawa ke Blitar lewat Malang dengan menggunakan pesawat Hercules dari Halim Perdana Kusuma. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat ke Blitar, menembus rakyat yang memenuhi sepanjang perjalanan sampai makam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini