Share

Kebakaran Kilang Minyak Balongan Diduga Disebabkan Petir, Ini Penjelasan BMKG

Ari Sandita Murti, Sindonews · Selasa 30 Maret 2021 04:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 30 337 2386193 kebakaran-kilang-minyak-balongan-diduga-disebabkan-petir-ini-penjelasan-bmkg-efXXA0oG5u.jpg Kilang minyak di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, terbakar. (Foto : Ist)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memberikan komentarnya tentang dugaan sambaran petir yang membuat kilang minyak milik Pertamina di kawasan Balongan, Indramayu, Jawa Barat, terbakar pada Senin (29/3/2021) dini hari.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, terkait kejadian kebakaran yang menimpa kilang minyak Balongan-Pertamina di Indramayu pada Senin, 29 Maret 2021 sekitar pukul 00.45 WIB, BMKG melakukan analisis terhadap kejadian sambaran petir di sekitar lokasi kilang minyak Indramayu pada jam perkiraan kejadian kebakaran tersebut.

Berdasarkan hasil monitoring alat kelistrikan udara, kata dia, Senin, 29 Maret 2021 pada pukul 00.00-02.00 WIB, menunjukkan kerapatan petir berkumpul pada bagian barat kilang minyak Balongan sejauh kurang lebih 77 km, yaitu di sekitar Subang dengan klasifikasi tingkat kerapatan petirnya Sedang-Tinggi.

"Berdasarkan alat monitoring lightining detector yang berlokasi di BMKG Jakarta dan BMKG Bandung dari pukul 00.00 sampai pukul 02.00 WIB, tidak terdeteksi adanya aktivitas sambaran petir di wilayah Kilang minyak Balongan Indramayu," ujarnya melalui keterangan tertulisnya pada wartawan, Senin (29/3/2021).

Menurutnya, petir merupakan kilatan listrik di udara yang disertai bunyi gemuruh karena bertemunya awan yang bermuatan listrik positif (+) dan negatif (–). Petir mempunyai 3 tipe, yaitu dari awan ke awan, di dalam awan, dan dari awan ke bumi.

"Petir yang paling berbahaya bagi kehidupan di bumi adalah dari awan ke bumi. BMKG melaksanakan monitoring aktivitas sambaran petir di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan lightning detektor di 56 lokasi," tuturnya.

Baca Juga : Api Masih Terus Berkobar dalam Kebakaran Kilang Minyak Balongan

Monitoring itu, tambahnya, dilakukan menggunakan alat Lightning Detector dengan Resolusi alat monitoring BMKG efektif pada radius 300 Km. Alat monitoring ini terpasang di stasiun-stasiun BMKG, dan di Pulau Jawa terdapat 11 stasiun monitoring aktivitas petir dari Banten hingga Jawa Timur.

Baca Juga : Kebakaran Kilang Minyak Balongan Diduga Akibat Kebocoran Tangki

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini