Bom Makassar, KPAI Ingatkan Banyak Informasi Tak Layak Anak di Medsos

Komaruddin Bagja, Sindonews · Senin 29 Maret 2021 05:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 29 337 2385635 bom-makassar-kpai-ingatkan-banyak-informasi-tak-layak-anak-di-medsos-XOGfgsYvUX.jpeg Polisi melakukan olah TKP di lokasi ledakan bom bunuh diri depan Gereja Katedral Makassar. (Foto: Sindonews)

JAKARTA - Bom bunuh diri di Makassar jadi pemberitaan utama sejak kejadiannya, Minggu (28/3/2021) pagi. Berbagai informasi berseliweran dan bisa dibaca anak-anak. Hal itu tentu mengundang mereka bereaksi dengan berbagai pernyataan di media sosial.

Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Jasra Putra menjelaskan, penting bagi orang tua menghindari anak dari informasi yang tidak layak bagi mereka, seperti perdebatan tiada ujung di publik.

"Yang membawa anak dalam perlakuan salah dan mengancam jiwanya seperti dalam saling persekusi, kekerasan gender berbasis online, bahkan menjadi berhadapan hukum Untuk itu orang tua sebagai yang terdekat anak sangat penting mendampingi dan menghadirkan diskusi itu di dalam ruang keluarga," kata Jasra di Jakarta, Senin (29/3/2021).

Apalagi trennya sekarang, lanjut Jasra, anak-anak mempunyai lebih dari satu akun di media sosialnya. Bayangkan bila semua akun itu mengundang reaksi anak. Untuk itu, sejak dini Undang Undang Perlindungan Anak mengingatkan bahwa dalam situasi seperti ini, anak-anak tidak boleh dibiarkan tanpa perlindungan jiwa, sebagaimana dalam Pasal 76H.

Harusnya anak-anak mendapatkan informasi yang layak, yang menempatkan mereka dalam tumbuh kembang yang maksimal.

Baca juga: Komnas HAM Sebut Teror Bom di Gereja Katedral Makassar Perbuatan Biadab

"Membangun edukasi yang lebih dominan pada kepekaan nilai nilai kemanusiaan. Karena kebutuhan mereka yang besar dalam tumbuh kembangnya. Menprasyaratkan kondisi dorongan dan intervensi yang bertujuan baik. Jangan sampai kebutuhan besar itu, dipenuhi reaksi yang berujung mengancam jiwanya," ucap dia.

Seringkali peredaran foto, video, pernyataan, yang tidak layak massif beredar di media sosial, bahkan berita tersebut diproduksi lagi, tidak sesuai realita. Akhirnya menjadikan anak-anak lebih bertumbuh ke arah penyebaran kebencian ke orang lain, bahkan ke teman-temannya sendiri yang ikut menyikapinya.

Baca juga: Terkait Bom Gereja Katedral Makassar, Tim Densus Tangkap 4 Orang di Bima

Jasra mengingatkan, jangan sampai anak-anak digiring dalam konflik tak berkesudahan. Untuk itu berbagai pihak seperti keluarga, sekolah, tempat tempat pembelajaran di masyarakat, serta rumah ibadah, punya tugas menjelaskan kembali secara baik dalam kegiatannya, seperti mengajak anak-anak bersikap tenang, mendoakan para korban, juga mengajarkan nilai-nilai yang dipegang bangsa Indonesia dalam hidup bersama, seperti yang terkandung pada nilai nilai keragaman Pancasila. 

“Bahwa pemerintah kita sedang bekerja dan mengungkap peristiwa. Agar mereka teredukasi dan belajar merespon peristiwa pertistiwa ke depan dengan lebih baik," urai Jasra.

Penting juga anak-anak mengenalkan kata maaf dalam berbagai peristiwa yang mengundang emosi. Karena bila dibiarkan akan menjadi reaksi yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Terutama di media sosial yang bisa menyebabkan terlibat pembicaraan yang cenderung menyesatkan dan dapat merugikan jiwanya.

Jasra juga mengingatkan berbagai pihak, untuk mengambil posisi menenangkan dan mendamaikan berbagai pihak. Agar Indonesia tidak mewarisi trauma kepada generasinya. Agar generasinya tidak diwarisi kebencian kebencian yang diajarkan. Sebaliknya, menumbuhkan kasih sayang yang memang menjadi fitrah dan anugerah dari Sang Pencipta kepada setiap anak, yang dapat mendukung tumbuh dan kembangnya dalam alam Indonesia. 

"Sikap-sikap yang menumbuhkan kepekaan kemanusiaan harus lebih dominan dimunculkan orang tua dibanding sikap lainnya. Guna mengedukasi dalam memutus mata rantai kekerasan," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini