Moeldoko Ngaku Jadi Ketum untuk Selamatkan Demokrat dan Bangsa

Antara, · Minggu 28 Maret 2021 23:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 28 337 2385580 moeldoko-ngaku-jadi-ketum-untuk-selamatkan-demokrat-dan-bangsa-vQ6Sa1ojew.jpg KSP Moeldoko (Foto : istimewa)

JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Moeldoko menyampaikan keputusannya menerima pinangan jadi ketua umum Partai Demokrat, melalui pertemuan di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, 5 Maret, merupakan upaya menyelamatkan partai dan bangsa.

“Ada sebuah situasi khusus dalam perpolitikan nasional, yaitu telah terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenali. Ini menjadi ancaman cita-cita menuju Indonesia Emas 2045. Ada kecenderungan tarikan ideologis juga terlihat di tubuh Demokrat. Jadi, ini bukan sekadar menyelamatkan bangsa dan negara,” kata Moeldoko sebagaimana dikutip dari rekaman video yang ia bagikan lewat akun Instagram pribadinya @dr_moeldoko, yang dipantau di Jakarta, Minggu (28/3/2021).

Baca juga:  Survei Charta Politika: Mayoritas Responden Tak Setuju Moeldoko Jadi Ketum Demokrat

Dalam tayangan berdurasi lebih dari dua menit itu, Moeldoko buka suara mengenai alasannya bergabung sebagai bagian dari Partai Demokrat melalui kongres luar biasa di Sibolangit. Ia mengatakan dirinya telah ditetapkan sebagai ketua umum partai menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono.

“Saya ini orang yang didaulat untuk memimpin Demokrat, dan kekisruhan sudah terjadi. Arah demokrasi sudah bergeser di dalam tubuh Demokrat,” sebut Moeldoko.

Baca juga:  Andi Arief: Pak Moeldoko Sudah Pasang Kuda-Kuda Mau Cuci Tangan

“Untuk itu, semua berujung kepada keputusan saya menerima permintaan untuk memimpin Demokrat,” kata dia menambahkan.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan dirinya tidak perlu meminta izin kepada Presiden Joko Widodo terkait keputusannya menerima tawaran sebagai ketua tandingan Partai Demokrat.

“Terhadap persoalan yang saya yakini benar, dan itu atas otoritas pribadi yang saya miliki, maka saya tidak mau membebani presiden. Saya juga khilaf sebagai manusia biasa tidak memberi tahu istri dan keluarga saya atas keputusan yang saya ambil,” terang Moeldoko.

“Untuk itu, jangan bawa-bawa presiden dalam persoalan ini,” ujar dia menambahkan.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini