Hukuman Mati Era Hindia Belanda, Digantung hingga Ditarik Kereta Kuda

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 28 Maret 2021 07:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 28 337 2385268 hukuman-mati-era-hindia-belanda-digantung-hingga-ditarik-kereta-kuda-7rIPvadpTx.jpg Taman Fatahillah lokasi hukum gantung tempo dulu (foto: Dok Okezone)

Di sebuah tempat yang terletak dikawasan Jacatra Weg (sekarang Jl. Pangeran Jayakarta), tepatnya didekat Gereja Portugis “Sion”, telah terjadi peristiwa hukuman mati untuk seseorang yang dicap sebagai pemberontak oleh pemerintahan Batavia. Kini tempat itu dikenal dengan nama Pecah Kulit.

Peristiwa itu diabadikan dengan sebuah prasasti yang ada hiasan tengkorak yang tertancap pedang. Inilah prasasti Pieter Erbelrveld, seorang campuran Jerman dan Thailand yang membenci orang-orang Belanda.

Hukuman mati itu dilaksanakan di luar tembok Batavia sebelah Selatan. Masing-masing tangan dan kaki Pieter serta pendukungnya diikat pada empat ekor kuda yang dipacu ke empat penjuru mata angin yang berlawanan hingga putus dan anggota tubuhnya terburai.

Baca juga:  Mengungkap Kisah Nestapa Putri Manohara di Relief Candi Borobudur

Pieter Erberveld seorang warga Batavia berdarah Indo-Jerman. Ayahnya merupakan penyamak kulit berdarah Jerman. Sedangkan ibunya berasal dari Negeri Siam. (Historical Sites Of Jakarta; Adolf Heuken).

Sedangkan dalam bukunya Betawi Queen Of East, Alwi Shahab menyebutkan ibu Pieter Erberveld berasal dari Jawa.

Erberveld menikah dengan wanita Siam. Dari perkawinannya itu lahir seorang putera bernama Pieter. Setelah besar ia bernama Pieter Erberveld. Pieter Erberveld menikah dengan wanita Betawi. Ketika ayahnya meninggal, Pieter melanjutkan usaha penyamakan kulit. Ia mempunyai 12 orang buruh. Kepala buruh bernama Ateng Kartadria.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini