Kisah Maria Van de Velde Bunuh Diri di Pulau Onrust Menunggu Kekasih Tak Kembali

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 28 Maret 2021 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 28 337 2385258 kisah-maria-van-de-velde-bunuh-diri-di-pulau-onrust-menunggu-kekasih-tak-kembali-xcM6aNPnCN.jfif Bangunan sejarah di Pulau Onrust (foto: Tourismworldtravel)

JAKARTA - Onrust menurut Bahasa Belanda artinya “tanpa istirahat” atau sibuk atau dalam Bahasa Inggrisnya Unrest. Berdasarkan sejarah, pulau ini, tempat pertama kali VOC mendarat sebelum menaklukkan Jakarta pada abad ke-17.

Penduduk setempat menyebut Pulau Onrust dengan nama pulau Kapal, Pada abad 17-18 pulau ini sering disinggahi kapal-kapal VOC. Selain itu sebagai tempat perbaikan dan pembuatan kapal, sehingga pulau ini sangat sibuk pada masa itu.

Di Pulau Onrust masih dijumpai sejumlah makam warga Belanda. Makam-makam itu terlihat tidak terawat.

Baca juga:  Pertarungan Keris Kiai Sengkelat Versus Kiai Condong Campur Penyebar Pageblug Zaman Majapahit

Di makam itu terdapat kisah yang tragis ditulis pada sebuah batu nisan. Budayawan Betawi Alwi Shahab menceritakan, bahwa pusara itu adalah tempat peristirahatan terakhir seorang gadis cantik bernama Maria Van de Velde. Maria lahir di Amsterdam pada 1693, dan meninggal di Onrust pada 19 November 1721.

Maria mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena menunggu kekasihnya yang tidak kunjung kembali. Menurut cerita penduduk setempat, arwah Maria, pada hari-hari tertentu masih sering gentayangan, mengunjungi pusaranya maupun tempat-tempat tertentu di Pulau Onrust.

 Baca juga: Kisah Pembuatan Keris Nogososro Pakai Bantalan Paha Ki Supo Anom

Sebuah puIsi yang menggambarkan kepiluan dipahat abadi pada pusaranya dalam Bahasa Belanda.

Terjemahannya kurang lebih artinya sebagai berikut :

"Jenazah Maria Van de Velde

Dimakamkan di sini

Yang patut masih dapat hidup

Bertahun-tahun

Seandainya Tuhan berkehendak

Tetapi ternyata, Jehova (Tuhan)

Telah menghalangi dia dengan kematian

Maria telah pergi,

Maria telah tiada!

Tetapi, tidak! Saya tarik kembali kata itu.

Sebagai yang diucapkan tanpa berpikir

Dan itu dapatlah

Karena ketergesa-gesaanku,

langsung dihukum!

Sekarang baru Maria hidup.

Sekarang ia hidup dengan Tuhannya

Lahir di Amsterdam

Pada tanggal 29 Desember 1693

Wafat pada tanggal 19 November

Di Pulau Onrust tahun 1721"

Selain Maria terdapat nama lain yaitu Cornelius Willemse Vogel yang pernah menjadi Baas van Onrust (1695-1738). Baas dalam bahasa belanda adalah Kepala atau pengawas. Istilah Baas inilah diambil alih oleh lidah kita menjadi Boss.

Pulau Onrust pada 1615 sudah dipakai sebagai sentra kapal. Hal yang membuat kagum dunia lantaran kelengkapannya, kecepatannya dan fasilitas kerjanya yang tidak bisa ditemukan di negeri lain. James Cook dalam perjalanan keliling dunia 1775 dengan kapal legendarisnya "Endeavor" pernah mampir untuk menjalani perbaikan.

Nama Onrust berarti "tak pernah berhenti bergerak." Selama hampir 2 abad surga Belanda ini berlangsung sampai pada 1810.

Baca juga:  Kisah Prabu Siliwangi Menikah dengan Nyi Subang Larang Lahirkan Raden Kian Santang

Antara tahun 1803-1810 Pulau Onrust 3 kali digempur oleh Inggris, dan terakhir pada tahun 1810 armada Inggris yang dipimpin oleh Admiral Edward Pellow menghancurkan sarana dan prasarana Pulau Onrust.

Ketika Inggris hengkang pada 1816, maka yang ditinggalkan adalah kehancuran. Sejak itu nama pulau Onrust seperti sudah dilupakan orang.

Pada tahun 1848 mulailah Pulau Onrust dan sekitarnya oleh Belanda difungsikan kembali menjadi pangkalan Angkatan Laut. Namun prasarana ini kembali hancur akibat gelombang tidal (letusan Gunung Krakatau tahun 1883).

Tahun 1827 atas order Van der Capellen, Onrust dicoba dibangkitkan kembali. Tetapi orang sudah mulai melirik tempat lain yaitu Pelaboehan Tanjoeng Priok (1877-1883)

Adalah Toewan Twijsel seorang mantan pegawai Kompeni dari pulau Muntok (Bangka) yang tergolong konglomerat pulau yang menguasai erfpacht (ijin mengeksploitasi pulau).

Dengan sewa yang murah (cuma 8 hari kerja), entoch tender HPP (Hak Penguasaan Pulau), tiap tahun jatuh ke Twijsel. Menurut sinyalemen miring, Twijsel memberikan upeti cukup besar kepada para pembesar kompeni sehingga lelang terbuka atas kepulauan seribu tidak pernah dilakukan, selalu main kontrak dibawah tangan.

Terhadap masalah ini koran Bintang Betawi menulis "Kita berharap gubernemen jangan pilih kasih erfpacht secara bawah tangan kepada toean Twujsel, tetapi sebaiknya di lakukan pelelangan didepan orang banyak, sehingga siapa yang menawar dengan harga tinggi yang memperoleh hak itu."

Harapan itu tidak pernah terwujud, Kompeni lebih senang memberikan hak eksploitasi bernilai 800 gulden per bulan kepada Twijsel yang sekalipun murah tetapi upetinya tinggi.

Onrust tercatat pernah menjadi karantina haji selama 29 tahun (sampai 1940).

Kisah Onrust sebagai karantina dimulai pada awal abad ke-20, ketika terjadi wabah pes di Malang, Jawa Timur, yang semula diduga berasal dari kapal yang membawa jamaah haji dari tanah suci. Ternyata wabah akibat tikus ini berasal dari kapal yang mengangkut beras dari Rangon (kini Yangon ), Birma (kini Myammar).

Tapi, Belanda tetap ingin mengkarantina para jamaah haji sepulang mereka dari tanah suci. Onrust yang dianggap sebagai pulau terpencil dipilih sebagai tempat itu. Selama karantina mereka harus tinggal di pulau ini selama lima hari. Bahkan kadang-kadang lebih lama lagi tergantung kesehatan para jamaah bersangkutan.

Pembangunan karantina Haji Onrust menelan biaya 607 ribu gulden, yaitu sebanyak 35 barak yang dapat menampung 3.500 jamaah haji. Begitu rampung dibangun pada 1911, Onrust langsung digunakan untuk karantina.

Kini di pulau tersebut masih dijumpai sisa-sisa barak yang sudah porak poranda. Yang masih berdiri kokoh hanya sebuah rumah yang dulu digunakan untuk para dokter karantina haji.

Di Onrust ketika itu ada sebuah kapal motor bernama Kapal Onrust yang berlayar dua kali seminggu ke Tanjung Priok. Kapal ini berfungsi untuk mengangkut jenazah jamaah haji yang meninggal di Pulau Sakit (kini pulau Bidadari) dan Pulau Kelor untuk dimakamkan. Kedua pulau yang merupakan satu gugus dengan Onrust dan Cipir ketika itu merupakan hutan belukar.

Para jamaah haji yang meninggal dikuburkan dengan sangat sederhana. Tidak mendapatkan perawatan atau fasilitas seperti orang-orang Belanda yang meninggal di pulau Onrust.

Jenazah-jenazah para haji dimakamkan di sembarang tempat dan sama sekali tidak memperhitungkan arah kiblat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini