Share

Teka-teki Ramalan Jayabaya Tanah Jawa Berkalung Besi & Bumi Makin Menyusut

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 27 Maret 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 27 337 2384813 teka-teki-ramalan-jayabaya-tanah-jawa-berkalung-besi-bumi-makin-menyusut-IqGZzJVKgT.jpg Ilustrasi (Foto: istimewa)

JAKARTA - Jayabaya adalah seorang cenayang. Masyarakat Jawa mengatakan sosok Jayabaya mempunyai kawaskitan. Dia juga mempunyai aji penerawangan ke depan terhadap sesuatu. Dalam ilmu batin dapat menerawang kejadian di masa depan.

P.N.A Masud Thoyib Adiningrat, Pengageng Kedaton Nusantara, menceritakan bahwa Prabu Jayabaya raja Kediri bertemu pendeta dari Rum yang sangat sakti, Maulana Ali Samsuyen.

"Ia pandai meramal serta tahu akan hal yang belum terjadi. Jayabaya lalu berguru padanya, sang pendeta menerangkan berbagai ramalan yang tersebut dalam kitab Musaror dan menceritakan tentang orang sebanyak 12 ribu keluarga oleh utusan Sultan Galbah di Rum," ungkapnya, Sabtu (27/3/2021).

Baca juga: Ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito, dari Bencana sampai Pertentangan Anak Bangsa

Orang itu lalu ditempatkan di Pegunungan Kendeng, bekerja membuka hutan tetapi banyak yang mati karena gangguan makhluk halus dan jin. Pada tahun rum 437, lalu Sultan Rum memerintahkan lagi orang di Pulau Jawa dan kepulauan lainnya dengan mengambil orang dari India, Kandi, dan Siam.

Sejak penanaman orang-orang ini sampai hari kiamat kubro terhitung 210 tahun matahari lamanya atau 2.163 tahun.

Beberapa hari kemudian Jayabaya menulis ramalan Pulau Jawa sejak ditanami yang keduakalinya hingga kiamat, lamanya 2.100 tahun matahari. Ramalannya menjadi Tritakali.

Kisah lainnya, ramalan yang ditulis Jayabaya itu disetujui oleh pendeta Ali Samsujen, kemudian sang pendeta pulang ke negerinya, diantar oleh Jayabaya dan putera mahkotanya, Jaya-amijaya di Pagedongan. Sampai di perbatasan, Jayabaya diiringi oleh puteranya pergi ke Gunung Padang, disambut oleh Ajar Subrata dan diterima di sanggar semadinya.

Sang Anjar hendak menguji sang Prabu yang terkenal sebagai pejelmaan Batara Wisnu, maka ia memberi isyarat kepada endang-nya (pelayan wanita muda) agar menghidangkan suguhan yang terdiri dari Kunir (kunyit) satu akar, Juadah satu takir (mangkok dibuat dari daun pisang), Geti (biji wijen bergula) satu takir, Kajar (senthe sebangsa ubi rasanya pahit memabokkan satu batang), Bawang putih satu takir, Kembang melati satu takir, dan Kembang seruni (serunai; tluki) satu takir.

Anjar Subrata menyerahkan hidangan itu kepada sang prabu. Seketika Prabu Jayabaya menjadi murka dan menghunus kerisnya, sang Anjar ditikamnya hingga mati, jenazahnya moksa hilang. Embannya yang hendak lari pun ditikamnya pula dan mati seketika.

Anaknya bingung kenapa orang itu harus dibunuh. Dia mengatakan hanya bisa diterangkan di rumah. Akhirnya mereka masuk ke sanggar persemedian, baru Jayabaya cerita tentang ramalan zaman-zaman yang dilihatnya.

"Itulah yang kemudian menjadi ramalan Jayabaya,"ucapnya.

Banyak versi tentang ramalan Jayabaya yang menyangkut banyak hal. Ramalan itu misalnya, besok jika ada kereta berjalan tanpa kuda (mobil, kereta api), Tanah Jawa berkalung besi (Rel Kereta api). Perahu terbang di atas angkasa (pesawat terbang, pesawat luar angkasa), sungai pada hilang danaunya/sumbernya (sungai buatan).

"Itulah pertanda jaman Jayabaya sudah dekat,"ucapnya.

Kemudian, banyak Hujan tidak tepat /sesuai musimnya. Banyak perawan tua (selain banyak perawan tua, juga banyak wanita yang kawin usia tua).Banyak janda hamil ( janda hamil tanpa suami). Banyak bayi bertanya siapa bapaknya (hamil di luar nikah). Agama banyak ditentang, rasa kemanusiaan makin hilang .

Orang laki-laki merendahkan derajatnya sendiri. Bumi semakin menyusut/mengecil (dunia semakin tak ada batasan ruang dan waktu berkat teknologi modern seperti transpotasi, komunikasi).

Setiap jengkal tanah dipajak (apa-apa sekarang dipajakin). Kuda doyan sambal (tukang becak, ojek doyan sambel). Kemudian, kereta beroda empat terpotong (roda kereta api). Perempuan berpakaian laki-laki (cewek pakai pakaian cowok, celana panjang) dan lainnya.

"Itu pertanda akan menemui jaman yang serba terbalik (banyak salah kejadian). Banyak manusia mengutamakan harta, lupa rasa kemanusiaan. Banyak ibu melupakan anak, banyak anak berani sama ibunya," tandasnya

(fkh)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini