Penggambaran Kepala Raksasa Perwira Belanda di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Karya Raden Saleh

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 23 Maret 2021 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 23 337 2382326 penggambaran-kepala-raksasa-perwira-belanda-di-lukisan-penangkapan-pangeran-diponegoro-karya-raden-saleh-RcTtuyeCU4.jpg Lukisan Raden Saleh berjudul 'Penangkapan Pangeran Diponegoro'. (Foto: Wikimedia Commons/Istana Negara)

DALAM lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”, Raden Saleh memasukkan sosok dirinya dalam barisan pengiring Pangeran Diponegoro, seakan nyata dan hadir saat peristiwa penangkapan tersebut.

Werner Krauss, penulis buku ‘Raden Saleh: Awal Mula Senirupa Modern Indonesia’, menyatakan bahwa gagasan Raden Saleh meletakkan figur dirinya di antara kerumunan pasukan Diponegoro dalam lukisannya, sebagai simbol perlawanannya kepada Belanda.

“Raden Saleh menempatkan dirinya sebagai pengikut Diponegoro. Serasa Raden Saleh merasakan deritanya dan ikut bersatu bersama perjuangannya,” tulis sejarawan Gothe Universitat itu.

Baca juga: Raden Saleh Dirikan Masjid di Jerman dan Rumahnya Jadi Rumah Sakit

Pada sisi kanan lukisan tersebut terdapat sosok berkumis tebal yang berdiri di antara barisan pengikut Diponegoro. Lelaki itu mengenakan busana priyayi Jawa. Berbelangkon batik dan memakai sikepan (jas ala Belanda), berwarna hijau muda lengkap dengan hiasannya. Pandangannya pada tokoh dalam lukisan yaitu Pangeran Diponegoro. Ia adalah pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman.

Ia menyelesaikan lukisan tentang babak akhir Perang Jawa, pada 1857. Penangkapan Diponegoro terjadi pada 20 Maret 1830, di Wisma Residen Kedu, Magelang. Pada tahun peristiwa tersebut, Raden Saleh masih berusia empat belas tahun dan tinggal di daerah Jawa Barat. 

Lukisan Raden Saleh dengan penuh keberanian menunjukkan kejantanan Pangeran Diponegoro sebagai pemenang yang bermoral, saat pangeran ini oleh Belanda dikelabui di Magelang.

Raden Saleh melukiskan Diponegoro dengan muka menantang saat ia ditangkap. Pamannya sendiri, Kanjeng Terboyo dan putranya diasingkan Belanda di kapal 'Pollux' karena dicurigai bersimpati pada Diponegoro. 

Baca juga: Sejarah Ragunan, Kebun Binatang Pertama di Indonesia yang Diinisiasi Raden Saleh

Sedang sejarawan Peter Carey berpendapat, seorang Arab-Jawa dari keluarga yang berasal dari Surat (India barat), Raden Saleh Syarif Bustaman (sekitar 1811–1880), membuat lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro. 

Dengan judul dalam bahasa Jerman “Ein historisches Tableau, die Gefangennahme des Javanischen Häuptlings Diepo Negoro” (Suatu lukisan cat minyak, bersejarah, penangkapan pemimpin Jawa Diponegoro), yang diselesaikan di studio Raden Saleh di Cikini (sekarang RS Cikini) awal tahun 1857. Lukisan kemudian diserahkan kepada Raja Belanda, Willem III (bertakhta 1849–1890), dengan sikap aneh yang bermakna ganda, memperlihatkan emosi yang luar biasa.

Raden Saleh. Foto: Wikimedia Commons

Seorang Diponegoro yang jelas tampak berang berdiri tegak di bagian tengah lukisan, baru saja menaiki tangga Wisma Residen. Dengan berusaha keras mengendalikan gejolak hatinya, tatapannya sarat dengan tekad membara.

"Tangan kirinya terkepal melintang di pinggang, ia merentangkan tangan kanannya untuk menghibur seorang perempuan Jawa yang menangis—mungkin istrinya, Raden Ayu Retnoningsih," ucap Carey.

Suatu hasil kebebasan mencipta—yang dengan penuh kepedihan merengkuh kakinya. Seperti digambarkan oleh Kraus (2005:285–6), dengan sangat hidup, wajah De Kock dan perwira Belanda lain tampak kosong seolah-olah menatap ke kejauhan. 

Sementara dalam karya Pieneman (pelukis Belanda), Diponegoro dilukis berdiri satu anak tangga lebih rendah daripada panglima tinggi Belanda yang sedang berjaya.

"Saleh melukis Diponegoro di tingkat yang setara, tapi ke sebelah kanan sang jenderal sehingga meletakkan orang Belanda itu di tempat perempuan yang lebih lemah menurut tradisi Jawa. Alih-alih memperlihatkan Pangeran itu digiring keluar dari negerinya, pemimpin Perang Jawa itu seperti ‘dipersilakan’ oleh De Kock yang tampak agak tak berdaya untuk naik ke atas kereta yang menunggu,” ujarnya.

Kereta itu juga memperlihatkan kerapuhan dalam gambar Saleh: ujung cambuk yang dipegang kusir patah, sedangkan kendalinya dibuat dari benang atau tali halus saja. “Kendali mulut kuda sehalus itu tidak akan kuat” menurut ahli seni lukis, I Ketut Winaya (2007:117), “sekali sentak tentu akan putus: inilah nilai simbolis, bahwa cambuk penjajahan, penyiksaan dan penindasan rakyat akan patah,” ujarnya.

Yang paling penting, gambar kepala para perwira utama Belanda sedikit kelewat batas, terlalu besar dibandingkan badan, sedangkan gambar kepala orang Jawa yang sedang berduka, yang menyaksikan penangkapan itu, tampak wajar-wajar saja.

"Ini bukan kesalahan, melainkan suatu pesan: kepala para perwira Belanda itu adalah khas milik pararaksasa," ungkapnya.

Perbedaan pokok, begitu menurut Kraus, terletak pada perspektif yang dipilih oleh masing-masing Pieneman dan Saleh untuk melukis peristiwa itu.

Sementara seniman Belanda itu melukiskan karyanya dari sebelah barat-laut, Saleh, yang sudah kenal gambar Pieneman pada waktu dia di Nederland (1830-1839), mengambil timur-laut sebagai titik tolaknya dan menampilkan dirinya di tengah potret dengan seragam yang khas sampai tiga kali. 

Dalam kata-kata Kraus,"Si orang Belanda, Pieneman, menghadirkan angin kencang dari sebelah barat—kebiasaan di Belanda—yang membuat bendera Belanda tampak sangat dinamis,” ujarnya. 

Dalam karya Raden Saleh suasananya betul-betul tenang. Semesta menahan napas, tiada daun apalagi bendera yang bergerak. Sesungguhnya, Raden Saleh sama sekali telah ‘melupakan’ bendera triwarna Belanda itu dan deritanya, suatu hari akan—begitulah Saleh layaknya memberitahu kita—membebaskan bangsanya dari cengkeraman kolonialisme (Kraus 2005:278).

Seolah-olah seperti jawaban, alam sendiri akan memamerkan kuasa yang menakutkan sebagai imbangan bagi peristiwa mencekam pada pagi bersejarah di Magelang itu, kota garnisun yang namanya dalam bahasa Jawa kromo inggil berarti “degil” atau “kepala batu” (Gericke dan Roorda 1901, II:521).

Di awal siang hari itu, tatkala para komandan pasukan gerak-cepat Belanda sedang dalam perjalanan kembali ke pos masing-masing di Bagelen dan Kulon Progo, tumpahlah hujan lebat yang melanda pedalaman Jawa tengah-selatan yang menghanyutkan kuda tunggangan wakil komandan Kolonel Cleerens, Kapten Bavius Gijsbertus Rinia van Nauta (1787-1860). 

Ia berusaha menyeberangi sungai berair dangkal dalam perjalanannya kembali ke Kedung Kebo (pasca-1832, Purworejo). Begitulah Perang Jawa berakhir sebagaimana dimulai dengan awan badai angin musim barat. 

Tidak ada perempuan dalam rombongan Diponegoro pada saat penahanannya. Mengingat De Kock dibuat berada di sebelah kiri pangeran, Saleh barangkali menyiratkan bahwa jenderal itu patut dilihat sebagai seorang raksasa perempuan, suatu sosok raksasa yang menakutkan.

Saleh juga menampilkan sosok Kolonel (Jan Baptist) Cleemens, perwira yang mengkhianati Diponegoro, di pilar paling kiri pendapa, walaupun Cleerens tidak hadir di Magelang waktu penangkapan. (Dari buku Kuasa Ramalan, Peter Carey).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini