Bung Karno dan Hatta Pernah "Rapat Gelap" di Laweyan Solo

Doddy Handoko , Okezone · Senin 22 Maret 2021 09:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 22 337 2381738 bung-karno-dan-hatta-pernah-rapat-gelap-di-laweyan-solo-SuyfbGvhL2.jpg Kampung Laweyan Solo (foto: Dok Wonderful Solo)

JAKARTA - Memasuki Kampung Laweyan Solo, Jawa Tengah seakan memasuki kota lama dengan pemandangan arsitektur lama yang masih kokoh berdiri. Banyak rumah-rumah di Laweyan yang dibangun dengan sentuhan arsitektur Eropa yang megah dan kokoh.

Rumah-rumah tersebut merupakan kediaman para saudagar batik pada jaman dahulu. Kekayaan mereka bahkan melampaui para bangsawan, sehingga tidak heran mereka bisa membangun istana mereka sendiri.

Baca juga: Tampung 12 Ribu Jamaah, Masjid Hibah dari UEA Senilai Rp5,7 Triliun Siap Dibangun di Solo

Selain rumah-rumah kuno milik para saudagar, banyak situs bersejarah yang ada di kampung Laweyan, seperti Museum Samanhudi. Samanhudi adalah salah satu tokoh pergerakan nasional. Tidak hanya menikmati sejarah dan kecantikan bangunannya saja.

Laweyan tidak hanya tempat belanja batik, tetapi sudah menjadi satu paket tempat wisata budaya di Solo. Maka di sana banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang asyik memilih batik atau sedang belajar membuat batik dari sang ahli.

Baca juga:  Kontroversi Supersemar: Bung Karno Terancam Baku Tembak Ajudan dengan 2 Jenderal

Saat memasuki kampung Laweyan, suasana seperti jaman dulu. Bangunan-bangunan kuno berarsitektur Eropa: megah, kokoh, bertembok tinggi, serta memiliki lorong-lorong panjang.

Pada masa penjajahan, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak leluasa dilakukan.

"Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi," kata warga Laweyan, Fadoli.

Sebelum batik cap hadir pada awal 1970-an, usaha batik sangat maju. Banyak saudagar kaya, yang mempekerjakan setidaknya 100 orang setiap rumah. Selain para buruh, kehadiran batik cap juga memukul usaha-usaha pemintalan benang yang dikelola perorangan, juga sentra industri lurik di Pedan, Klaten.

Namun semua gulung tikar. Orang juga tak mau lagi menjalankan usaha pembuatan benang dari kapas karena kalah murah dengan barang-barang keluaran pabrik modern. Padahal, dulu banyak orang menanam kapas di sepanjang tepian sungai. Namun itu masa lalu, sekarang degup jantung batik Laweyan mulai berdenyut kencang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini