Raden Saleh Dirikan Masjid di Jerman dan Rumahnya Jadi Rumah Sakit

Doddy Handoko , Okezone · Senin 22 Maret 2021 06:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 22 337 2381686 raden-saleh-dirikan-masjid-di-jerman-dan-rumahnya-jadi-rumah-sakit-krVcNxZ9mI.jpg Raden Saleh. (Wikimedia Commons/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)

PELUKIS Raden Saleh Syarif Bustaman wafat dan dimakamkan di Bogor. Ketika tutup usia April 1880, lokasi kediamannya di Jalan Juanda, Bogor kini menjadi gedung Direktorat Jenderal Pajak Kota Bogor.

Dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Raden Saleh mendapat "Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia" pada tahun 1969.

R Saleh Syarif Bustaman, putra Sayid Husein bin Yahya, dilahirkan di Semarang (1811). Sebagai cicit Sayid Abdullah Bustam dan putra Sayid Husein bin Yahya, Raden Saleh selama di Maxem, Jerman, mendirikan sebuah musala bertuliskan basmalah dalam bahasa Jerman dan Jawa.

Baca juga: Kisah Laskar Mataram Bangun Masjid di Betawi

"Salah satu peninggalannya adalah sebuah masjid berukuran 5x5 meter, yang dikenal dengan 'masjid biru', mengacu pada warna langit-langit hotel. Terletak di salah satu bukit yang rimbun, masjid berukuran 5x5 meter ini direnovasi pada 1998 untuk memperingati 150 tahun pembangunannya," kata Irwan H, penggiat sejarah yang tinggal di Jakarta. 

Setelah cerai dengan istri pertamanya, ia kemudian menikahi wanita muslimah keturunan ningrat. Di dekat kediamannya itu, pada 1860, ia membangun surau. Setelah beberapa kali tergusur, surau tersebut kini berada di tepi Kali Ciliwung, di Jalan Raden Saleh yang dikenal dengan nama Masjid Cikini yang dapat menampung 1.000 jamaah.

Baca juga: Kisah Pakubuwono VI Ditembak Belanda dan Penyelamatan Permaisuri di Ndalem Kemasan

Selain sebuah masjid mungil, kenangan R Saleh lainnya terhadap Jerman adalah kediamannya yang kini menjadi RS Dewan Gereja Indonesia Cikini, Jakarta Pusat. Di kediamannya yang sangat luas, ia membangun 'istana' dengan meniru gaya Istana di Coburg, Jerman.

"Memasuki Rumah Sakit DGI 'Cikini', Jakarta Pusat, melalui pintu gerbangnya di Jl Raden Saleh terdapat sebuah gedung besar seperti layaknya sebuah istana. Gedung berlantai dua yang sebagian temboknya bercat putih, merupakan barang langka di Ibu kota. Gedung tersebut bekas kediaman pelukis Raden Saleh (1811-1880),"ungkapnya.

Gedung yang jadi tempat para pemimpin RS DGI Cikini ini, adalah tiruan dari satu istana kecil di Jerman, yakni Istana Callenburg yang sering dikunjungi Raden Saleh.

Ternyata Raden Saleh bukan hanya pelukis kondang tapi juga seorang arsitek handal. Ia merancang gedung ini untuk tempat tinggalnya.

"Tempat kediamannya itu kini menjadi asrama perawat RS DGI Cikini. Kediaman R Saleh terbentang dari TIM, dua bioskop (Garden Hall dan Podium), kolam renang, SLTP I Cikini, hingga ke RS DGI Cikini. Sebelum dipindahkan gubernur Ali Sadikin ke Ragunan pada 1967, kebon binatang di Jakarta terletak di kediaman R Saleh,"paparnya.

Ketika pindah ke Bogor, pelukis ini menjual rumah beserta tanahnya pada Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, pemilik gedung Museum Tekstil di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Ketika kemudian rumah dan tanah itu dijual pada Koningen Emma Ziekerhuis (Yayasan Ratu Emma) dengan harga 100 ribu gulden, pada 1897, R Saleh sudah meninggal dunia.

Mengetahui rumah dan tanah itu akan dijadikan rumah sakit, Abdullah Alatas memotong harga penjualan jadi 50 ribu gulden, sembari menegaskan bahwa masjid bukan bagian yang dijual dan tidak boleh dibongkar. Pada tahun 1991, masjid ini memperoleh sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional.

Menurut Hamid Algadri dalam buku 'Politik Kolonial Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab’, Raden Saleh mulai diasuh oleh pamannya Kanjeng Terboyo Bustaman, menantu Pangeran Ario Amangkurat I.

Kemudian sejak usia 7 tahun ia diasuh seorang Belanda, Baron van den Capellen atas usaha pemerintah Belanda. Kesediaan Belanda untuk mendidik Raden Saleh pada hakikatnya dalam rangka politik penjajahan, yakni agar pemuda ini dapat dihindarkan dari pengaruh pamannya Sosrohadimenggala, cucu Sayid Abdullah Bustam alias Kiai Bustam, yang oleh Belanda dianggap pro Pangeran Diponegoro dalam Perang Kemerdekaan di Jawa (1825-1830).

Raden Saleh pada 1829 dikirim ke Belanda, di samping untuk melukis juga akan dijadikan pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Pada 1839 setelah 10 tahun di negeri Kincir Angin, ia minta agar diberi kesempatan melakukan perjalanan keliling Eropa sebelum kembali ke Indonesia.

Ia berkelana dengan kapal menyusuri Sungai Rhein hingga ke Dusseldorf. Untuk kemudian mendatangi berbagai tempat di Jerman dan Eropa.

Dalam buku Napas Tilas Hubungan Jerman-Indonesia, Raden Saleh dilukiskan sebagai penyayang binatang. Dengan postur tubuhnya yang kecil, dia dikenal sebagai pengendara kuda yang handal dan pemancing ikan yang kreatif.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini