Kisah Laskar Mataram Bangun Masjid di Betawi

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 21 Maret 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 21 337 2381319 kisah-laskar-mataram-bangun-masjid-di-betawi-Ksk6GcsOgG.jpg Ilustrasi masjid (Foto: unsplash)

JEJAK–jejak pasukan Mataram selain di situs pertempuran juga dapat dilihat di sebuah Masjid di Marunda dan Tanah Abang. Ternyata di antara panglima-panglima perang Mataram, di samping prajurit-prajuruti yang gagah, juga merupakan juru dakwah yang andal.

Mereka inilah yang membangun surau-surau di Jakarta, yang kelak menjadi masjid-masjid tua yang hingga kini dilestarikan keberadaannya.

"Ketika 80 ribu prajurit Mataram dua kali gagal menyerang Jakarta, mereka banyak yang menetap dan menyebar di berbagai tempat. Rupanya, semangat keagamaan para tumenggung Mataram ini tidak pernah surut," ujar Yahya Saputra, budayawan Betawi.

Baca Juga: Kisah Pembunuhan Sultan Yogya Ditusuk Selir Kesayangan

Sejarawan Belanda, Dr F de Haan, membenarkan bahwa Kampung Marunda di Cilincing pernah dijadikan sebagai salah satu markas pasukan Mataram saat hendak memasuki Batavia .

Di tepi pantai Marunda ini, pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso membangun sebuah masjid. Di samping tempat ibadah, Masjid Al-Alam dijadikan tempat menggembleng semangat para prajurit, sekaligus tempat mengatur serangan.

Masjid di pantai Marunda yang dahulunya merupakan surau, hingga kini masih terlihat kekunoannya sekalipun telah beberapa kali dipugar. Pada masa revolusi fisik (1945), dari masjid ini kembali dikumandangkan semangat jihad fisabillah oleh para ulama dan pejuang. Daerah Marunda bahkan sangat dibanggakan dalam perjuangan melawan Belanda.

Baca Juga: Kisah Pembunuhan Raja Majapahit, Dibunuh Ra Tanca, Didalangi Gajah Mada?

Di antara masjid yang dibangun oleh para pangeran dari Kerajaan Islam Mataram ini terdapat pula Masjid Al-Mansyur di Kampung Sawah, Kelurahan Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini dibangun pada 1717 oleh Abdul Mihit, putra Pangeran Cakrajaya, sepupu Tumenggung Mataram.

"Keberangkatannya dari Mataram ke Batavia dalam rangka membantu rakyat untuk menentang penjajahan Belanda. Di masjid inilah keturunan bangsawan dari Mataram melakukan pembinaan mental dengan menekankan semangat menentang penjajahan," ucap Yahya.

Baca Juga: Kisah Pengambilan Keris, Muncul Naga Siluman Sebesar Kelapa

Pada tahun 1947/1948 masjid ini pernah ditembaki dan digerebek tentara NICA (Belanda). Selain itu, pimpinan masjid, KH Mohamad Mansyur, dengan berani mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih di puncak menaranya.

Ulama pejuang ini kemudian digiring ke hoofbureu atau markas polisi kolonial. Untuk menghormati ulama pejuang ini, maka masjid itu dinamakan 'Masjid Jami Al-Mansyur.'

Masjid lainnya yang dibangun oleh para bangsawan Kesultanan Mataram adalah Masjid Al-Makmur, yang letaknya sekitar 100 meter dari Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat yang sampai kini tetap hiruk-pikuk.

Masjid yang cukup megah dan dapat menampung sekitar 3.000 jamaah ini, merupakan masjid tertua di kawasan Tanah Abang, yang penduduknya dikenal taat beribadah. Awalnya, masjid tersebut hanyalah sebuah surau yang sangat sederhana, luasnya hanya 12X8 meter. Baru diperluas menjadi masjid pada 1760.

Yang membuat tempat beribadah ini sangat bersejarah bagi ibu kota, karena dibangun oleh kedua putra Raden Karto Busyo, yang dikenal dengan nama KH Muhammad Asyuro, seorang bangsawan Mataram. Kedua putranya adalah KH Abdul Sumod Asyuro dan KH Murad Asyuro.

Menurut berbagai keterangan, kedua kakak beradik yang juga merupakan juru dakwah yang andal ini, membangun surau itu pada tahun 1527 atau 929 Hijriah, tatkala berkembangnya agama Islam di Jakarta. "Saat itu, bersamaan pula dengan bergabungnya tentara Islam dari Kerajaan Demak dipimpin oleh Fatahillah yang menyerbu Sunda Kelapa dan mengusir tentara Portugis," paparnya.

Dalam perkembangannya, Masjid Al-Makmur pernah dipimpin oleh seorang guru agama terkemuka, KH Abdul Halim Zaini, dengan pengurusnya KH Abdul Sumod Asyuro.

Pada 1910, pengurus masjid menerima tanah yang diwakafkan oleh Sayid Abubakar bin Muhammad Alhabsji dan Syeikh Abubakar bin Salim Sungkar untuk perluasan. Setelah perluasan, masjid ini menjadi 44X22 meter.

Masjid yang menjadi kebanggaan warga Tanah Abang ini pernah dikelola oleh almarhum Ustaz Zainal Abidin Alhabsji, seorang pengajar perguruan Islam 'Jamiatul Kheir', yang letaknya tidak berjauahan dari Masjid Al-Makmur.

Konon, kata Tanah Abang berasal dari tentara Mataram saat menyerbu ke Batavia. Mereka tidak hanya menyerang ibu kota dari laut di utara, tapi juga dari selatan.

"Tanah Abang, yang kala itu merupakan tanah bukit dan rawa-rawa dan dikelilingi kali Krukut, oleh bala tentara Islam Mataram dijadikan sebagai salah satu basis. Karena tanahnya bewarna merah (abang dalam bahasa Jawa), mereka pun menamakan Tanah Abang (tanah merah)," ujarnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini