Dampak Mutasi Covid-19, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Sebut Alat Tes PCR Tidak Berfungsi

Binti Mufarida, Sindonews · Sabtu 20 Maret 2021 11:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 20 337 2381065 dampak-mutasi-covid-19-mantan-direktur-who-asia-tenggara-sebut-alat-tes-pcr-tidak-berfungsi-6keNJvGbJ9.jpg Tjandra Yoga (Foto: Twitter)

JAKARTA - Mantan Direktur World Health Organization (WHO) Asia Tenggara kini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama mengatakan dampak mutasi Covid-19 salah satunya adalah alat tes polymerase chain reaction (PCR) tidak berfungsi. Padahal, PCR menjadi salah satu alat untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi Covid-19.

Tjandra yang juga mantan Direktur Jenderal P2P sekaligus Kepala Balitbangkes Kemenkes ini mengatakan, jika alat PCR tidak berfungsi untuk mendeteksi varian baru Covid-19 ini terjadi di beberapa negara di antaranya Perancis dan Finlandia.

“Pada 15 Maret 2021 Menteri Kesehatan Perancis mengumumkan penemuan varian terbaru virus penyebab Covid-19 sesudah melakukan pemeriksaan sekuens genomik pada suatu klaster infeksi di rumah sakit di kota Lannion. Ada 8 pasien Covid-19 di sana yang terbukti membawa varian terbaru ini, yang sementara ini mereka beri nama le variant breton,” kata Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (20/3/2021).

Namun, kata Tjandra, ketika dilakukan tes dengan PCR ternyata negatif. Padahal saat dilakukan pemeriksaan mendalam ditemukan varian virus baru ini. “Yang perlu dapat perhatian adalah bahwa kasus-kasus ini ternyata memberi hasil negatif waktu di tes dengan PCR test yang biasa kita pakai untuk memastikan seseorang sakit atau tidak," lanjut dia.

Baca juga: Menkes Budi: Mutasi N439K Tidak Masuk Klasifikasi Prioritas WHO

“Untuk kasus-kasus di Perancis ini mereka baru dipastikan sakit sesudah dilakukan pemeriksaan mendalam darah dan bahkan jaringan paru-paru nya, suatu pemeriksaan yang amat tidak mudah dilakukan,” ungkap Tjandra.

Baca juga: Kemenkes: Kemanjuran Vaksin AstraZeneca Melebihi Standar WHO

Selain di Perancis, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu juga mengungkapkan hal yang sama terjadi di Finlandia. Di mana pemerintah Finlandia melaporkan mutasi Covid-19 bernama Fin-796H. Varian mutasi ini juga tidak bisa terdeteksi dengan menggunakan PCR.

“Pada pertengahan Februari 2021 Finlandia melaporkan mutasi varian 'Fin-796H' yang mereka temukan di “Helsinki-based Vita Laboratories”, yang virusnya tidak bisa terdeteksi dengan salah satu pemeriksaan PCR yang mereka biasa gunakan. Memang data dari Finlandia belum terlalu konklusif,” jelas Tjandra.

Tjandra menegaskan, saat ini pemerintah harus siap menghadapi tantangan baru seperti alat PCR yang tidak bisa mendeteksi mutasi Covid-19 ini.

“Tentu kita belum tahu bagaimana perkembangan mutasi 'le variant breton' ini selanjutnya, tetapi kalau memang nantinya keampuhan tes PCR jadi benar-benar terganggu maka tentu dunia akan menghadapi babak baru dan tantangan cukup berat untuk mendiagnosis Covid-19,” ujarnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini