Tingkatkan Deteksi Mutasi Baru, Satgas Covid-19: 566 Sqeuences Ditemukan

Binti Mufarida, Sindonews · Sabtu 20 Maret 2021 09:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 20 337 2381025 tingkatkan-deteksi-mutasi-baru-satgas-covid-19-566-sqeuences-ditemukan-0tYTdDGPjs.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah terus melakukan berbagai upaya dalam menindaklanjuti adanya penemuan varian virus B117 mulai dari penelusuran kontak erat oleh tim surveilans dan pemerintah daerah setempat.

Pemerintah juga melakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel kontak erat, dengan pengambilan serum kepada suspek untuk mendeteksi varian pada antibodinya.

Selain itu, juga melakukan sequencing gen melalui metode Whole Genome Sequencing (WGS), pada sampel positif PCR yang memenuhi kriteria lab di daerah kasus varian, dan peningkatan kewaspadaan di perbatasan.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, kegiatan WGS surveilans genomik untuk mendeteksi strain virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19. Pihaknya memperluas kolaborasi laboratorium pelacakan sequences khususnya pada daerah ditemukan varian baru, dan memasifkan proses subsmission atau pemasukan data spesimen ke GISAID.

Baca juga: Gawat! Pasien Covid-19 B117 Kota Bogor Lolos Screening dan Pergi ke Afrika

Saat ini, kata Wiku, sudah dikumpulkan 566 sqeuences dengan 533 adalah sequences lengkap hasil temuan dari kolaborasi 15 lab seluruh Indonesia.

Baca juga: Terdeteksi di Indonesia, Ini Perbedaan Virus Corona B117 dengan N439K

“Sample yang diuji secara khusus ini diambil dari sampel pelaku perjalanan luar negeri, dan kasus luar biasa yang ditemukan puskemas ataupun rumah sakit,” katanya dalam keterangannya.

Selain itu, WHO sedang mengembangkan teknologi WGS terkini yaitu meta genomik Sequencing, untuk menghasilka identifikasi pelacakan dalam hitungan jam atau hari. “Dan teknologi ini mampu menggambarkan karakteristik patogen baru tersebut,” lanjut Wiku.

GISAID mengumpulkan data dunia dari laporan masing-masing negara, sehingga kekayaan data GISAID pun bergantung pada tingginya intensitas pelaporan WGS dari tiap negara. Dengan tekonologi interface analisis internal, maka dapat diketahui jenis mutasi dari sequence yang dilaporkan. Proses inilah yang dapat menelusuri persebaran kemunculan mutasi dan mutasi DNA varian yang dihasilkan.

Hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kesiapan secara global dalam menyusun kebijakan dalam membendung semakin menjamurnya mutasi, amupun mencegah imported cases masuk ke suatu negara. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan dan Bekerjasama kemenristek BRIN telah mengembangkan surveilans genomik. Sequencing genomik yang dilakukan semakin meningkat.

“Tujuannya membantu para peneliti memahami bagaimana virus Covid-19 berubah atau bermutasi, berevolusi penyebarannya selama epidemi, terjadi peningkatan mendadak kasus di suatu daerah ataupun pandemi di penyebaran besar di lintas negara,” ungkap Wiku.

Wiku menegaskan sebaik apapun WGS dan upaya testing serta tracing yang dilakukan pemerintah, menjadi tidak berarti apabila masyarakat masih memberikan peluang bagi virus memperbanyak diri dengan tidak disiplin terhadap protokol kesehatan.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini