Kisah Pembunuhan Sultan Yogya Ditusuk Selir Kesayangan

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 20 Maret 2021 07:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 20 337 2380992 kisah-pembunuhan-sultan-yogya-ditusuk-selir-kesayangan-qFF8pvUQyx.jpg Sultan Hamengkubuwono V (Foto: Wikipedia)

PADA 5 Juni 1855, Sultan Hamengkubuwono (HB) V, ditemukan tewas di ruangan istana keraton Yogyakarta. Pembunuh Sultan ternyata selir sendiri, istri ke-5 yang paling disayang, yaitu Kanjeng Mas Hemawati.

HB V dinobatkan sebagai Raja Yogyakarta ketika umurnya baru menginjak 3 tahun. Takhtanya dikuasai dulu oleh pendahulunya, Hamengkubuwono II (1750-1828), atas campur tangan dan kepentingan Belanda.

Ia naik singgasana lagi setelah HB II wafat pada awal tahun 1828. Kekuasaan HB V kehilangan banyak dukungan dari internal keraton maupun sebagian rakyat Yogyakarta.

Baca Juga:  Kisah Pembunuhan Raja Majapahit, Dibunuh Ra Tanca, Didalangi Gajah Mada?

HB V nama aslinya Gusti Raden Mas Gathot Menol yang kemudian bergelar Pangeran Mangkubumi, anak keenam sekaligus putra mahkota Sultan Hamengkubuwono IV dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Kencono, yang lahir pada 24 Januari 1820 di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Demikian tulis M.C. Ricklefs. 1991. dalam buku Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres. 

G. Moedjanto dalam buku "Kasultanan Yogyakarta & Kadipaten Pakualam: Tinjauan Historis Dua Praja Kejawen", 1994:18 , menuliskan, kekuasaan Sultan HB IV berlangsung singkat, ihwal kematiannya juga masih menyisakan misteri. Diduga, mangkatnya sang raja yang belum mencapai usia 20 tahun itu karena diracun.

Baca Juga:  Pandemi Covid-19, Labuhan Merapi Hanya Diikuti "Abdi Dalem" Keraton Yogyakarta

Kematian mendadak Sultan HB IV itulah yang membuat putra mahkota harus segera naik tahta meskipun masih berusia balita. Kurang dari dua pekan setelah wafatnya sang raja, 19 Desember 1823, Gusti Raden Mas Gathot Menol dikukuhkan sebagai penguasa Yogyakarta yang selanjutnya dengan gelar Sultan Hamengkubuwono V.

Sultan belia diturunkan dari singgasananya pada 17 Agustus 1826. HB II atau yang berjuluk Sultan Sepuh, dinobatkan sebagai raja lagi sehari berselang.Ini kali ketiga HB II naik takhta setelah periode 1792-1810 dan 1811-1812.

Sultan Hamengkubuwono II meninggal pada 3 Januari 1828. Hamengkubuwono V didudukkan kembali ke tampuk kekuasaan Kesultanan Yogyakarta, kendati tentu saja pengaruh Belanda masih kuat dalam prosesi ini. Sultan HB V cenderung main aman selama berkuasa.

Ia tidak ingin terjadi lagi pertumpahan darah yang harus mengorbankan rakyat, terutama setelah usainya Perang Jawa. HB V juga meneken kontrak politik dengan Belanda yang berlaku bahkan hingga era Sultan HB IX yang berakhir pada 1988 (Woro Miswati, Kerajaan-Kerajaan Nusantara, 2011:48).

Sultan HB V memilih fokus ke kesenian dan kebudayaan. Sumandiyo Hadi (2007:32) dalam buku Pasang Surut Pelembagaan Tari Klasik Gaya Yogyakarta menyebutkan bahwa telah dihelat pagelaran wayang orang dalam skala megah sebanyak 5 kali selama masa pemerintahan Sultan HB V.

HB V juga menciptakan beberapa jenis tarian khas keraton, salah satu yang paling terkenal adalah Tari Serimpi dengan berbagai variannya, termasuk Serimpi Kandha, Serimpi Renggawati, Serimpi Ringgit Munggeng, Serimpi Hadi Wulangun Brangta atau Serimpi Renggowati, dan lainnya.

Munculah, suara-suara ketidakpuasan yang dialamatkan kepadanya, terjadi konflik internal antara sesama penghuni istana.

Selir Sultan, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, terlibat dalam polemik. Akhirnya, pada 5 Juni 1855, terjadi aksi pembunuhan. Sultan HB V ditikam dari belakang oleh sang selir hingga tewas.

Pihak keraton menutup rapat kasus ini, termasuk tentang keberadaan Kanjeng Mas Hemawati setelah menghabisi nyawa suaminya sendiri. Alasan Kanjeng Mas Hemawati melakukan pembunuhan masih misteri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini