Kisah Pembunuhan Raja Majapahit, Dibunuh Ra Tanca, Didalangi Gajah Mada?

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 20 Maret 2021 06:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 20 337 2380990 kisah-pembunuhan-raja-majapahit-dibunuh-ra-tanca-didalangi-gajah-mada-QeiTmwTj7R.jfif Patih Gajah Mada (Foto: Wikipedia)

DHARMAPUTRA adalah sebuah jabatan yang dibentuk oleh Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. Dharmaputra beranggotakan tujuh orang, antara lain, Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Anggota Dharmaputra itu diketahui tewas karena melakukan pemberontakan.

Ra Tanca adalah satu-satunya Dharmaputra yang masih hidup setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti tahun 1319. Ra Tanca salah satu dari 7 Pejabat Dharmaputra yang berprofesi sebagai Tabib Istana menyimpan dendam dalam-dalam terhadap Jaya Negara.

Dalam Serat Pararaton disebutkan bahwa dendamnya pada Jaya Negara muncul selepas istrinya diperlakukan tidak senonoh oleh Raja. Ia juga masih menyimpan dendam terhadap kematian teman-teman seperjuangannya di Dharmaputra.

Baca Juga: Megahnya Wisata Candi Brahu, Lebih Tua dari Kerajaan Majapahit

Pada tahun 1328, Ra Tanca menemui Gajah Mada untuk menyampaikan keluhan istrinya. Ra Tanca kesal terhadap Jayanegara, ia menerima laporan dari istrinya bahwa raja berniat menikahi dua saudara tirinya. Mereka adalah Dyah Gitarja atau Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat atau Sri Rajadewi.

Ra Tanca lantas melapor kepada Gajah Mada, tapi sang patih tidak segera bertindak. Ra Tanca, yang merupakan abdi setia mendiang Raden Wijaya, lantas mengambil tindakan sendiri saat mendapatkan kesempatan mengobati Jayanegara.

Jaya Negara adalah Raja kedua Majapahit, menurut Negara Kertagama Jaya Negara naik tahta pada 1309 Masehi dengan Gelar Abhiseka Wiralandaghopala, ia naik tahta selepas kemangkatan ayahnya Dyah Wijaya. Jaya Negara merupakan anak laki-laki satu-satunya Dyah Wijaya, ibunya adalah Indradewi atau Dara Petak seorang Putri Melayu dari Kerajaan Dhamasraya.

Kitab Pararaton menyebut Jayanegara dengan nama Kalagemet yang ditafsirkan sebagai olok-olok karena nama tersebut memiliki arti “lemah" atau “jahat".

Baca Juga: Kisah Kudeta Ra Kuti Pengawal Raja Majapahit yang Ditumpas Gajah Mada

Memang, banyak orang di Majapahit yang tidak senang dengan naiknya Jayanegara menjadi raja. Salah satu penyebabnya adalah karena Jayanegara berdarah campuran, Jawa dan Melayu, bukan turunan murni dari Kertanagara, raja terakhir Singhasari sebelum Majapahit berdiri.

Jayanegara juga bukan lahir dari permaisuri, melainkan dari istri selir. Padahal, sebelum menikahi Dara Petak, Raden Wijaya sudah punya empat istri yang semuanya adalah putri Kertanagara, seperti ditulis Pitono Hardjowardojo, dkk., Pararaton (1965:46). Namun, Dara Petak berhasil membujuk Raden Wijaya untuk menjadikan putranya, Jayanegara, sebagai putra mahkota.

Meskipun Jaya Negara terlahir dari seorang selir, akan tetapi karena sejak kecil ia diakui anak oleh Sri Prameswari Dyah Dewi Tribuaneswari (Permaisuri) maka kedudukan Jaya Negara berubah menjadi Putra Mahkota, apalagi Permaisuri tidak mempunyai anak laki-laki.

Pada masa Jaya Negara memerintah 1309-1328 tercatat beberapa kali terjadi pemberontakan yang diakibatkan oleh hasutan Dyah Halyuda, di antaranya Pemberontakan Mahapatih Nambi, dan Pemberontakan Ra Kuti. Semua pemberontakan pada akhirnya mampu dipadamkan Jaya Negara, Dyah Halayuda akhirya dibunuh Jaya Negara melalui tangan Gajah Mada.

Serat Pararaton menceritakan, bahwa suatu ketika Jaya Negara terkena sakit bisul, sehingga ia tidak bisa berjalan karena mengalami pembengkakan. Gajah Mada kemudian memanggil Ra Tanca ke Istana untuk mengobati penyakit Raja.

Ra Tanca mempersiapkan alat operasi yang sanggup dijadikan sebagai alat bunuh, mengingat dalam kamar Raja, Ra Tanca tidak diperkenankan membawa senjata. Ra Tanca menusukan pisau opresai (Taji) pada bagian tubuh Jaya Negara yang membengkak, namun sang Raja rupanya t kebal senjata.

Maka, dengan alasan hendak mengoperasi penyakit sang Raja, Ra Tanca akhirnya minta Rajanya untuk melepaskan zimat kekebalan yang dimiliki. Jaya Negara menurutinya, sehingga Tanca bisa menusukkan pisaunya sampai Jaya Negara tewas. Gajah Mada yang memergoki peristiwa pembunuhan itu, kemudian menusuk Ra Tanca, akhirnya tewas tersungkur.

Usai melakukan terapi pembedahan, tiba-tiba Tanca menusuk Jayanagara sampai tewas. Perbuatan Gajah Mada membunuh Tanca tanpa pengadilan menimbulkan kecurigaan. Sejarawan Slamet Muljana menyimpulkan kalau dalang pembunuhan Jayanagara sesungguhnya adalah Gajah Mada sendiri.

Dalam Pararaton disebutkan, saat itu Gajah Mada sedang menjabat sebagai patih Daha, ajanya adalah Dyah Wiyat. Maka, ia lebih dekat dengan Dyah Wiyat. Ada dugaan Gajah Mada sengaja memancing amarah Tanca dengan pura-pura tidak peduli supaya Tanca sendiri yang mengambil tindakan. Tanca membunuh raja, kemudian langsung dibunuh oleh Gajah Mada untuk menghilangkan jejak.

Dengan demikian, Gajah Mada telah berhasil menyelamatkan Dyah Wiyat dari nafsu buruk Jayanagara tanpa harus mengotori tangannya dengan darah raja tersebut.

Seorang peneliti sejarah asal Belanda, N.J. Krom, dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis, meyakini bahwa Gajah Mada adalah otak pembunuhan itu.

Dikutip dari Parakitri Simbolon (2006) dalam Menjadi Indonesia, Krom meyakini bahwa Gajah Mada menyimpan dendam terhadap Jayanegara lantaran telah berbuat tidak senonoh terhadap istrinya. Gajah Mada memperalat Ra Tanca yang juga tabib istana untuk membunuh sang raja.

Buku Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Muljana (1979) mendukung versi ini, meskipun Muljana juga memaparkan versi lainnya. Dituliskan, Gajah Mada pada hakikatnya tidak suka pada terhadap Jayanegara dan menggunakan Ra Tanca sebagai alat untuk mengakhiri nyawa raja yang bertabiat buruk itu.

Pararaton seperti dikutip Muljana juga mengungkapkan, Gajah Mada sudah bersiap di kamar raja tanpa diketahui Ra Tanca. Sesaat setelah Jayanegara ditikam, Gajah Mada mendadak muncul dan segera membunuh Ra Tanca.

Muljana menulis, meski ada di tempat kejadian perkara, nama Gajah Mada tetap bersih, bahkan ia disebut sebagai pahlawan. “Demikianlah rahasia itu tertutup. Orang ramai hanya tahu Gajah Mada membalaskan kematian sang prabu dan menusuk Tanca sampai mati."

Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni: Perempuan Di Balik Kejayaan Majapahit (2012:96-97) punya kesimpulan, pembunuhan Jayanegara merupakan konspirasi Gayatri bersama Gajah Mada. Gayatri adalah ibu Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Rajadewi atau salah satu istri Raden Wijaya sebelum menikahi Dara Petak, ibu Jayanegara.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini