Kisah 9 Istri Bung Karno: dari Kawin Gantung, Janda hingga Siswi SMA

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 19 Maret 2021 06:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 19 337 2380302 kisah-9-istri-bung-karno-dari-kawin-gantung-janda-hingga-siswi-sma-6x5na9w8yS.jpg Ilustrasi (Foto : Istimewa)

“Keluarga tidak menyetujui. Pantang bagi keluarga terpandang putri kesayangannya jadi istri kelima meski dia seorang presiden. Itulah kenapa saya tidak menikah secara resmi dengan Bung Karno,” kenang Kartini di buku Bung Karno! Perginya Seorang Kekasih, Suamiku dan Kebanggaanku.

Namun perubahan situasi politik pasca-Tragedi 1965, Kartini diminta Sukarno “menyelamatkan” diri ke Eropa. “Kartini diminta ke Eropa demi keselamatan mereka. Bung Karno tidak mau Kartini yang sedang hamil, terjadi sesuatu di Indonesia,” kata Roso.

Di Nurnberg, Jerman pada 17 Agustus 1966, Kartini melahirkan seorang putra yang dinamai Bung Karno, Totok Surjawan. Dua tahun kemudian keduanya memutuskan berpisah.

Lalu kisah cinta Bung Karno dengan siswa SMA, Bung Karno mengenal Yurike semasa sang gadis masih tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, di sebuah acara kenegaraan pada 1963. Ia jatuh cinta, hingga memutuskan menikah pada 6 Agustus 1964.

Yurike kian kesulitan bertemu suaminya pasca-Tragedi 1965. Terlebih setelah Bung Karno mulai sakit-sakitan. Pada suatu ketika Yurike bisa membesuk suaminya di Wisma Yaso, Bung Karno melayangkan permintaan yang menusuk hatinya. Yurike diminta bercerai demi masa depan Yurike sendiri. Permintaan yang awalnya ditolak sang istri muda.

“Dengan terpaksa kupenuhi permintaannya. Kami bercerai secara baik-baik (pada 1967). Sungguh mengharukan karena kami masih sama-sama mencintai. Kami berpisah saat kami sedang rapat bersatu,” kenang Yurike dalam Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA: Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger karya Kadjat Adra’i.

Istri terakhir Bung Karno atau yang ke 9 adalah Heldy Djafar. Ia tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, pengibar bendera pusaka. Bung karno meminangnya dan menikahinya pada 11 Juni 1966 di Istana, tepatnya di Wisma Negara.

Rumah tangga mereka hanya bertahan dua tahun. Selain karena sudah dimakzulkan, Bung Karno mulai sakit-sakitan. Untuk bisa bertemu harus di rumah Yurike, di Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur.

Hingga suatu ketika , itu Heldy meminta izin untuk menjauh dari Sukarno. “Mas, maafkan saya, kalau saya boleh menjauh dari Mas untuk melepaskan diri. Kondisi dan suasana saat ini sangat menyakitkan hati saya. Tidak bisa begini terus. Harus ketemu di rumah orang lain,” lirihnya dalam Heldy: Cinta Terakhir Bung Karno karya Ully Hermono dan Peter Kasenda.

Kata-kata itu menyiratkan Heldy minta cerai. Namun ditolak Sukarno yang belum ingin berpisah. Seiring waktu, status mereka kian tak jelas. Dibilang istri sulit, cerai pun tidak. Akhirnya Heldy menerima pinangan Gusti Soeriansjah pada 19 Juni 1968. (aky)

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini