Share

Marsekal Hadi ke Panglima Angkatan Bersenjata se-ASEAN: Keselamatan Warga Myanmar Prioritas Utama

Riezky Maulana, iNews · Kamis 18 Maret 2021 16:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 18 337 2380035 marsekal-hadi-ke-panglima-angkatan-bersenjata-se-asean-keselamatan-warga-myanmar-prioritas-utama-78kQsffdqZ.jpg Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (foto: Puspen TNI)

JAKARTA - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan rasa keprihatinan mendalam terhadap situasi politik yang tengah terjadi di Myanmar. Menurut dia, keselamatan warga dengan Ibu Kota Naypidaw itu harus menjadi prioritas utama para negara ASEAN.

Hal itu disampaikan Hadi yang dibacakan oleh Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Ganip Warsito dalam pertemuan virtual Panglima Angkatan Bersenjata Wilayah ASEAN pada Forum ke-18 ASEAN Chiefs of Defense Forces Meeting (ACDFM) 2021.

Forum ini diikuti oleh Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapura dan Thailand.

Baca juga: Panglima TNI-Kapolri Tinjau Vaksinasi di Surabaya, Minta Masyarakat Tetap Patuhi Prokes

"Sebagaimana disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, dan disampaikan kembali oleh Menteri Luar Negeri, keamanan dan keselamatan rakyat Myanmar harus menjadi prioritas utama," ucapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Panglima TNI Tinjau Vaksinasi terhadap Ribuan Prajurit Se-Malang Raya

Dalam forum itu, Hadi mempresentasikan makalahnya yang berjudul 'Meningkatkan kerjasama Militer ASEAN dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks'. Dia menjelaskan, Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama satu tahun lebih masih membuat semua negara untuk berjuang menghadapinya.

Menurut dia, pandemi membawa permasalahan sosial dan ekonomi yang berimplikasi pada stabilitas setiap negara. Selain itu, upaya vaksinasi yang telah dilakukan semua negara masih mengalami hambatan.

"Permasalahan tidak hanya pada bagaimana memberikan vaksin kepada masyarakat luas, tetapi juga keterbatasan vaksin di setiap negara yang menjadi kendala tersendiri. Seluruh negara sedang berupaya menyediakan vaksin yang cukup bagi rakyatnya, sedangkan kapasitas produksi vaksin belum dapat mencukupi jumlah yang dibutuhkan," tuturnya.

Dia menjelaskan, situasi itu pun diperumit dengan berbagai hoaks yang beredar di media sosial (medsos). Akibatnya, upaya pemerintah dalam melaksanakan program penanganan pandemi jadi mengalami hambatan.

"Fenomena hoaks ini tidak hanya kita alami sendiri, tidak hanya dialami oleh negara-negara ASEAN. Bahkan di negara-negara maju sekalipun, masih terjadi ketidakpercayaan terhadap protokol kesehatan dan ketidakpercayaan terhadap vaksin," katanya.

Penetrasi media sosial dan internet yang luas, kata Hadi, juga masih menjadi senjata kelompok radikal dan teroris untuk mengembangkan pengaruh dan dukungan. Kelompok radikal dan teroris menjadi semakin sulit dideteksi akibat radikalisasi diri dan perekrutan secara tidak langsung.

"Mereka tidak lagi memiliki afiliasi, ikatan dan jaringan komunikasi yang jelas. Fakta tersebut membuat upaya pencegahan, deradikalisasi, maupun penegakkan hukum semakin kompleks," ujarnya.

TNI, sambung Hadi, berpandangan untuk memperkuat kerja sama militer ASEAN, melalui tiga upaya. Pertama, meningkatkan interaksi dan komunikasi antar pimpinan dan pejabat Angkatan Bersenjata sebagai jembatan dalam peningkatan kerja sama.

Kedua, meningkatkan sharing informasi dalam berbagai bidang, dan Ketiga membentuk mekanisme latihan bersama Angkatan Bersenjata ASEAN secara bertahap. Tujuannya, untuk membangun kemampuan dan meningkatkan profesionalisme.

Baca Juga: Balkon Fest Gelaran Pesta Rakyat untuk Warga Wringinputih

Follow Berita Okezone di Google News

(fkh)

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini