Kapal Karam di Perairan Indonesia Tinggalkan Harta Karun Senilai Rp34,6 Triliun

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 16 Maret 2021 10:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 16 337 2378477 kapal-karam-di-perairan-indonesia-tinggalkan-harta-karun-senilai-rp34-6-triliun-cJN9Xxvvj9.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Pemerintah membuka peluang investasi asing untuk pengangkatan benda muatan kapal tenggelam (BMKT), atau harta karun dalam laut. Pernyataan ini sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

Bagaimana potensi harta karun yang terpendam di lautan Indonesia? Ribuan kapal sejak jaman kerajaan sampai era VOC tercatat tenggelam di lautan.

Baca juga:  Kisah Pakubuwono VI Ditembak Belanda dan Penyelamatan Permaisuri di Ndalem Kemasan

Dalam buku Jejak Tinggalan Budaya Maritim Nusantara dituliskan, banyak kapal yang hilang di perairan Nusantara. Sepanjang tahun 11 Januari 1597 hingga 18 Februari 1686, VOC telah kehilangan 64 kapal di sekitar perairan Indonesia. Sementara untuk total kapal yang karam sejak 1597 hingga 1800 berkisar 84 unit.

Kapal-kapal itu karam karena bertempur, terbakar atau meledak karena kecelakaan, menghantam karang atau hilang tanpa kabar. Kapal hilang lainnya antara lain, kapal Waleheren tahun 1620-an. Kapal Helbot, Haan dan Grffioen hilang dalam perjalanan antara Ambon dan Jakarta.

Baca juga:  Kisah Permaisuri Kerajaan Melayu Usir Belanda dan Inggris Lewat Jalur Diplomasi

Selanjutnya ada kapal Rock (hilang pada 15 Februari 1645 di lepas pantai Ambon, Maastricht (terakhir terlihat Malabar pada 4 Agustus 1642 dalam perjalanan ke Jakarta).

Lalu kapal Zeemeeuw (di timur Jakarta pada 1653), Goede Hoop (dekat Ambon pada 13 April 1654), lalu Baterbloom (Barru pada Maret 1660).

Muncul cerita kapal Robertus Hendrikus yang membawa banyak harta karun. Kapal ini terbakar pada pagi hari, 10 Juni 1856 ketika hendak berlayar ke Semarang. Kapal membawa sekitar 80.000 sterling kepingan uang logam milik pemerintah, 1.000 pical timah, 1.500 pical kopi, sejumlah batu bara, dan karung goni lenyap tak berbekas.

Tahun 1857, kapal Lieutenent Admiral Stellingwerf, sebuah kapal layar Belanda juga hilang di perairan Jawa Tengah. Kapal ini hilang ketika sedang berlayar dari Semarang ke Singapura. Kapal membawa mata uang logam dengan nilai ketika itu sekitar $25.000 - $30.000, sekarang bernilai berjuta kali lipat.

Ada lagi kapal yang lenyap yakni Kapal Derkina Titia, kapal Belanda di bawah nahkoda Kapten Evink yang berlayar dari Macau ke Jawa. Kapal ini menghilang di Pulau Arends pada tanggal 17 September 1858. Tapi ada awak kapalnya yang berhasil tiba di Surabaya.

Baca juga:  Inggit Ganarsih, Istri Soekarno yang Lebih Memilih Cerai Ketimbang Dimadu

Kapal Belanda lain, Agatha Maria pada 17 Juni 1861 menghilang di sekitar Cilacap. Kapal hendak berlayar dari Cilacap ke Amsterdam .

Selain kapal-kapal Belanda, ada pula kapal dari Inggris, Amerika, Thailand, Perancis yang karam di lautan Indonesia. Kapal-kapal itu juga membawa sejumlah barang berharga sebelum tenggelam ke dasar laut.

Tidak hanya kapal-kapal besar milik VOC, ada pula kapal-kapal kayu milik Tiongkok yang tenggelam di laut Jawa. Meski kapal kayu, muatannya tak kalah berharga dari kapal-kapal megah milik VOC. O

Tiongkok semakin banyak yang datang ke Nusantara setelah VOC bubar, mereka datang ke Indonesia memakai kapal kayu yang dikenal dengan nama Jung Tek Sing, yang bisa diartikan Bintang Sejati, berlayar dari Amoy, Hokkian menuju Jakarta di awal bulan Januari 1822. Kapal membawa 2.000 orang imigran dari daratan Tiongkok, Tek Sing juga membawa 350 ribu keping keramik.

Setelah berlayar selama sebulan dan melewat dua pertiga perjalanan, kapal Tek Sing sampai di Selat Gaspar, antara Bangka dengan Belitung. Tek Sing menabrak karang. Kapal ini tenggelam hingga kedalaman 100 kaki pada 6 Februari 1822. Hanya 180 orang yang selamat dalam kecelakaan ini, mereka yang selamat ini ditemukan kapal Inggris yang sedang melintas keesokan harinya.

177 tahun kemudian, sekelompok penyelam pimpinan Michael Hatcher mengangkat keramik-keramik muatan Tek Sing. Sekitar Juni 1999. Kelompok Hatcher berhasil mengangkut keramik buatan abad XIX. Selain keramik, ditemukan juga barang-barang dari kuningan dan perunggu, jam saku, uang kuno, pisau lipat, wadah lilin, wadah dupa dan lainnya. Dari hasil lelang keramik harta harun Tek Sing, pemerintah hanya menerima separuhnya yakni sekitar Rp90 miliar.

Pemburu harta karun Robert F. Marx dan istrinya Jenifer Marx dalam buku Treasure Lost at Sea: Diving to the World’s Great Shipwrecks menuliskan tentang harta karun kapal Flor De Lamar yang legendaris.

"Rampasan Portugis yang diambil dari Malaka lebih dari yang bisa dibayangkan. Lebih dari 60 ton jarahan emas dalam bentuk hewan, burung, furniture berlapis emas, dan mata uang -- itu yang berasal dari istana sultan saja," tulisnya.

"Harta itu makan banyak tempat sehingga para awaknya mengalami kesulitan menempatkan 200 peti berisi perhiasan. Berlian, rubi, zamrud dan safir di dalamnya, senilai lebih dari tiga puluh juta crown, akan bernilai," tuturnya.

Pada Desember 1511 barang jarahan telah dimuat dalam kapal, Albuquerque pulang dengan Flor de la Mar. Dalam pelayaran, kapal Flor de la Mar lolos dihantam terjangan ombak. Tapi kapal lantas menabrak karang di lepas pantai Sumatera.

Tome Pires, seorang apoteker Portugis dalam jurnalnya, yang ditulis saat tinggal di Malaka pada 1512-1515, menceritakan bahwa saat armada kapal berlayar sepanjang timur laut Pase (Samudera Pasai), mereka terjebak dalam badai dahsyat dan Flor de la Mar, kapal tua itu karam.

Korban jiwa dalam jumlah besar berjatuhan dan pun dengan semua harta yang dibawa dari Malaka. Albuquerqe sendiri berhasil selamat dengan susah payah. Flor de la Mar berarti bunga lautan. Kapal Flor de la Mar ini memang menjadi salah satu armada yang terbesar dan terbaik di lautan pada masanya.

Kapal yang selesai dibuat di Lisboa, pada 1502 ini, memiliki bobot 400 ton. Pada pelayaran perdana, kapal ini menjelajah dari Lisboa ke India. Bertindak sebagai nakhoda adalah Estevao da Gama, sepupu dari legenda penjelajah Portugis, Vasco da Gama.

Ukurannya yang besar memungkinkan Flor de la Mar memuat banyak rempah-rempah. Tapi ukuran yang besar membuat Flor de la Mar tak bisa bermanuver ketika melewati selat Mozambik yang arusnya cepat.

Dalam pelayaran pulang, salah satu awak, Thome Lopez, melapor ada kebocoran. Kapal terpaksa singgah di Mozambik, Afrika, selama dua bulan. Akhir 1503, kapal ini akhirnya tiba di Portugis lagi.

Selain Estevao da Gama, Joao de Nova juga pernah menjadi nahkoda Flor de la Mar. Setelah kematian Joao da Nova, Flor de la Nova ikut serta dalam rombongan kapal yang dipimpin Afonso de Albuquerque dalam penaklukan Goa (India) dan Malaka tahun 1511.

Flor de la Mar masuk dalam kapal utama yang dikawal kapal-kapal pengiring yang ukurannya lebih kecil. Akhir tahun 1511, Afonso tiba di Malaka.

Sebuah pesan dikirim ke Sultan Mahmud, yang isinya meminta pembebasan orang-orang Portugis yang ditawan secepatnya.

Sultan pun mengulur waktu hingga membuat Afonso marah, armada perang yang ikut rombongannya menyerang raja Malaka itu, dan Sultan Mahmud kalah dan kabur. Kerajaaannya jatuh ke tangan Afonso, harta milik Sultan pun jadi jarahan.

Tak lama setelah penaklukan di akhir tahun 1511, Flor de la Mar dimuati 60 ton emas. Flor de la Mar dan kapal-kapal pengiringnya meninggalkan Malaka. Di sekitar perairan Pedir, daerah Pidie, Aceh Barat, badai membuat kapal oleng dan karam. Nakhoda utama rombongan itu selamat.

“Uang emas, perak, tembaga, dan timah dari Malaka hilang dalam Flor de la Mar," tulis Afonso.

Hampir 400 orang di atas kapal kehilangan nyawa kecuali Albuquerque, yang melarikan diri dengan beberapa perwira menggunakan perahu mirip sekoci. Mereka mendayung pergi dengan hanya membawa pakaian yang melekat di badan, dan meninggalkan harta senilai US$ 2,6 miliar atau setara Rp34,6 triliun.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini