Share

Mengenal Anton Medan, Penjahat Kelas Kakap yang Hijrah Jadi Ustadz Kondang

Fahmi Firdaus , Okezone · Senin 15 Maret 2021 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 15 337 2378185 mengenal-anton-medan-penjahat-kelas-kakap-yang-hijrah-jadi-ustadz-kondang-GL0JWaniWW.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Menyebut nama Tan Hok Liang mungkin sebagian orang tidak mengenal. Namun jika Ramdhan Effendi atau yang akrab disapa Anton Medan, pastilah banyak masyarakat yang mengenalnya. Anton Medan meninggal dunia di umur 65 tahun pada Senin (15/3/2021).

(Baca juga: Kabar Duka, Anton Medan Meninggal Dunia)

Ia meninggal dunia di kediamannya yang terletak di Cibinong, Bogor. Tempat dimana ia mendirikan Masjid Hok Tek Liong dan juga pondok pesantren At-Taibin.

Menilik masa lalunya, kehidupan Anton Medan penuh dengan kegelapan. Pasalnya, ia mantan seorang preman kelas kakap di Indonesia.

Anton Medan telah bergelut dengan dunia kejahatan sejak usianya masih 12 tahun. Dia sudah bolak-balik keluar masuk penjara karena kasus perampokan, judi dan aksi premanisme lainnya.

(Baca juga: Mengintip Latihan Keras Pasukan Elite TNI AU, Kamp Tahanan hingga Makan Ular)

Anton Medan memutuskan insaf dari segala macam jenis kejahatan. Pria kelahiran Sumatera Utara itu kini lebih dikenal bukan sebagai preman. Tapi penceramah dari Masjid ke Masjid. Dia memutuskan berhenti dari dunia hitam ketika mendekam di dalam penjara. Perjalanannya sebagai preman berhenti setelah mendapatkan hidayah dan masukan dari sesama narapidana di Lapas.

Setelah hijrah, Anton Medan pun akhirnya resmi memeluk Agama Islam. Pengucapan dua kalimat Syahadat itupun diucapkan dihadapan Alm KH Zainudin MZ pada tahun 1992 silam.

Sekilas kembali ke masa lalunya. Anton Medan sejak umur 12 tahun memang sudah merantau ke Tebing Tinggi. Ketika itu, dia sudah menjadi tulang punggung keluarga dan putus sekolah.

Anton Medan menjadi anak jalanan dengan bekerja sebagai calo di Terminal Tebing Tinggi. Tugasnya membantu sopir bus untuk mencari penumpang. Singkat cerita, suatu hari Anton Medan cek-cok dengan salah satu supir busnya.

Dia telah mencarikan penumpang namun tak diberikan upah atas kerjanya itu. Karena terpancing emosi, Anton Medan memukul sopir itu dengan balok.

Kejadian itu untuk pertama kalinya menyeret Anton Medan berurusan dengan pihak kepolisian. Setelah kejadian itu, dia kembali ke Kota Medan. Peristiwa serupa pun terjadi, setelah dipukuli oleh beberapa sopir bus, Anton Medan akhirnya membalas dengan sabetan parang yang membuat salah satu sopir tewas.

Anton medan pun harus mendekam di penjara selama empat tahun. Jeruji besi memberikan kenyataan yang pahit untuk dia. Selama bertahun-tahun, Anton Medan hanya dijenguk satu kali oleh keluarganya.

Setelah melewati masa hukuman, Anton Medan pun kembali kerumahnya. Tetapi, dia merasa keluarganya tidak menerima dia lagi yang notabene sebagai narapidana.

Akhirnya, Anton Medan mengambil keputusan besar untuk merantau ke Jakarta beradu nasib. Awalnya, dia ke Ibu Kota dengan tujuan mencari alamat Pamannya di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat. Tapi bukannya disambut, Pamannya itu malah mengusirnya.

Kekecewaan mendalam dan merasa sebatang kara membuat Anton Medan marah. Masa depannya dianggap telah usai. Perjalanannya menjadi penjahat kelas teri pun dimulai dari rangkaian itu.

Kejahatan  yang dilakukan Anton Medan pertama kali adalah menjadi seorang penjambret. Merasa tak cukup, dia lambat laun berubah menjadi seorang perampok.

Semua itu dilakukan Anton Medan lantaran keadaan dan situasi yang mendorongnya menjalani aktivitas sebagai seorang kriminal.

Anton Medan pun mulai mengepakan sayapnya ke dunia perdagangan obat-obatan terlarang. Dari modal itu, dia akhirnya menjadi bandar judi.

Dengan segala kejahatan yang dirintisnya, akhirnya orang disekitarnya menjuluki dia dengan panggilan Anton Medan sang penjahat kelas kakap yang keluar masuk penjara.

Kejamnya hidup membuat dia tersadar. Proses pencarian Tuhan pun menjadikannya pribadi yang agamis dewasa ini. Anton Medan pun mendirikan Majelis Taklim Atta'ibin untuk menampung para mantan Narapidana dan pengangguran agar tak terjebak ke dunia kejahatan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini