Lima Temuan Mengejutkan KNKT soal Kecelakaan Bus di Sumedang

Dimas Choirul, MNC Media · Senin 15 Maret 2021 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 15 337 2377888 lima-temuan-mengejutkan-knkt-soal-kecelakaan-bus-di-sumedang-OmVfbBdKoX.jpg Foto: Ditjen Hubdat

JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mendapati temuan baru kecelakaan Bus Pariwisata Sri Padma Kencana yang menyebabkan 29 orang tewas di Tanjakan Cae, Kecamatan Wado, Sumedang, Jawa Barat, pada Rabu (10/3/2021) malam.

Ada lima temuan dari Tim Investigasi KNKT yang dapat dijadikan acuan sementara penyebab terjadinya kecelakaan.

(Baca juga: Kecelakaan Bus Tewaskan 29 Orang, Kendaraan Besar Dilarang Melintasi Tanjakan Cae)

Pertama, roda sumbu belakang terkunci, karena hand brake ditarik.

"Saya gerakkan roda tidak berputar sama sekali. Tapi anehnya tidak ada jejak pengereman pada jalan maupun ban. Karena ketika hand brake mobil FAB ditarik seharusnya sumbu kedua mengunci dan pasti akan terjadi gesekan hebat dengan aspal," kata Senior Investigator KNKT Achmad Wildan saat dihubungi MNC Portal, Senin (15/3/2021).

Wildan mengatakan, pada saat kejadian kampas bus tersebut panas sehingga koefisien geseknyya rendah dan tidak mampu menahan tromol.

"Saya juga menemukan kampasnya habis seperti habis dipaksa bekerja untuk ngerem. Pada kondisi dingin sekitar jam 5 pagi sistem rem bekerja, mengunci, artinya tidak ada masalah sebenernya dengan sistem rem," lanjutnya.

Temuan kedua, lanjut Wildan adalah pada roda depan, terdapat jejak pengereman hebat. Wildan menjelaskan, saat dibuka tromol bus tersebut terjadi residual atau perbedaan permukaan kampas.

"Coba dibuka tromolnya pasti ada semacam residual, dan permukaan kampasnya tidak rata. Itu tanda atau jejak brakefading," katanya.

(Baca juga: Waspada! Jakarta Barat Paling Rawan Pencurian Motor)

Ketiga, sopir tidak menggunakan exhaust brake atau rem bantuan yang biasanya dipakai pada saat kondisi jalan menurun. Biasanya ditandai dengan bunyi mendesis.

"Saya tanya semua saksi penumpang yang duduk depan, tengah, belakang apakah mereka mendengar bunyi mendesis saat bus berjalan? Semuanya berkata tidak," bebernya.

Keempat, Tim Investigator menemukan jejak skidmark atau tanda/garis selip cukup dalam. Namun, terang Wildan bukan terjadi di Roda Bus akan tetapi di spring bagian belakang.

"Dan disana (Bagian Spring) masih ada bekas goresan aspal. Berarti skidmark itu menandakan saat pengemudi menurunkan handbrake, karena spring itu akan turun kebawah saat handbrake ditarik," ujarnya.

Dan yang terakhir temuan kelima dari data GPS, pihak KNKT menemukan ada perubahan kecepatan dari 50 kilometer/jam ke 85 kilometer/jam dalam tempo 30 detik sebelum akhirnya kembali ke kilometer nol.

"Ini sesuai dengan keterangan penumpang bahwa mereka merasakan bus oleng tak terkendali sekira 3 atau 4 tikungan sebelum masuk jurang, dan semua penumpang bertakbir. Nah, pada detik itulah pengemudi memasukkan gigi ke netral," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini