Kisah Pakubuwono VI Ditembak Belanda dan Penyelamatan Permaisuri di Ndalem Kemasan

Doddy Handoko , Okezone · Senin 15 Maret 2021 08:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 15 337 2377792 kisah-pakubuwono-vi-ditembak-belanda-dan-penyelamatan-permaisuri-di-ndalem-kemasan-6GcI2gxZrJ.jpg Pakubuwono VI (Foto: istimewa)

JAKARTA - Ndalem Kemasan adalah sebuah rumah tua di Jalan Mashela No 7, Jalan Kemasan No 7 Kepatihan Kulon, letaknya disebelah utara Pertigaan Jl Sutan Syahrir, Surakarta. Ndalem Kemasan ini berdampingan dengan tempat Parkir Jemaat Gereja GBI.

Awal mula orang tidak mengira bahwa rumah tua ini merupakan tempat tinggal Gusti Kangjeng Ratu Mas permaisuri Paku Buwono VI, (Raja Keraton Kasunanan Solo), maka rumah ini dinamakan Ndalem Kemasan artinya tempat tinggal GKR Mas.

Alkisah pada masa PB VI tempat ini ada kolam atau blumbang (jawa) tempat bertafakur Sinuhun PB VI untuk mendapatkan petunjuk Tuhan.

"Situasi kerajaan Yogyakarya dan Surakarta sedang bersitegang antar saudara yang disebabkan perlawanan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, maka tempat ini dinamakan kampung Mbangun Tapan ( belakang ndalem Kemasan ),"ujar Surojo , Penggiat Sejarah Surakarta.

Pada tahun 1824 Sinuhun PB VI mengangkat permaisuri lagi yang bernama GKR Mas Puteri KGPH Mangkubumi I dari Isteri selir RA Tasik Wulan yang berasal dari Simo Boyolali. Tasik Wulan ini masih keturunan Ki Ageng Singoprono Walen Simo.

Setelah Tasik Wulan mengandung, ada suatu peristiwa PB VI ditangkap Belanda ketika sedang tirakat di pantai selatan dengan tuduhan membantu pemberontakan Pangeran Diponegoro.

Kemudian di hadapan Residen Belanda , PB VI tetap tidak mau mengakui bahwa beliau membantu perjuangan Diponegoro namun Residen Surakarta menetapkan harus membuang PB VI Ke Ambon.

Begitu mendengar berita PB VI dibuang ke Ambon , maka geger Keraton Surakarta. Ada kasak kusuk terjadi antara lain yaitu rencana penyingkiran terhadap Permaisuri GKR Mas oleh kubu GKR Anom yang juga seorang permaisuri.

Melihat kejadian ini Patih Sosrodiningrat II yang ibunya bersaudara dengan ibu PB VI mengambil tindakan. Setelah bermusyawarah dengan Ki Ageng Singoprono IV ( kakak ayahnya GKR Mas ), dilancarkan operasi penyelamatan GKR Mas dan bayi yang dikandungnya dengan cara membuat rumah sederhana yang tak jauh dari Kepatihan. Dulunya tempat Sinuhun PB VI bertirakat ( sekarang menjadi Sumur ).

"Karena didesak oleh waktu maka pembuatan rumah serba cepat hal ini dibuktikan dengan Soko (tiang) yang ukuran besar dibuat tanpa geraji tapi manual kapak,"jelasnya.

GKR Mas menetap di rumah ini selama hampir 30 tahun mulai melahirkan GRM Duksina sampai puteranya diangkat sebagai putera mahkota. Kemudian GKR Mas diboyong di paviliun Ngabeyan (barat Sasana Mulyo) dan diberi Gelar Ibu Suri GKR Hageng.

Di ndalem Kemasan ini GKR Mas merasakan kepedihan sebagai permaisuri yang hidup bersahaja jauh dari kemewahan apalagi tidak pernah bertemu dengan sang suami tercinta sampai sang suami ditembak mati oleh Belanda.

"Hanya da dua sepucuk surat dari PB VI dibuat dalam tembang yang menceritakan situasi sedih PB VI seperti orang tidak berharga . Sekarang surat disimpan keraton,"ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini