Share

Kisah Ratu Kalinyamat Tapa Telanjang & Keramas Darah Aryo Penangsang

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 14 Maret 2021 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 14 337 2377393 kisah-ratu-kalinyamat-tapa-telanjang-keramas-darah-aryo-penangsang-t0X8EC5lea.jpg Ilustrasi (Foto : Istimewa)

DALAM buku Suma Oriental karya Tome Pires yang berasal dari Portugis, dituliskan bahwa Jepara baru dikenal pada abad ke-15 (1470 M) sebagai Bandar kecil yang baru dihuni 90-100 orang.

Kala itu Jepara dikuasai Arya Timur, berada di bawah pemerintahan Demak. Adalah Pati Unus (1507-1521 M) sebagai Sultan Demak. Pati Unus sendiri dikenal dengan perlawanannya terhadap Portugis di Malaka. Setelah Pati Unus wafat, kekuasan dilimpahkan ke tangan adiknya, Sultan Trenggono pada tahun 1536 M.

Japara diserahkan pada Sultan Hadirin (menantunya Sultan Trenggono) dan anaknya, Ratu Retno Kencono. Dan Ibu Kota Jepara adalah Kalinyamat. Maka, Ratna Kencana lalu dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Sultan Trenggono tewas dalam ekspedisi militer di Panarukan, Jawa Timur, pada tahun 1546 M. Akibatnya, terjadi perebutan kekuasaan.

Pangeran Sekar atau Raden Kikin adalah adik Pangeran Trenggono, anak dari Istri ketiga Sultan Fatah, putri Adipati Jipang. Kedua pangeran itu berhak atas kuasa kesultanan.

Pangeran Sekar lebih tua dari Pangeran Trenggono. Tapi, Pangeran Trenggono adalah anak dari istri pertama Sultan Fatah, putri Sunan Ampel.

Sultan Trenggono pun merasa berhak menjadi Raja Demak. Pangeran Prawata, anak Sultan Trenggono, lalu membunuh Pangeran Sekar di pinggir sungai sehingga dikenal dengan nama Pangeran Sekar Sedo Ing Lepen.

Sedangkan Arya Penangsang adalah putra dari Pangeran Sekar yang tahu bahwa ayahnya dibunuh oleh Pangeran Prawata. Arya Penangsang akan menuntut darah ayahnya, dengan membunuh keluarga Trenggono. Ia mendapat dukungan dari gurunya, Sunan Kudus.

Baca Juga : Ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito, dari Bencana sampai Pertentangan Anak Bangsa

Arya Penangsang menyuruh abdinya membunuh Pangeran Prawata. Utusan Arya Penangsang yang lain berangkat ke Pajang untuk membunuh Hadi Wijaya (Jaka Tingkir), adik ipar Ratu Kencana, namun rencana tesebut gagal.

Ratu Kalinyamat pun mendengar kabar adiknya Pangeran Prawata tewas di tangan utusan Arya Penangsang. Ia bersama Sultan Hadirin pergi menghadap Sunan Kudus untuk mendapatkan keadilan. Sunan Kudus ternyata mendukung Arya Penangsang.

Sunan Kudus mengatakan, bahwa itu akibat dari tindakan Sunan Prawoto yang membunuh Pangeran Sekar Sedo Lepen. Pernyataan itu membuat hati Ratu Kencana dan Sultan Hadirin sakit hati.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Istana Japara, rombongan Ratu Kencana dan Sultan Hadirin dihadang serongpati-serongpati (pembunuh bayaran) utusan Arya Penangsang. Sultan Hadirin terluka parah dan tewas.

Kehilangan dua orang yang dicintai, membuat Ratu Kalinyamat bersedih hati. Ia pun bersumpah akan membalas dendam kematian mereka. Ia bertekad tapa telanjang atau topo wudo dan akan selesai setelah berhasil memakai kapala Haryo Penangsang sebagai alas kaki.

Ia bersumpah: "Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Aryo penangsang".

Artinya Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas rambut dan darah Aryo Penangsang.

Ratu Kalinyamat melakukan ritual tapa telanjang. Mula-mula, dilakukan di Gelang Mantingan, lalu pindah ke Desa Danarasa, berakhir di tempat Donorojo Tulakan Keling Jepara.

Haryo Penangsang berhasil dibunuh Sultan Pajang , R Hadiwijaya, lewat senapati perang Danang Sutowijoyo (putra Ki Gede Pemanahan).Mereka duel di tepi bengawan sore, antara Cepu dan Blora.

Ritual itu berakhir setelah Sultan Pajang menghadap Ratu Kalinyamat sambil menenteng penggalan kepala Aryo Penangsang dan semangkok darahnya. Kepala Haryo Penangsang digunakan untuk keset oleh Nyi Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk keramas.

Hadi Priyanto, budayawan di Jepara, mengatakan bahwa kisah pertapaan Ratu Kalinyamat disebut dalam Babad Perang Demak.

Menurutnya, saat bertapa , Ratu Kalinyamat tak benar-benar bertelanjang bulat.

"Itu ungkapan sanepo orang-orang Jawa kuno. Masyarakat menafsirkan ritual topo wudo bertapa sambil melepaskan semua pakaiannya. Padahal "topo wudo "yang dilakukan Ratu Kalinyamat bukan dengan bertelanjang. Melainkan meninggalkan semua atribut kerajaan sebagai Ratu, berbaur dengan masyarakat desa," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini