Share

Ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito, dari Bencana sampai Pertentangan Anak Bangsa

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 13 Maret 2021 06:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 13 337 2376999 ramalan-jayabaya-dan-ronggowarsito-dari-bencana-sampai-pertentangan-anak-bangsa-2mc2GpuRno.jpg Foto: Istimewa

Prabu Jayabaya (1135-1159) adalah raja kerajaan Kediri. Ia dikenal lewat tulisannya yakni Ramalan Jayabaya.

Ada beberapa naskah yang berisi Ramalan Jayabaya, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya. Selain itu juga disinggung di Babad Tanah Jawi.

Dalam satu diantara bait ramalan Jayabaya dituliskan;

"Akeh ingkang gara-gara. Udan salah mangsa prapti. Akeh lindhu lan grahana. Dalajate salin-salit. Pepati tanpa aji. Anutug ing jaman sewu, Wolung atus ta iya Tanah Jawa pothar pathir, Ratu Kara Murka Kuthila pan sirna".

Terjemahannya :

"Banyak kejadian dan peristiwa alam maupun dalam kehidupan masyarakat manusia yang luar biasa. Musim penghujan tidak teratur dan sering datang dengan curah hujan tinggi (kebanjiran) hingga tidak ada curah hujan sama sekali (kekeringan). "

"Gempa bumi sering terjadi dan menelan banyak korban jiwa manusia, ternak, dan harta benda, demikian juga sering terjadi fenomena alam misterius yakni terjadinya gerhana bulan, dan gerhana matahari."

Dalam Ramalan Jayabaya dikatakan, akan datang satu masa penuh bencana. Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai, akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas.

"Tapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang zaman baru, zaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan zaman baru itu akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit,"jelas Masud Thoyib Adiningrat, Budayawan Jawa yang juga Pengageng Kedaton Jayakarta.

Selain itu disebutkan tentang ciri – ciri pemimpin yang dikenal dengan istilah Satrio Piningit.

"Akan ada dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Batara Kresna berwatak seperti Baladewa bersenjata trisula wedha (bait 159)"

"Akan ada dewa berbadan manusia”: menyebutkan bahwa sp berwujud seperti kita manusia biasa, tetapi sejatinya beliau adalah dewa. untuk mengetahui sejatinya seseorang tidaklah mudah, kecuali sesamanya atau lebih tinggi derajatnya. itulah yg menyebabkan Satria Piningit ",paparnya.

Selanjutnya dituliskan, “Berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa. Bersenjata Trisula Wedha."

" Meyebutkan bahwa paras Satria Piningumit itu seperti batara kresna (tampan, berwibawa) dan berawatak tegas seperti baladewa "ucapnya.

- “Bersenjata trisula wedha, untuk kalimat yang satu ini sepertinya di maknai secara tersirat, karena tidaklah mungkin Satria Piningit yang dipingit itu membawa trisula kemana-mana, akan terlihat mencolok yang menyebabkan dirinya tidak piningit lagi.

Dijelaskannya, pemaknaan Trisula Wedha secara garis besar bisa di maknai 3 jadi satu, seperti ilmu amal dan iman, atau bumi langit dan isinya, kiri kanan dan tengah. Bener jejeg , jujur, apapun itu yg secara filsafat mengandung 3 jadi satu. itu sesuai dengan derajatnya dewa sehingga berkelakuan mulia.

Ramalan Jayabaya ini kemudian digubah oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito, pujangga besar keraton Solo yang lahir pada hari Senin legi pada 15 Maret 1802 dan wafat pada hari Rabo pon pada 15 Desember 1873.

Salah satu ramalan yang ditulis adalah datangnya jaman Kolobendu yang secara “Condrosengkolo” datang pada tahun 1997 dan berakhir dengan jaman Kolosubo tahun 2025.

Jaman kolobendu ini digambarkan akan terjadi pertentangan dan permusuhan diantara komponen bangsa, yang disebabkan oleh adu domba oleh “dalang” yang tidak kelihatan, karena berada di belakang layar.

Jaman Kolobendu ;

"Entenono Nuswantoro bakal ketampan bendu

Yen wis teko pandito ambuka wiwaranging Neroko

( Condro sengkolo 1997)

Pralambange jago tarung ning njero kurungan

Dalang wayang ngungkurke kelir

Sing nonton podo nangis

Entenono waluyo lan tentreme

Mengko nek wis tumeko

Pendowo Mulat Sirnaning Penganten ( Condro sengkolo 2025)" -Buku Jaman Kolobendu (Ronggowarsito) .Artinya : Jaman Kolobendu (Carut Marut).

"Tunggulah, nusantara akan mendapatkan bencana.

Jika sudah datang tahun 1997

Perlambangnya adalah Ayam jantan Bertarung di dalam kurungannya.

Sang dalang menggelar sandiwara.

Yang menonton menangis.

Tunggulah jaman kemakmuran dan ketentraman.

Nanti jika sudah datang

Tahun 2025".

Masud menerangkan bahwa Nusantara akan mendapat bebendu atau bencana. Jika sudah datang tahun 1997 ( Pandito Ambuko Wiwaraning Neroko). Pandito, Ambuko = dibuka=bolong= 9, Wiwara = pintu=terbuka= bolong-9, Neroko = 1. Artinya : Condro Sengkolo Tahun 1997.

Pada tahun 1997 Indonesia mengalami bencana ekonomi yang sangat besar, menandai awal datangnya jaman Kalabendu.

Ia memaparkan bahwa Ayam Jantan bertarung dalam kurungan, artinya terjadi banyak permusuhan, perselisihan, dan pertentangan antar anak bangsa.

Sang dalang menggelar sandiwara artinya: Segala kejadian itu ada dalang yang mengaturnya, dalang yang tidak kelihatan atau di belakang layar.

"Yang menonton menangis, artinya: Rakyat yang menjadi korbannya dan sengsara,"ucapnya.

Maka tunggulah jaman kemakmuran dan ketentraman, artinya kemakmuran dan ketentraman bangsa akan datang, maka tunggulah kedatangannya. Nanti jika sudah datang

Tahun 2005 (Pendowo Mulat Sirnaning Penganten), Pandowo = 5, Mulat = melihat = mata = 2, Sirno = hilang = 0, Temanten = pengantin= sejodo= 2. Condro Sengkolo Tahun 2025

"Jaman Kolosubo atau jaman kemakmuran dan ketentraman akan datang pada tahun 2025. Kolosubo artine Alembono = diakui dan dihormati oleh dunia,"tandasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini