Kisah Pembunuhan Putera Mahkota Kesultanan Demak di Pinggir Sungai

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 12 Maret 2021 06:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 12 337 2376348 kisah-pembunuhan-putera-mahkota-kesultanan-demak-di-pinggir-sungai-VgWL6B8mXW.jpg Foto: Ilustrasi Cerita Rakyat Nusantara

JAKARTA - Dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda dikisahkan tentang riwayat Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Ayah Arya Penangsang adalah Raden Kikin atau sering disebut sebagai Pangeran Sekar, putra Raden Patah raja pertama Kesultanan Demak.

Ibu Raden Kikin adalah putri bupati Jipang sehingga ia bisa mewarisi kedudukan kakeknya. Ada pula yang menyebut putri dari Lasem.

Arya Penangsang juga memiliki saudara lain ibu bernama Arya Mataram.

Tahun 1521, anak Raden Fatah yaitu Pate Unus, dikenal juga sebagai Pangeran Sabrang Lor karena melakukan penyerangan ke Malaka yang dikuasai Portugis, gugur dalam perang. Kedua adiknya, yaitu Raden Kikin dan Raden Trenggana, berebut takhta kerajaan Demak.

"Raden Mukmin atau yang disebut juga sebagai Sunan Prawoto (putra pertama Raden Trenggana) membunuh Raden Kikin sepulang shalat Jumat di tepi sungai dengan menggunakan keris Kyai Setan Kober yang dicurinya dari Sunan Kudus. Ada yang bilang sungai Demak atau Kudus. Kemudian Raden Kikin terkenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen ("Bunga yang gugur di sungai")," papar Suminto, Sultan Demak.

Arya Penangsang menggantikan sebagai Raden Kikin menjadi Adipati Jipang Panolan. Wilayah Jipang Panolan erletak di sekitar daerah Blora, Jawa Tengah.

Raden Trenggana naik takhta Demak tahun 1521, bergelar Sultan Trenggana. Pemerintahannya berakhir saat ia gugur di Panarukan, Situbondo tahun 1546. Raden Mukmin menggantikan sebagai sultan keempat bergelar Sunan Prawoto.

Arya Penangsang dengan bantuan Sunan Kudus membalas kematian Raden Kikin tahun 1549. Ia mengirim pembunuh bernama Rangkud untuk membunuh Sunan Prawoto dengan Keris Kyai Setan Kober. Rangkud juga tewas dibunuh Prawoto.

Adik Sunan Prawoto, Ratu Kalinyamat dari Jepara menemukan bukti kalau Sunan Kudus terlibat pembunuhan kakaknya. Ia datang ke Kudus meminta pertanggungjawaban. Namun jawaban Sunan Kudus bahwa Sunan Prawoto mati karena karma membuat Ratu Kalinyamat kecewa.

Ia bersama suaminya pulang ke Jepara. Di tengah jalan mereka diserang anak buah Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos, sedangkan suaminya, yang bernama Pangeran Hadari, tewas.

Arya Penangsang kemudian mengirim empat orang utusan membunuh Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana yang menjadi bupati Pajang. Meskipun keempat pembunuh itu dibekali keris pusaka Kyai Setan Kober, namun, mereka tdapat dikalahkan Hadiwijaya dan dipulangkan secara hormat.

Hadiwijaya mengembijan keris ke Arya Penangsang. Keduanya lterlibat pertengkaran dan didamaikan Sunan Kudus. Hadiwijaya kemudian pamit pulang. Sunan Kudus menyuruh Penangsang berpuasa 40 hari untuk menghilangkan tuah Rajah Kalacakra yang ditulis di kursi .

Rajah itu sebenarnya akan digunakan untuk menjebak Hadiwijaya tetapi malah mengenai Arya Penangsang sendiri. Pada waktu bertengkar dengan Hadiwijaya karena emosi Aryo Penangsang yang labil,ia menduduki kursi yang dirajah.

Selain itu Arya Penangsang menyia-nyiakan kesempatan. Ketika Arya memegang keris Setan Kober Sunan Kudus berteriak , "Sarungkan...sarungkan".

Maksudnya agar keris itu ditusukkan ke badan Hadiwijaya namun Arya salah tangkap,keris itu dimasukkan lagi ke warangkanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini