Isra Mikraj, MUI: Momentum Perkuat Perjuangan Bangsa Lawan Radikalisme

Antara, · Rabu 10 Maret 2021 18:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 337 2375759 isra-mikraj-mui-momentum-perkuat-perjuangan-bangsa-lawan-radikalisme-eGjQN52aTR.jpg Ilustrasi (Foto: Freepik)

JAKARTA - Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Ali M Abdillah mengatakan peringatan Isra Mikraj menjadi momentum untuk memperkuat persatuan bangsa dan melawan radikalisme yang memecah belah bangsa.

”Sudah tugas kita sebagai generasi penerus bangsa untuk menjaga warisan kemerdekaan ini dari para pendiri bangsa. Karena dengan menjaga NKRI, Pancasila dan UUD 1945 inilah perekat seluruh elemen bangsa. Jangan sampai hal ini dikhianati, apalagi dengan mengambil ideologi dari orang luar yang belum pernah teruji kemudian di uji coba disini,” kata pria yang juga sebagai Ketua Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyin (MATAN) DKI Jakarta itu dalam keterangan tertulis, Rabu (10/3/2021).

Baca Juga:  Jokowi Cabut Perpres Investasi Miras, MUI: Terima Kasih Respons Cepatnya

Ia menjelaskan Isra Mikraj adalah suatu peristiwa yang spektakuler yang harus dipahami dengan deretan peristiwa sebelumnya, maka harus dilihat sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW yang mulai berdakwah dari usia 40 tahun meskipun mendapatkan tantangan dan intimidasi dari masyarakat kafir Quraisy tetap berjuang mendakwahkan Islam.

“Sehingga kalau dikaitkan dengan bangsa Indonesia, hikmah Isra Mikraj ini memiliki kesamaan dalam perjuangan dulu melawan kolonialisme, yang membuat kondisi masyarakat Indonesia ini selalu dihantui dengan kecemasan dan ketakutan. Alhamdulillah hasil dari perjuangan para santri, para kyai dan para tokoh masyarakat di Indonesia, Allah memberikan suatu anugerah, yaitu kemerdekaan,” ujar Kyai Ali.

Kyai Ali menambahkan bahwa semua kesulitan sebelum Isra Mikraj tersebut dirasakan oleh nabi pada periode perjuangan dakwah di Makkah, di mana pada akhir periode di Makkah ini nabi diuji oleh Allah SWT karena dua orang yang selama ini mem-backup perjuangan nabi yaitu pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Siti Khadijah meninggal dunia.

”Di fase ini nabi secara kemanusiaan mendapatkan ujian yang cukup luar biasa, di mana tahun tersebut disebut sebagai tahun huzni (tahun kesedihan nabi). Tapi pada tahun kesedihan nabi ini, beliau kemudian mendapatkan hadiah, yaitu peristiwa Isra dan Mikraj itu,” terang Ali.

Oleh karena itu, menurut dia, peristiwa Isra dan Mikraj ini hadiah dari Allah kepada nabi setelah berjuang selama kurang lebih 13 tahun di Makkah hingga istrinya meninggal dunia.

Maka, menurut peristiwa tersebut harusnya dipahami oleh generasi penerus bangsa Indonesia untuk menghargai perjuangan nabi dahulu sebagaimana perjuangan bangsa Indonesia menghadapi penjajahan di masa lalu, dan mempertahankan kemerdekaan di masa kini terutama dalam melawan radikalisme dan terorisme yang ingin merusak keutuhan bangsa.

Baca Juga:  MUI Haramkan Aktivitas Buzzer, Pengamat Sebut Percuma Jika Pemerintah Tidak Merespons

Kyai Ali menyebut bahwa di Madinah inilah nabi membuat sebuah aturan berbangsa dan bernegara, di mana masyarakat Madinah saat itu terdiri dari berbagai suku dan agama.

Nabi mampu menjadi pemimpin yang bisa diterima oleh semua rakyatnya baik yang beragama Yahudi, Nasrani maupun Majusi. Dan dapat diterima dengan baik oleh para kepala suku yang ada disana.

”Rasulullah menunjukkan diri sebagai seorang pemimpin yang bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Konsep yang dilakukan oleh Rasulullah yaitu, konsep Piagam Madinah yang dalam konteks Indonesia ini kemudian diadopsi dengan bentuk Pancasila,” tukasnya.

Oleh karena itu, menurutnya, Pancasila ini adalah model Piagam Madinah yang dicetuskan oleh para ulama dan para pendiri bangsa Indonesia, karena semua umat beragama, suku, semua dinaungi di bawah NKRI.

Sistem dalam Piagam Madinah adalah sistem yang menghormati kebhinekaan, menghormati kelompok lain yang tidak sejalan, termasuk terhadap umat Nasrani, Majusi dan Yahudi. Semua diberikan penghormatan dan juga hak-haknya.

”Karena itu, kalau kita belajar dari sikap nabi setelah Isra dan Mi'raj, kemudian nabi membangun kota Madinah dengan Piagam Madinah ini artinya bahwa nabi meletakkan dasar berbangsa dan bernegara yang bisa mengayomi semua anak bangsa, baik yang berbeda agama maupun berbeda suku,” jelasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini