Divonis 4 Tahun Penjara, Irjen Napoleon Bonaparte: Apa Perlu Saya Goyang TikTok?

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 10 Maret 2021 16:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 337 2375687 divonis-4-tahun-penjara-irjen-napoleon-bonaparte-apa-perlu-saya-goyang-tiktok-bc0i6AECbo.jpg Terdakwa Irjen Napoleon usai divonis 4 tahun penjara (foto: Okezone/Arie)

JAKARTA - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukum 4 tahun penjara, terhadap Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri, Irjen Napoleon Bonaparte. Ia juga divonis untuk membayar denda Rp100 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Irjen Napoleon sempat berkelakar setelah persidangan ditutup oleh majelis hakim. Napoleon menghibur awak media yang sedang mengabadikan momen dirinya bersalaman dengan tim kuasa hukum dengan bergoyang. Ia bahkan sebelumnya sempat bertanya kepada awak media soal goyang TikTok.

"Cukup ya, sudah. Enggak perlu kan saya goyang, apa perlu saya goyang tiktok?," ujar Napoleon sambil berkelakar di ruang sidang Hatta Ali, Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (10/3/2021).

Baca juga: Divonis 4 Tahun, Irjen Napoleon: Martabat Saya Dilecehkan!

Tak berselang lama, Napoleon kemudian bergoyang. Ia mengepalkan tangannya ke atas sambil berjoget. Dua kali goyangannya membuat awak media tertawa. Ia pun ikut tertawa.

Sebelumnya, Napoleon menyatakan menolak putusan majelis hakim. Ia berencana mengajukan upaya hukum banding atas putusan tersebut. Ditegaskan dia, lebih baik mati ketimbang martabat keluarganya harus dilecehkan.

"Cukup sudah pelecehan martabat yang saya terima dari Juli tahun lalu sampai hari ini. Saya lebih baik mati, daripada martabat keluarga dilecehkan seperti ini. Saya menolak putusan hakim dan menyatakan banding," tegas Napoleon.

Baca juga:  Tok! Irjen Napoleon Bonaparte Divonis 4 Tahun Penjara

Sebelumnya, Ketua Majelis Hakim Muhammad Damis menyatakan, Irjen Napoleon Bonaparte terbukti secara sah bersalah menerima uang sebesar 200.000 dolar Singapura dan 370.000 dolar AS dari terpidana kasus korupsi hak tagih (cessie) Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra (Djoko Tjandra).

Menurut hakim, uang itu berkaitan dengan upaya untuk menghapus nama Joko Soegiarto Tjandra dari Daftar pencarian Orang (DPO) yang dicatatkan di Direktorat Jenderal Imigrasi (Ditjen imigrasi).

"Menyatakan terdakwa Napoelon Bonaparte terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," ujar Ketua Majelis Hakim Muhammad Damis saat membacakan amar putusan di ruang sidang Hatta Ali, Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (10/3/2021).

"Kedua, menjatuhkan pidana oleh karenanya kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 4 tahun dan pidana denda sejumlah Rp100 juta dengan ketentuan jika tidak dibayar maka diganti dengan pidana 6 bulan kurungan," sambungnya.

Diketahui, putusan tersebut lebih tinggi dari tuntutan yang diajukan tim jaksa Penuntut Umum (JPU). Di mana sebelumnya, Irjen Napoleon Bonaparte dituntut tiga tahun penjara dan denda sebesar Rp100 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Irjen Napoleon Bonaparte diyakini terbukti secara sah bersalah karena menerima suap dari terpidana Joko Soegiarto Tjandra (Djoko Tjandra) melalui rekannya, Tommy Sumardi. Uang itu berkaitan dengan upaya penghapusan nama Djoko Tjandra dari Daftar Pencarian Orang (DPO).

Irjen Napoleon dinyatakan terbukti melakukan upaya penghapusan nama Joko Soegiarto Tjandra dari DPO bersama-sama dengan Brigjen Prasetijo Utomo selaku Kepala Biro Koordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri. Keduanya diduga menerima suap dari Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi.

Atas perbuatannya, Napoleon Bonaparte dinyatakan terbukti melanggar Pasal 5 ayat (2) Juncto Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang (UU) Nomor tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini