Share

Dua Senjata Bupati Sumedang Lawan Covid-19: Maijah dan Mauneh

Dita Angga R, Sindonews · Rabu 10 Maret 2021 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 337 2375547 dua-senjata-bupati-sumedang-lawan-covid-19-maijah-dan-mauneh-fX0jUIMzJW.JPG Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir (Foto: Dita)

JAKARTA - Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan bahwa inovasi menjadi suatu keharusan dalam menjalankan roda pemerintahan di daerah. Dimana yang dikembangkannya adalah inovasi disruptif.

“Awal tahun 2020 kami disapu badai disrupsi oleh pandemi covid. Ini yang memantik kami untuk mengembangkan inovasi disruptif. Kalau tidak inovasi ya mati. Jadi kami melakukan inovasi,” katanya dalam Indonesia Visionary Leader (IVL) season VII di Inews Center, Rabu (10/3/2021).

Dalam menjalankan inovasinya Dony lebih menitikberatkan untuk memanfaatkan teknologi informatika. Dia meyebut ada dua aplikasi yang dibuat dalam penanganan covid yakni Maijah dan Maunah.

“Dari sisi aplikasi ini memepercepat mempermudah kita mengatasi covid. Pencegahan covid ada aplikasi Maijah. Aplikasi ini untuk memantau perkembangan covid-19 di Kabupaten Sumedang. Misalnya dimana sekarang yang covid jadi cepat ditangani,” ungkapnya.

“Lalu ada juga aplikasi untuk bantuan sosial yakni Mauneh. Sistemnya by name by address. Jadi masyarakat tahu dapat bansos atau engga. Jadi tidak ramai. Kan sekarang banyak pintu bansos. Misalnya bansos yang ini sudah keluar, lalu yg satu belum kan bisa menimbulkan protes biasanya. Dengan Mauneh semua data ada di sana. Ada transparansi di sana,” lanjutnya.

Baca Juga: Wagub DKI: Penyaluran BST Tahap 2 di Pandemi Covid-19 Berjalan Baik

Bahkan usaha yang dilakukan Dony ini membuahkan hasil dalam penanganan covid-19. Sumedang tidak saja dinilai berhasil menekan angka covid tapi juga diganjar bonus anggaran dari pemerintah pusat berupa dana insentif daerah (DID).

“Dapat apresiasi KPK sebagai aplikasi yang baik. Dapat penghargaan provinsi. Dan dapat hadiah oleh pemerintah pusat sebagai penanganan covid yang dianggap baik dengan diberikan DID Rp.21 miliar. Dengan cara apa? Konsolidasi birokrasi, mobilisasi dan orkestrasi modal sosial. Covid kami rendah dan sekarang zona kuning,” tuturnya.

Sebenarnya inovatif disruptif tidak hanya dilakukan Dony dalam penangana covid saja. Dia menyebut inovasi yang dilakukannya telah menampakkan hasil. Salah satunya dengan turunnya angka kemiskinan dan stunting.

“Berkat inovasi-inovasi ini berhasil tidak? Di data berhasil. Kemiskinan turun dari 9,76% jadi 9,05%. Stunting turun dari 32% jadi 24%. Merit system dari 200 ke 300. Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik dari , 2,4 jadi 3,8 terbaik di nasional. Stunting terbaik di Jawa Barat. Ini dengan memanfaatkan IT dan turun tangan langsung,” pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini