Aksi Usman Harun dan Sosok Gani yang Misterius di Pusaran Teror Bom Singapura

Fahmi Firdaus , Okezone · Rabu 10 Maret 2021 11:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 337 2375419 aksi-usman-harun-dan-sosok-gani-yang-misterius-di-pusaran-teror-bom-singapura-1jmw1psXmQ.jpg dok: The Straits Times/ Kok Ah Chong

LEDAKAN dahsyat terjadi di Gedung MacDonald House di Orchard Road, Singapura, pada 10 Maret 1965 atau tepat 56 tahun silam. Tiga orang dilaporkan tewas dan 33 lainnya terluka dalam kejadian itu.

(Baca juga: Intel Polres Ancam Pengurus Demokrat, Ini Penjelasan Mabes Polri)

Insiden pengeboman ini berawal dari pengiriman paket seberat 11,33 kilogram (Kg) berisi bahan peledak. Paket itu dilengkapi detonator waktu dan diletakan di lantai tidak jauh dari lift gedung.

Sekitar jam tiga sore, paket itu meledak dan menyebabkan lubang di lantai serta merusak pintu dari lift. Mengutip The Straits Times, kuatnya ledakan juga merusak sebuah ruangan milik The Hongkong And Shanghai Bank.

(Baca juga: Horor di Belantara Papua, Kisah Prajurit Kopassus Tersesat di 'Alam Lain')

Daya ledakan itu sangat besar sehingga seluruh jendela di gedung dalam jarak 100 meter mengalami kerusakan. Ledakan juga merusak kaca dari mobil yang diparkir di luar gedung.

Adalah Usman Janatin dan Harun Tohir yang merupakan pelaku dari peledakan tersebut. Keduanya merupakan anggota Korps Komando Operasi Angkatan Laut (KKO) yang kemudian berubah menjadi Marinir. Mereka diperintahkan untuk menginfiltrasi Singapura, ketika Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia.

Selain Usman dan Harun ada nama Gani bin Arup dalam peristiwa pengeboman Gedung MacDonald. Namun berbeda dengan Usman dan Harun, Gani bisa lolos dari kejaran aparat Singapura.

Tidak disebutkan secara jelas bagaimana Gani bisa lolos dari Singapura. Dan bagaimana sepak terjangnya usai peristiwa pemboman tersebut.

Dikutip Wikipedia, Rabu (10/3/2021), setelah peledakan tersebut Gani memilih rute yang berbeda. Usman dan Harun menyita perahu motor, tetapi di laut perahu motor rusak. Mereka ditangkap oleh pasukan patroli Singapura pada 13 Maret 1965 dan dihukum karena pembunuhan, karena mereka telah mengenakan pakaian sipil pada saat itu dan telah menargetkan bangunan sipil, dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Singapura.

Saat itu Presiden Soekarno menolak pembentukan Malaysia, di mana Singapura masih menjadi bagiannya sejak September 1963 hingga Agusuts 1965. Kedua marinir tersebut melakukan pengeboman di MacDonald House dan berhasil ditangkap dan diadili di Singapura pada 1968.

Keduanya dihukum gantung di Singapura dan memicu kemarahan di Jakarta yang berujung pada perusakan di Kedutaan Besar Singapura oleh sekira 400 orang. Bagi Indonesia, kedua marinir itu adalah pahlawan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Atas jasa keduanya, Pemerintah Indonesia menyematkan nama mereka di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI). Yaitu KRI Usman Harun.

Saat itu, Menko Polhukam Djoko Suyanto mengatakan, Pemerintah memiliki tatanan, aturan, prosedur, dan kriteria penilaian sendiri untuk menentukan seseorang mendapat kehormatan sebagai pahlawan

“Tentu pertimbangan tersebut dinilai sesuai dengan bobot pengabdian dan pengorbanan mereka-mereka yang 'deserve' untuk mendapatkan kehormatan dan gelar itu,” jelas Djoko dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/2/2014).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini