Batavia atau Jakarta Pernah Dijuluki Kota Maut

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 09 Maret 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 09 337 2374594 batavia-atau-jakarta-pernah-dijuluki-kota-maut-TDTOUtpAZf.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Sejarahwan Betawi, Alwi Shahab menuliskan bahwa Batavia pada abad ke-18 pernah dijuluki 'kota maut'. Akibat tingginya angka kematian, kota yang dibangun JP Coen (1619) ini mendapat predikat Graf der Hollanders atau 'kuburan orang Belanda.'

Berdasarkan catatan sejumlah sejarawan, kala itu tak seorang pun akan merasa heran bila mendengar teman dengan siapa ia semalam makam bersama akan dikubur keesokan harinya. Diantara penyebab kematian, karena lumpur yang banyak mengendap di kanal-kanal (kali buatan) karena alirannya terhambat menjadi sarang penyakit dan berbau busuk.

Baca juga:  Sumpah Thomas Stamford Raffles Gegara Tinggalkan Pulau Jawa

Akibat besarnya angka kematian, sebuah rumah sakit di Batavia kala itu dijuluki sebagai 'rumah maut'. Karena kebanyakan pasien yang dirawat jiwanya tidak tertolong dan berakhir ke pemakaman.

Rumah sakit yang dibangun akhir abad ke-17 ini kemudian menjadi gedung De Javashe Bank (kini Bank Indonesia) setelah munculnya bisnis perbankan di akhir abad ke-19. Letaknya di depan stasion kereta api Beos (Jakarta Kota).

Baca juga:  Wajah dan Asal Usul Gajah Mada Masih Misterius

"Tingginya angka kematian ini berdampak pula pada penuhnya tempat pemakaman. Kala itu pemakaman umum berada di sekitar Niuwe Hollandse Kerk yang kini jadi gedung Musium Wayang, di sebelah kiri gedung Museum Sejarah Jakarta di Jalan Falatehan 1, Jakarta Kota "ungkapnya.

Di museum ini masih didapati bekas gedung pengawetan mayat. Rupanya, ketika itu sejumlah orang Belanda yang meninggal di Batavia jenazahnya dibawa ke negerinya. Untuk ini, jenazah tersebut perlu diawetkan dulu.

Prasasti Pieter Erberveld, seperti aslinya yang dibuat pada April 1722, juga terdapat di musium ini. Prasasti ini mengingatkan saat ia dihukum pancung karena dituduh akan melakukan pemberontakan di Batavia pada malam 1 Januari 1722. Tempat eksekusi digelar di kediamannya di Jalan Jayakarta sekarang ini.

Kuburan orang Belande, demikian warga Betawi menyebutnya, dulu bernama Kerkhoflaan, kira-kira Gang Kubur kalau diistilahkan sekarang. Kuburan seluas 5,5 hektar yang berada jauh dari pusat kota ini telah ditutup sejak 1975, dan kini jadi Museum Prasasti.

Semakin lama kuburan semakin penuh lalu dipindah ke Kebon Jahe Kober. Akibat penuhnya pekuburan yang di pusat kota Batavia ini sejak 1795 dialihkan ke Kebon Jahe Kober, Jakarta Pusat.

Upacara di pemakaman Kebon Jahe Kober yang terletak jauh di luar kota, sejak dibuka menggunakan alat transportasi berupa perahu dan kereta jenazah.

Pihak rumah sakit (bekas gedung BI Jakarta Kota) hanya menyediakan perahu jenazah bagi para pasien untuk dimakamkan di pemakaman Kebon Jahe Kober, Tanah Abang.

Sementara keluarga yang berduka menyewa atau naik perahu kepunyaannya, mengiringi jenazah melalui Kali Krukut, yang dulu lebar, dalam, dan airnya jernih.

Dalam sebuah laporan kuno disebutkan, bahwa pada 1825 kereta-kereta jenazah mengangkat mayat-mayat dari rumah sakit ke pemakaman Kober dua kali sehari.

Sesampainya di ujung Jalan Tanah Abang I (sekarang kira-kira belakang Deppen) setelah melewati kali Molenvliet (Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk), jenazah disambut kereta pengangkut jenazah.

Dulu di kali ini ada tempat untuk berlabuhnya perahu-perahu. Dengan kereta jenazah bewarna hitam, ditarik 2 - 4 ekor kuda, jenazah dibawa ke pemakaman. Sedangkan, para pengiring berjalan kaki dibelakangnya. Jumlah kuda penarik kereta bisa menunjukkan status sosial keluarga yang meninggal. Makin tinggi jabatannya, makin banyak kuda dan kereta yang dikerahkan.

Sesampainya di ruang balairung yang terletak di halaman depan makam, jenazah disemayamkan. Selain perahu dan kereta jenazah, di halaman belakang terdapat sebuah lonceng perunggu bertiang besi dengan ketinggian sekitar empat meter.

Lonceng pertama yang dibunyikan petugas untuk tanda adanya kematian. Bunyi kedua yang dibunyikan terus menerus sebagai pertanda penyambutan datangnya jenazah dari Kali Krukut hingga ke pemakaman.

Bunyi lonceng ini dimaksudkan untuk mengingatkan petugas pemakaman untuk mempersiapkan upacara hingga pelaksanaan pemakaman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini