Pengamat : KLB Biasa dalam Politik Kekuasaan, AHY Tak Usah Manja

Rakhmatulloh, Sindonews · Senin 08 Maret 2021 09:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 337 2374027 pengamat-klb-biasa-dalam-politik-kekuasaan-ahy-tak-usah-manja-i0a36PQ2Jt.jpg Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto : Okezone/Arif Julianto)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (Sudra) Fadhli Harahab meminta Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tidak usah manja terkait kisruh di tubuh Partai Demokrat. Hal itu sehubungan dengan Kongres Luar Biasa Partai Demokrat yang menetapkan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menjadi ketua umum.

Fadhli Harahab menyatakan, KLB merupakan hal biasa dalam berorganisasi, sehingga tak perlu ada yang merasa terzalimi atau merasa paling benar dan paling berhak.

Menurutnya, perebutan kekuasaan dalam tubuh partai bukan kali pertama merundung dan hanya terjadi di Demokrat. Hampir semua parpol pernah mengalami nasib seperti Demokrat dan itu adalah hal normal.

"AHY tak usah manja. Seolah merasa terzalimi dengan kondisi. Merengek di depan publik, membentuk opini yang terkesan menyeret pemerintahan terlibat langsung dalam pengambilalihan posisi Ketum Demokrat," ujarnya saat dihubungi, Senin (8/3/2021).

Justru dalam kondisi sekarang, analis politik asal UIN Jakarta ini melihat AHY perlu menampilkan sisi kepemimpinan yang elegan, struggle dan kuat untuk membuktikan diri, bukan malah larut seperti dalam 'drama romantis' yang endingnya selalu dimenangi aktor hebat dan benar.

Baca Juga : Kisruh Demokrat, Presiden Jokowi Diminta Tindak Moeldoko

"Kondisinya bukan lagi siapa benar dan siapa yang salah. Tetapi siapa yang kuat. Seleksi alam yang akan menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang," tutur Fadhli.

Lebih lanjut Fadhli mengatakan, kasus serupa juga pernah menimpa partai lain, khususnya PDIP, bagaimana kemudian tempaan keras dan bertubi-tubi mampu melahirkan figur politik yang kuat, seperti Megawati Soekarnoputri.

Bahkan, kata Fadhli, sebelum politik modern memunculkan pelbagai teori-teori politiknya, konflik politik yang mengarah pada perebutan kekuasaan dan kudeta juga dialami kerajaan-kerajaan Nusantara pada waktu itu. Tapi, para Raja dan petinggi kerajaan saat itu menghadapinya dengan penuh ksatria dan gagah berani.

Baca Juga : Din Syamsuddin: KLB Demokrat Ciptakan Kegaduhan Nasional dan Ganggu Demokrasi Indonesia

"Kristalisasi ide dan perjuangan itulah yang kemudian melahirkan sosok dan organisasi yang kuat. Tak ada yang instan," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini