Sumpah Thomas Stamford Raffles Gegara Tinggalkan Pulau Jawa

Doddy Handoko , Okezone · Senin 08 Maret 2021 06:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 337 2373973 sumpah-thomas-stamford-raffles-gegara-tinggalkan-pulau-jawa-tRB3WHQzzg.jpg Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles (foto: Dok Wikipedia)

JAKARTA - Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles dalam buku "History of Java "(1817). menuliskan pandangannya mengenai orang jawa.

Di dalam buku tersebut disebutkan, masyarakat Jawa sebagai penduduk yang dermawan dan ramah jika tidak diganggu dan ditindas. Orang Jawa dalam hubungan domestik memiliki sikap baik, lembut, kasih sayang, dan penuh perhatian.

 Baca juga: Wajah dan Asal Usul Gajah Mada Masih Misterius

Sedangkan dalam hubungan dengan masyarakat umum orang Jawa adalah orang yang patuh, jujur, dan beriman, memperlihatkan sikap yang bijaksana, jujur, jelas dalam berdagang dan berterus terang.

Perbedaan ini disadari oleh Raffles akibat dari kolonial Belanda yang melihat masyarakat Jawa secara parsial. Karakter sejati dari penduduk pribumi bukan yang tampak pada pemimpin kelas rendah yang tunduk pada otoritas bangsa Eropa.

Baca juga:  Dinosaurus Pernah Hidup di Pulau Jawa?

Ia menyimpulkan, bahwa pengetahuan tentang orang Jawa harus lebih menitikberatkan pada golongan petani dan peladang, yang merupakan tiga per empat dari keseluruhan jumlah populasi.

Karya-karya Raffles di bidang ilmu pengetahuan alam dan sejarah Jawa dan Sumatera. Ia yang menggagas pendirian Kebun Raya Bogor dan membantu botanist Prof. Reindwardt (Belanda) dan ahli dari Inggris untuk menyelesaikannya. Ia meresmikannya pada tahun 1817. Kebun Raya dan kebun binatang di Singapura juga didirikan oleh Raffles.

Ia sempat menemukan bunga Rafflesia Arnoldi, satu diantara jenis tanaman langka yang hanya tumbuh di kawasan Sumatera bagian selatan, terutama di Provinsi Bengkulu Tanaman ini pertama kali ditemukan di Bengkulu pada tahun 1818, oleh seorang letnan dari Inggris,

Ia juga menggali Candi Borobudur setelah tertimbun tanah. Setelah letusan Gunung Merapi, debu menyelimuti Candi Borobudur seperti gundukan batu yang tertutup semak belukar.

Pada tahun 1814, Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir.

Baca juga:  Misteri Ramalan Kemerdekaan di Panggung Sangga Buwana Keraton Solo

Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825.

Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut. Pekerjaan membersihkan itu berakhir 1835 hingga seluruh bangunan terlihat.

Candi Gedong Songo diungkapkan pertama kali dalam laporan Raffles pada tahun 1740. Pada awalnya hanya tujuh kelompok bangunan yang ditemukan, sehingga Raffles menyebutnya Gedong Pitu. Setelah ditemukan, dilakukan beberapa penelitian terhadap candi oleh para arkeolog Belanda, antara lain Van Stein Callenfels (1908) dan Knebel (1911).

Dalam penelitian tersebut ditemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedong Songo. Komplek Candi Gedong Songo ini diperkirakan dibangun oleh Raja Sanjaya, raja Mataram kuno pada sekitar abad 8 Masehi.

Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi). yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di lereng Gunung Ungaran.

Berikutnya, Candi Dieng adalah kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa tengah. Kawasan Candi Dieng menempati dataran pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9. Diduga merupakan candi tertua di Jawa.

Selain itu, Raffles juga merenovasi Candi Panataran (Jawa Timur): Candi Panataran terletak di Desa Panataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur.

Dari pusat kota Blitar kurang lebih 12 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Letak candi ini di lereng barat-daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter dari permukaan air laut.

Raffles berada di Jawa pada 1811-1816, pertama kali sebagai Lieutenant Governor of Java yang bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal Inggris di India yaitu Lord Minto (nama aslinya Sir Gilbert Elliot Murray-Kynynmond). Tahun 1814 Lord Minto meninggal dunia dan Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Jawa sampai 1816.

Hati Raffles telah tertambat pada pulau Jawa. Maka ia benci Belanda kembali berkuasa di Jawa. Tahun 1819 Raffles menggagas pusat perdagangan di Pulau Singapura dalam kerja sama dengan Tumenggung Sri Maharaja penguasa Singapura.

Inggris diizinkan mendirikan koloni di Singapura dengan syarat Inggris melindungi para pedagang Singapura dari Belanda dan Bugis.

Raffles bersumpah Singapura akan dijadikan koloni baru yang meskipun kecil, namun akan lebih maju dari pulau Jawa yang dikuasai Belanda. Sumpah Raffles terwujud. Singapura pusat perdagangan penting di dunia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini