Misteri Ramalan Kemerdekaan di Panggung Sangga Buwana Keraton Solo

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 07 Maret 2021 05:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 07 337 2373629 misteri-ramalan-kemerdekaan-di-panggung-sangga-buwana-keraton-solo-jquTpeMcRf.jpg Foto: Okezone

PANGGUNG Sangga Buwana di Keraton Solo berbentuk menara yang berada di kompleks Kedathon Keraton Kasunanan Surakarta.

Puncak Panggung Sangga Buwana berbentuk seperti topi bulat dengan hiasan ekor naga yang dikendarai manusia sambil memanah.

(Baca juga: Detik-detik Soeharto Menuju Kursi RI1 Usai Tumbangnya Orde Lama)

Menurut Babad Surakarta, bangunan itu bukan hiasan biasa, tetapi merupakan sengkalan tahun pendirian.

Keraton Kasunanan didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II pada tahun 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura yang berantakan akibat Geger Pecinan 1743.

Keraton terakhir Kasultanan Mataram ini didirikan di desa Sala, sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan Sala.

Setelah resmi istana Kasultanan Surakarta selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat.

Tahun pembuatannya diberi pertanda untuk memudahkan mengingatnya, dengan sengkalan milir: “Naga Muluk Tinitihan Janma” yaitu tahun 1708 atau sengkalan milir yang menandakan nama menara tersebut, yaitu “Panggung Luhur Sinangga Buwana”, yang juga memiliki makna tahun 1708.

Terdapat juga sengkalan milir yang pada jaman penjajahan Belanda dirahasiakan. Sengkalan terakhir ini berupa sebuah ramalan tentang tahun kemerdekaan Indonesia, sehingga akan menimbulkan bahaya jika diketahui oleh Belanda.

Sengkalan itu terletak di puncak atas panggung yaitu Naga Muluk Tinitihan Janma. Bentuk dari hiasan tersebut adalah manusia yang naik ular naga tengah beraksi hendak melepaskan anak panah dari busurnya, sedangkan naganya sendiri digambarkan memakai mahkota.

Ini adalah Sabda terselubung dari Sunan PB III. Seorang pujangga keraton Surakarta bernama Rng.Yosodipuro, mengartikan sengkalan itu ternyata sesuai dengan ramalan tahun kemerdekaan bangsa Indonesia adalah tahun 1945.

Panggung Sanggabuwana memiliki tinggi sekitar 30 meter, dan memiliki 4 tingkat. Pada tingkat 3, menghadap ke utara, terdapat sebuah jam besar yang dapat berbunyi sendiri.

Pada tingkat yang paling atas, digunakan untuk ber meditasi, sesaji, berinteraksi dengan sukma kasarira (Ratu Roro Kidul), dan melihat pemandangan kota sekitarnya.

Secara mistik kejawen, Panggung Sangga Buwana dipercaya sebagai tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Kangjeng Ratu Rara Kidul.

Letak Panggung Sangga Buwana persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja sebab datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan.

Sampai sekarang sangga buana masih difungsikan untuk semedi Raja dan bertemu Ratu Roro Kidul.

Menara ini pernah terbakar pada tanggal 19 November 1954, lalu dibangun kembali dan selesai pada tanggal 27 Rabiulawal 1891 atau 30 September 1959.

Sebelum terbakar, bentuk atapnya dinamai tutup saji, yaitu atap yang berbentuk hasta wolu atau segi delapan. Namun sekarang, bentuknya dibuat seperti payung yang sedang terbuka.

Panggung Sangga Buwana dulu dibuat untuk mengintai musuh dari ketinggian. Tempat ini juga biasa dipakai raja untuk bermeditasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini