KLB Partai Demokrat, Pengamat: De Javu Apa yang SBY Lakukan ke Anas Urbaningrum

Khafid Mardiyansyah, Okezone · Sabtu 06 Maret 2021 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 06 337 2373412 klb-partai-demokrat-pengamat-de-javu-apa-yang-sby-lakukan-ke-anas-urbaningrum-NzxJxWN0Hn.jpg Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Okezone)

JAKARTA - Polemik Partai Demokrat makin berlanjut usai Kongres Luar Biasa (KLB) di Deliserdang, Sumatera Utara menunjuk Moeldoko sebagai ketua umum partai.

“Penunjukan Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat adalah peristiwa politik yang terulang (de javu) seperti ketika Susilo Bambang Yudhoyono mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat dari Anas Urbaningrum, sekaligus berakhirnya Demokrat sebagai partai keluarga SBY,” kata Ninoy Karundeng pengamat politik dan pegiat media dan media sosial di Jakarta, Jumat (5/3/2021).

Yang membedakan, lanjut Ninoy Karundeng, Moeldoko ditunjuk atas kehendak peserta KLB yang secara aklamasi memilih Moeldoko. Sementara SBY menjadi Ketum Demokrat atas keinginan dirinya sendiri. Bahkan SBY berjanji hanya mengambil alih Demokrat untuk menghabiskan masa jabatan Anas. Alih-alih menyerahkan ke orang lain, SBY kemudian memberikan jabatan Ketum Demokrat kepada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

KLB Deliserdang yang menetapkan Moeldoko sebagai Ketum Demokrat, menurut Ninoy Karundeng, akan membuat arah baru bagi Partai Demokrat untuk tidak hanya menentukan kepemimpinan yang dikehendaki oleh kader Demokrat, juga tokoh yang memiliki integritas tinggi yang dibutuhkan oleh Partai Demokrat.

Baca Juga: Pemerintah Angkat Bicara, Mahfud MD: Kita Tak Bisa Melarang atau Mendorong KLB di Deliserdang

“Munculnya KLB adalah ekses dari hilangnya integritas SBY yang menggunakan Demokrat sebagai partai milik keluarga, ketika dia menjadikan AHY sebagai Ketum Demokrat yang dinilai tidak demokratis oleh para kader Demokrat,” kata Ninoy Karundeng.

Ditambahkan oleh Ninoy bahwa KLB Deliserdang diselenggarakan karena adanya ketidakpuasan kader terhadap AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) yang dinilai lemah dan hanya menjadi kepanjangan kepentingan keluarga SBY. Hal ini dibuktikan dengan elektabilitas Demokrat dalam berbagai survey yang merosot tajam sampai pernah menyentuh 3,6% artinya di bawah ambang batas parliamentary threshold, sejak dikuasai oleh apa yang disebut Dinasti Cikeas.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini