Kisah Romeo Juliet versi Jawa Roro Mendut -Pronocitro Berakhir Tragis di Ujung Keris

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 06 Maret 2021 05:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 06 337 2373252 kisah-romeo-juliet-versi-jawa-roro-mendut-pronocitro-berakhir-tragis-di-ujung-keris-g16LTymcT4.jpg Tangkapan layar media sosial

DI Pantura Jateng terdapat cerita rakyat yang populer tentang kesetiaan seorang gadis bernama Roro Mendut. Mereka bagai kisah Romeo dan Juliet.

Makam Roro Mendut dan Pronocitro terletak di sebuah kebun warga di desa Gandu, Berbah, Sleman, Yogyakarta.

Sebagai penanda makam dibuat sebuah rumah kecil, yang dalam bahasa Jawa disebut cungkup. Di bangunan cungkup berukuran sekitar 4 x 5 meter tersebut di dalamnya berisi pusara Roro Mendut dan Pronocitro.

(Baca juga: Pertama Dalam Sejarah Indonesia Ada Pejabat Negara Kudeta Partai Politik)

Makam Roro Mendut dan Pronocitro ini banyak dikunjungi warga yang ingin mengalab berkah.

Hampir setiap hari ada orang yang datang untuk ngalab berkah di makam itu, terutama di malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon.

Kebanyakan dari para pengalap berkah yang datang ke makam ini adalah mereka yang berprofesi sebagai padagang yang ingin bisnis serta dagangannya diberikan kelancaran.

Hal ini diyakini, karena semasa hidup, Roro Mendut merupakan seorang pedagang rokok yang sukses. Jadi, tuah makam Roro Mendut ini dipercaya sangat membantu mendatangkan berkah pula bagi mereka yang berprofesi sebagai pedagang.

Ada syarat erotis yang harus dilakukan setiap peritual sebagai tahap terakhir menyempurnakan serangkaian ritual permohonan di makam ini. Setelah mengelilingi makam, para pengalab berkah diwajibkan melakukan persetubuhan alias melakukan hubungan seksual antara pria dan wanita.

Persetubuhan di akhir ritual ini, dimaknakan sebagai simbol penyatuan jiwa dan cinta antara dua insan manusia, seperti halnya cinta Roro Mendut dan Pronocitro yang dibawa sampai mereka berdua mati.

Dalam melakukan hubungan badan di makam Roro Mendut tersebut, bisa dilakukan di luar kompleks, atau di dalam cungkup itu. Yang penting harus melakukan hubungan badan seperti suami istri.

Namun diyakini, agar permohonannya menjadi makbul, persetubuhan yang dilakukan tersebut haruslah hubungan seks antar muhrim. Artinya, hubungan seksual tersebut haruslah hubungan badan antara suami atau istri yang sah, bukan dengan yang lainnya.

Siapa sebenarnya Roro Mendut sampai peziarah punya keyakinan seperti itu?

Alkisah dulu di Teluk Cikal, Pati, Jawa Tengah, hidup seorang gadis anak nelayan bernama Rara Mendut. Ia seorang gadis yang cantik dan rupawan. Rara Mendut juga dikenal sebagai seorang gadis yang teguh pendirian.

Ia sering menolak para lelaki yang datang melamarnya sebab ia sudah memiliki calon suami, yakni seorang pemuda desa yang tampan bernama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, seorang saudagar kaya-raya.

Kecantikan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II. Penguasa Kadipaten Pati itu bermaksud menjadikannya sebagai selir. Sudah berkali-kali ia membujuknya, namun Rara Mendut tetap menolak. Merasa dikecewakan, Adipati Pragolo II mengutus beberapa pengawalnya untuk menculik Rara Mendut. Akhirnya Roro Mendut diculik Adipati Pragola.

Setelah kejadian itu, Pasukan kerajaan Mataram menyerbu Pati. Para prajurit yang dikomandani panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna, merampas harta kekayaan Kadipaten Pati, termasuk Roro Mendut. Tumenggung Wiraguna langsung terpesona saat melihat kecantikan Rara Mendut. Ia pun memboyong Rara Mendut ke Mataram untuk dijadikan selirnya.

Tumenggung Wiraguna membujuk Rara Mendut untuk dijadikan selir, namun selalu ditolak. Sikap Rara Mendut yang keras kepala itu membuat Tumenggung Wiraguna murka.

Ia mengatakan bahwa jika Roro Mendut tidak ingin menjadi selirku, maka sebagai gantinya harus membayar pajak kepada Mataram.

Roro Mendut memilih membayar pajak daripada harus menjadi selir Tumenggung Wiraguna. Ia meminta izin untuk berdagang rokok di pasar.

Tumenggung Wiraguna pun menyetujuinya. Ternyata, dagangan rokoknya laku keras, bahkan, orang juga beramai-ramai membeli puntung rokok bekas isapan Rara Mendut.

Kemudian Roro Mendut bertemu dengan Pranacitra yang sengaja datang mencari kekasihnya. Pranacitra berusaha mencari jalan untuk bisa melarikan Roro Mendut dari Mataram.

Pelarian Rara Mendut dan Pranacitra diketahui oleh Wiraguna. Pasangan ini akhirnya berhasil ditemukan oleh para prajurit Wiraguna.

Roro Mendut dibawa kembali ke Mataram, sedangkan secara diam-diam, Wiraguna memerintahkan abdi kepercayaannya untuk menghabisi nyawa Pranacitra. Alhasil, kekasih Rara Mendut itu tewas dan dikuburkan di sebuah hutan terpencil di Ceporan, Desa Gandhu, Sleman,Yogya.

Roro Mendut ditunjukkan tempat Pranacitra dikuburkan. Ia berteriak histeris di hadapan makam kekasihnya. Berderai air matanya melihat makam Pronocitro.

Ia menarik keris milik Tumenggung Wiraguna yang terselip di pinggangnya. Rara Mendut kemudian berlari menuju makam kekasihnya. Setiba di makam Pranacitra, Roro Mendut bunuh diri. Ia menikam perutnya dengan keris yang dibawanya. Tubuhnya roboh dan tewas di samping makam kekasihnya. Mereka akhirnya dikuburkan dalam satu liang lahat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini