Kepala BMKG : Early Warning System Tsunami Indonesia 90% Andal, Sudah Tandingi Jepang

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 05 Maret 2021 16:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 337 2372998 kepala-bmkg-early-warning-system-tsunami-indonesia-90-handal-sudah-tandingi-jepang-pjNwL2RpaU.jpg Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Okezone)

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyebutkan, sistem early warning tsunami Indonesia sudah 90% andal. Bahkan, kata Dwikorita, alat tersebut sudah bisa menandingi buatan Jepang.

Dwikorita menjelaskan, early warning ada dua aspek, yaitu teknis di hulu dan aspek yang dikontrol teknologi.

“Jadi kalau kita berbicara mengenai early warning ada dua aspek ya. Dari ujung ke ujung. Aspeknya itu aspek teknis itu di bagian hulu, lebih dikontrol oleh teknologi, oleh sistem ya, oleh kemajuan teknologi,” ungkapnya dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 secara virtual, Jumat (5/3/2021).

Dalam aspek pertama yakni teknologi ini, Dwikorita mengatakan, 90% sudah andal. Bahkan bisa menandingi Jepang.

“Di dalam aspek teknis ini kurang lebih 90% kita ini sudah andal. 90% saya katakan andal. Karena apa? Saat ini kita sudah menandingi Jepang,” ucapnya.

Dwikorita mengatakan, saat ini Indonesia bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami dua hingga tiga menit setelah gempa terjadi. “Saat terjadi tsunami di Palu, Indonesia masih ketinggalan. Saat itu peringatan dini baru dikeluarkan pada menit kelima setelah gempa bumi. Nah saat ini sudah menit kedua, ketiga,” katanya.

Namun, saat ini Dwikorita mengatakan Indonesia belum mempunyai alat deteksi tsunami yang diakibatkan bukan oleh gempa bumi. “Tapi, saat ini masih ada yang kurang. Saat ini sistem peringatan dini belum mampu mendeteksi saya katakan 90%. Karena 10% itu saya katakan adalah tsunami yang diakibatkan bukan oleh gempa bumi,” ujarnya.

“Sehingga, kita perlu meningkatkan teknologi lagi ini bersama BPPT dan kerjasama dengan beberapa negara maju. Teknologi yang bisa mendeteksi tsunami yang tidak diakibatkan gempa bumi. Misalnya Selat Sunda, itu tidak bisa dideteksi karena tidak diakibatkan gempa bumi. Nah, sekarang BPPT sedang melakukan eksperimen deteksi tsunami akibat erupsi gunung api,” kata Dwikorita.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini