Melacak Diet Manusia Purba

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 05 Maret 2021 06:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 337 2372634 melacak-diet-manusia-purba-Ilw6viFdg8.jpg Ilustrasi manusia purba. (Foto: Softpedia)

KETERBATASAN pilihan makanan yang dimakan manusia saat ini ternyata adalah hasil eksperimen leluhur. Manusia mewarisi selera para leluhur. 

"Kemungkinan kelompok Australopithecus, Homo erectus dan Hominid Purba memungut makanan langsung di lingkungan sekitarnya tanpa pengolahan yang rumit. Buru, potong dan santap untuk hewan," ujar Rusyad Adi Suriyanto, Paleoantropolog dan Antropolog Forensik UGM.

Masa berikutnya mulai dengan membakarnya saat mampu menjinakkan dan mengontrol api. Pungut dan santap untuk dedaunan dan buah-buahan. Masa berikutnya mulai mengenal memasak dengan api dan tembikar atau gerabah. 

Baca juga: Menelisik Penyebab Manusia Purba Berambut Lebat

Tentu saja menuju masa kini teknik mengolah dan menyimpan makanan makin beragam dan kompleks. Mereka makin lama makin memilih sumber-sumber dietnya.

Makin lama pilihan makanan makin terbatas sejak leluhur memilih hidup menetap dengan kebudayaan domestikasinya. Hanya hewan dan tanaman terselektif yang mereka usung dan pelihara di lingkungan barunya yang dimakan.

"Homo Sapiens makin selektif dietnya. Saat ini kita memakan daging sapi, kambing, ayam dan babi. Sebagian besar diet daging utama kita hanya di sekitar itu. Diet bahan dari laut, sungai dan danau. Relatif terbatas ragamnya. Saat ini produk turunanannya makin beragam dengan teknik pengolahan yang beragam pula," paparnya.

Baca juga: Api Ditemukan dari Iseng-Iseng Lemparan Batu Manusia Purba?

Saat ini relatif terbatas mengkonsumsi ragam tanaman. Untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat (beragam sereal dan umbi), sayur-mayur dan buah-buahan saat ini dibudidayakan dan diolah dengan masif, bahkan dengan budidaya agroindustri. Produk industri pengawetan dan pengalengannya makin menjadi pilihan.

"Mengapa kita saat ini tidak menyantap hidangan daging jerapah, singa, hyena, zebra, kuda sungai dan singa laut? Kita tidak memakan kulupan atau gudangan daun jati, jarak, sukun dan pinus? Jutaan ragam serangga hanya kita nikmati warna dan bunyinya," tanyanya.

Dikatakannya, hanya sebagian kecil etnis di bumi menyantapnya sebagai hidangan pelengkap, namun itu hanya sangat kecil dari jumlah ragam serangga di bumi.

Ternyata jutaan jenis hewan dan tanaman di bumi ini kita anggap bukan makanan karena beragam sebab. Sebab itu karena rasanya, pantangan atau dosa. Mungkin juga belum menemukan teknik pengolahannya yang tepat.

"Belum sanggup diasinin, diasapin, difermentasi dan dibacem," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini