Menelisik Penyebab Manusia Purba Berambut Lebat

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 04 Maret 2021 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 337 2371905 menelisik-penyebab-manusia-purba-berambut-lebat-KRYbWBH55U.jpg Ilustrasi manusia purba. (Foto: Softpedia)

KONON rambut badan manusia purba itu lebat. Rambut badan manusia kuno makin tereduksi. Jika memperhatikan bukti evolutif itu, tentu rambut badan para leluhurnya makin lebat. Boleh jadi selebat rambut badan kera saat ini.

"Kok bisa rambut badannya mereduksi? Bahkan ada yg nyaris halus dan tak terlihat kecuali diraba. Mereduksinya rambut hominid seiring makin meningkat kecerdasannya,” ujar Rusyad Adi Suriyanto, Paleoantropolog dan Antropolog Forensik UGM.

Dijelaskannya, awalnya manusia purba hidup di alam bebas bersama para hewan, baik predator maupun mangsa. Mereka hidup di sabana tropis.

"Semua aktivitas hidupnya di situ. Dari mulai melek mata, berburu, meramu dan seterusnya sampai bobok di sabana itu," ucapnya.

Baca juga: Api Ditemukan dari Iseng-Iseng Lemparan Batu Manusia Purba?

Konon ada yang beristirahat dan tidur di pepohonan untuk menghindari predatornya. Rambut yang lebat membantu menahan badan dari panas, dingin dan kelembaban ekstrem. Pendek kata rambut badan lebat adalah gaya hidup.

"Di masa kemudian, para cucunya tidak tahan hidup seperti moyangnya karena lingkungan sudah berubah. Seperti mudah kena masuk angin. Mudah meriang setelah kehujanan. Kesumuken saat puncak terik. Akhirnya mereka bersepakat berumah di gua dan ceruk. Perlindungan oleh gua dan ceruk itu beserta api unggunya makin mereduksi rambut badannya. Di masa ini rambut badan lebat bikin ribet," jelasnya.

Baca juga: Menelusuri Kehidupan Seks Kaum Neanderthal, Apakah Manusia Purba Berciuman?

Diutarakannya, keturunan berikutnya makin bertambah besar volume otaknya. Manusia gua makin mengeksploitasi rumah guanya. Mereka makin sibuk di dalam rumahnya.

"Ada yang sibuk jadi tukang. Sukanya bikin alat berburu dan kerajinan. Ada yang sibuk jadi seniman. Suka menggambar dinding-guanya. Guanya makin benderang karena mampu memelihara nyala api. Mereka telah berbaju. Mereka juga mulai suka berselimut. Rambut badan mereka makin mereduksi," lanjutnya.

Seiring perkembangan zaman, para leluhur bosan hidup di gua. Mereka mengembara ke lokasi yang ada kelimpahan pangan. Mereka makin berani pergi sangat jauh dari tempat awalnya. Mereka sudah berani hidup di tempat yang sangat dingin, panas dan lembah pegunungan.

"Rambut badan mereka telah lama makin pendek, halus dan kelebatannya tidak merata. Yang lebat cuma di kepala, ketiak dan alat kelamin. Sebagian cowoknya berambut dada relatif lebat. Keberanian mereka hidup di ragam lingkungan itu karena mereka sudah mampu bikin pondok dan rumah, berbaju, berselimut dan api," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini