SBY Dianggap Benteng Terakhir untuk Mengamankan Posisi AHY di Demokrat

Rakhmatulloh, Sindonews · Rabu 03 Maret 2021 07:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 337 2371286 sby-dianggap-benteng-terakhir-untuk-mengamankan-posisi-ahy-di-demokrat-qsiilaPahL.jpg Susilo Bambang Yudhoyono (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menilai, konflik internal Partai Demokrat semakin meruncing setelah adanya pemecatan terhadap sejumlah pengurus dan kader.

Bagi kubu Cikeas, tindakan pemecatan terhadap kader yang dianggap membangkang itu merupakan hal yang lazim terjadi di sejumlah partai.

Menurutnya, pemecatan itu dilakukan dengan tujuan untuk menegakkan disiplin partai. Selain itu, dalam konteks kepentingan kubu Cikeas, langkah pemecatan diambil dengan maksud untuk menciptakan stabilitas internal partai di tengah tekanan politik yang dialami kubu Cikeas dalam hal ini Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Baca juga:  Polemik Demokrat, KLB Dianggap Bukan Sesuatu yang Nista

"Pemecatan tersebut dilakukan di tengah dorongan KLB (Kongres Luar Biasa) yang kian menguat. Tujuannya adalah untuk mengamankan status quo yakni posisi AHY sebagai ketua umum partai Demokrat," katanya saat dihubungi, Rabu (3/3/2021).

Namun demikian, kata Karyono, yang perlu diantisipasi adalah efek dari tindakan pemecatan yang dilakukan secara serentak. Jika tak terkendali justru berpotensi menimbulkan gejolak yang lebih besar. Dan, besarnya gejolak tergantung pada situasi dan kondisi.

Baca juga:  Jhoni Allen Sebut Kudeta Pertama Demokrat Era SBY, Herzaky: Justru SBY Lindungi Hak Anas

"Disinilah diperlukan kepiawaian kubu AHY dalam mengelola konflik. Tidak hanya AHY yang diuji, tapi kelihaian dan pengaruh SBY menjadi taruhannya. SBY adalah benteng terakhir untuk mengamankan AHY sebagai ketua umum," ujarnya.

"Pengaruh SBY di internal untuk saat ini memang masih kuat. Tapi kekuatan SBY saat ini sedang diuji seberapa kuat dalam membentengi partai Demokrat," imbuh mantan Peneliti LSI Denny JA itu.

Lebih lanjut Karyono mengatakan, lantas seberapa kuat pihak yang mendorong KLB? Jika dilihat dari reaksi pasca pemecatan, nampak di permukaan dorongan KLB semakin menguat. Dia melihat, pemecatan sejumlah kader justru memicu spektrum perlawanan kian meluas. Pemecatan justru berpotensi mendorong kristalisasi pihak-pihak yang kurang puas terhadap kepemimpinan AHY.

"Yang mesti diantisipasi adalah menyatunya pelbagai kelompok berpengaruh yang tidak puas, baik dari dalam maupun dari luar. Jika ini tidak berhasil dikelola dengan baik, maka bisa menggoyahkan benteng pertahanan kubu Cikeas," tutur dia.

Di sisi lain, Karyono menganggap, mewujudkan KLB tidak mudah jika menggunakan AD/ART Partai sebagai rujukan formal. Pasalnya, penyelenggaraan KLB harus mendapat persetujuan Majelis Tinggi yang mana komposisi di Majelis Tinggi Demokrat didominasi kubu Cikeas, yang diketuai sendiri oleh SBY ayah kandung AHY.

"Maka dari itu jika kelompok yang tidak puas terhadap kepemimpinan AHY menggunakan pendekatan formal untuk menyelenggarakan KLB bisa terkuras energinya. Karenanya, mereka perlu memikirkan cara lain jika hendak menggoyang kubu Cikeas," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini