Kisah Nama Batavia Lahir dari Serdadu VOC Mabuk dan Java Bier "Untuk Orang Kuat"

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 03 Maret 2021 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 337 2371250 kisah-nama-batavia-lahir-dari-serdadu-voc-mabuk-dan-java-bier-untuk-orang-kuat-HGMTMOJ07I.jpg Batavia (Foto: Ist)

SAAT jaman VOC muncul peristiwa lucu, nama Batavia lahir dari mulut serdadu VOC yang sedang mabuk berat. Keterangan tersebut ditulis oleh Alwi Shabab (2013) dalam bukunya yang berjudul "Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia."

Ditambahkanya, semasa Jenderal Coen ingin menamai Jayakarta selepas berhasil ditaklukannya dia berkemauan menyematkan De Hoorn sesuai dengan kota kelahirannya. Namun, dalam sebuah pesta kemenangan ada seorang soldadoe VOC yang tengah mabuk meneriakkan kata-kata “Batavia….Batavia…” hingga kota di tepian Sungai Ciliwung itu pun lekat dengan nama Batavia.

JP Coen urung untuk mengubah nama tersebut, musababnya pemegang saham kongsi dagang Belanda lebih gandrung dengan nama Batavia daripada De Hoorn.

Baca Juga:  10 Ribu Orang Tewas dalam Geger Batavia

Pada awalnya minuman keras hanya digemari pejabat pemerintah. Namun, lambat laun masyarakat juga ikut mencicipi.

Di zaman Hindia Belanda, terdapat beberapa merek bir. Sebuah majalah khusus pensiunan serdadu KNIL bernama Trompet memasang iklan Java Bier, Ankerpils dan Heinekens.

Bagi masyarakat Eropa Hindia Belanda, tidak “minum" bukanlah laki-laki. Bir adalah lambang kekuatan. Jika tidak minum yang sekeras Jenewer atau Whisky, setidaknya minum bir.

Baca Juga:  Njai Dasima dipikat Tukang Sado dengan Guna-guna Sehelai Rambut

Dalam majalah Trompet edisi Juli 1939, iklan Java Bier menggambarkan seorang dokter yang sedang mengobati pasien. Di edisi sebelumnya lagi, Juni 1939, seorang anggota pemadam kebakaran yang dengan gagah berani menyemprotkan api dengan semprotan brandweer sendirian.

Di edisi jauh setelahnya, Februari 1949, gambar iklan Java Bier adalah seorang laki-laki badan kekar yang diperiksa seorang dokter. Dalam beberapa iklan Java Bier di majalah bulanan Trompet, selalu ada jargon, “orang tegap dan kuat minum Java Bier."

Java Bier, minuman diproduksi NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen sejak 1931, sudah tamat riwayatnya. Produk lain dari perusahaan ini adalah bir Belanda Heinekens. Java Bier menghilang karena masuknya serdadu-serdadu Jepang ke Indonesia pada 1942.

Orang-orang Eropa memegang andil besar dalam bisnis miras di Indonesia. Lewat berbagai merk ternama seperti Java Bier, Heinekens dan Ankerpils mereka sukses membuat anak-anak pribumi doyan bir.

Sejarah bir di Indonesia dimulai pada tahun 1929, berdiri sebuah brewery yang berlokasi di Surabaya. N.V. Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen atau yang dulu juga dikenal dengan nama Java Brewery . Bir yang diproduksi itu lalu dikenal dengan nama Java Bier.

Terdapat berita tentang rencana pembangunan pabrik bir di Surabaya dari Kajawen edisi 6 April 1929.

"Wontên pawartos, bilih ing Surabaya tuwin Medhan, badhe dipun êdêgi pabrik bir, pasitènipun sampun angsal, saha sampun mêling mêsin-mêsinipun, biripun badhe dipun damêl ingkang nocogi kalihan kawontênaning nagari ingkang hawanipun bêntèr."

Terjemahan bebasnya: "Ada kabar, di Surabaya dan Medan akan didirikan pabrik bir. Lahannya sudah didapatkan serta mesin-mesinnya sudah dipesan. Minuman bir itu nanti dibuat yang cocok dengan negara yang suhunya panas."

Lokasi pabrik bir itu berada di kawasan Ngagel. Orang menyebutnya bekas pabrik bir atau AJBS. Tahun 1937, Java Brewery melakukan renovasi pabrik dan memperluas jaringan usahanya. Tidak berselang lama, nama perusahaannya pun berganti menjadi Heineken’s Nederlands-Indische Bierbrouwerij Maatschappij.

Sejak saat itu, penjualan bir Heineken mulai merambah pasar Indonesia. Impor bir Heineken kemudian dihentikan. Orang kerap memesan bir Heineken dengan menyebut “Bintang” karena gambar bintang berwarna merah yang memang ada di logo Heineken tersebut.

Tahun 1931, bulan Agustus, N.V. Archipel Brouwerij Compagnie didirikan oleh Geo Wehry & Co. Unit usaha ini dibentuk dengan tujuan sebagai pabrik pembuatan dan penyulingan bir serta minuman berkarbonasi dengan es. Pabrik ini dikenal sebagai pengimpor untuk bir-bir buatan Bremen di Jerman kepada brewery Koentji Beer di Indonesia.

Brewery yang pertama didirikan terletak di Batavia. Dibuat dengan menggunakan teknologi baja framing, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya di daerah kolonial Belanda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini