Arak Batavia Sempat Dicicipi Marco Polo dan Kapten James Cook

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 03 Maret 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 337 2371248 arak-batavia-sempat-dicicipi-marco-polo-dan-kapten-james-cook-WZ9HzuuJ4J.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

DAVID Owens dalam Indigenous Fermented Foods of Southeast Asia (2014) mengungkapkan, produksi arak Batavia dimulai di Batavia (kini Jakarta) pada 1743. Batavia Arrack van Oosten mengandung 50 persen alkohol dan menjadi terkenal pada abad ke-18 di seluruh Indonesia.

Batavia Arrack van Oosten ini disukai oleh orang-orang Eropa yang datang ke Hindia Belanda atau Indonesia kala itu sehingga sering dibawa pulang dan namanya cukup populer di negara-negara Barat.

Baca Juga:  Teka-teki Harta Karun VOC yang Masih Jadi Misteri

Minuman ini diproduksi sejak akhir abad 17 hingga abad 19. Merupakan minuman yang digemari di Eropa, khususnya Swedia. Minuman ini juga biasa disebut sebagai Batavia Arrack van Oosten.

Kapten James Cook terpesona dengan keampuhan arak Batavia yang membuat seorang awaknya tak pernah jatuh sakit. Padahal usia awak kapal tadi sudah di atas 70 tahun dan kerjanya hanya mabuk arak Batavia.

Penjelajah Portugis yang terkenal, Marco Polo, saat datang ke Jawa bersosialisasi dengan masyarakat Batavia. Ia sempat mencicipi arak yang disuguhkan masyarakat lokal.

Arak dan beberapa akar tebu menjadi barang bawaan mereka sebelum akhirnya mendarat di Kepulauan Karibia. Hasil bawaan bangsa Portugis itu akhirnya ditanam juga di daratan Karibia. Iklim tropis kepulauan tersebut ternyata sangat cocok dengan tanaman itu.

Bangsa Eropa sudah berdomisili di Kepulauan Karibia. Dengan kecanggihan teknologi mesin distilasi modern yang dimiliki orang-orang Eropa, maka tercipta minuman yang dikenal dengan sebutan “rum”.

Kisah perjalanan arak Batavia hingga ke Swedia dimulai ketika Kapal Gotheborg mampir ke Batavia pada 1743. Awak kapal harus memenuhi kebutuhan kapal dan awaknya seperti arak, kayu bakar, kebutuhan untuk mengisi perut, serta mesiu cadangan untuk keamanan. Mereka menyukai cita rasa arak bikinan Batavia – Batavia Arrack van Oosten yang mengandung alkohol 50 persen.

Batavia Arrack dibuat awal abad 17 di sebuah pulau di Jawa terbuat dari air tebu dan fermentasi beras merah. Punya cita rasa berbeda, seperti rum Haiti dan Scotch.

Baca Juga:  Melacak Jejak Prajurit Mataram saat Serang Batavia

Arak tersebut salah satu produk asli Batavia, terbuat dari air tebu dan beras merah, diproduksi di Indonesia untuk selanjutnya dikirim ke Belanda untuk dilakukan proses blending . Bahan dasar yang sudah di -blend itu lalu dicampur lagi dengan beberapa jenis bahan racikan lainnya. Hasil akhirnya dikirim ke Austria untuk disemat label, sebelum akhirnya didistribusikan ke seluruh dunia.

Dalam sebuah tulisan, "Peran Etnis Cina dalam Pengembangan Iptek" tertulis bahwa sudah sejak abad 17 warga Tionghoa di Batavia mengembangkan berbagai budidaya seperti tebu dan padi. Dari dua komoditi itu dibuatlah arak yang terdiri dari beras yang difermentasi, tetes tebu dan nira. Mereka telah mengembangkan penyulingan arak sejak awal abad 17.

"Bangsa kita harus minum atau mati," tulis Coen pada 1619. Tidaklah heran bahwa penyulingan arak disebut industri utama di Batavia. Arak Batavia menjadi terkenal di seluruh Asia.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini