Api Ditemukan dari Iseng-Iseng Lemparan Batu Manusia Purba?

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 02 Maret 2021 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 02 337 2370546 api-ditemukan-dari-iseng-iseng-lemparan-batu-manusia-purba-B8sG1k8esE.jpg Ilustrasi (Foto: Softpedia)

KAPAN manusia purba (homo erectus) menciptakan api? Bukti ini pun masih belum terkuat. Gambaran tentang manusia purba telah menciptakan api berasal dari model etnoarkeologis. Beberapa laporan etnografis mencatat tentang suku bangsa yang relatif sederhana menciptakan api.

"Mereka dengan memukulkan dua batu keras seukuran kepalan tangan manusia untuk menghadirkan titik api. Titik api ini lalu ditangkap dengan bahan-bahan kering mudah terbakar, bisa kulit kayu, rerumputan dan sejenisnya. Cara lebih maju teknologinya dengan menggunakan gesekan atau putaran antar kayu," kata Rusyad Adi Suriyanto, Paleoantropolog dan Antropolog forensik UGM.

Baca Juga:  Di mana Jasad Untung Surapati, Dikubur atau Dibuang ke Laut?

Dijelaskannya, mungkin saja munculnya pengetahuan tentang batu yang bisa memercikan api itu dari aktivitas iseng. Saat musim kemarau mereka main lempar-lempar batu ke sasaran batu-batu lain, ternyata api terpercik di situ.

Di masa leluhur kemudian mereka membutuhkan api untuk api unggun. Mengurangi dingin lingkungan sekitar saat malam hari. Sekaligus untuk penerangan. Mengusir para predator. Membakar daging dan umbi-umbian.

Di musim kemarau, apa juga dimanfaatkan sebagai senjata berburu. Mereka menjebak dan menyudutkan hewan buruannya, khususnya yang hidup berkelompok besar, di savana.

"Di tempat yang sudah direncanakan, bisa di dinding tebing atau jurang, hewan nahas yang sudat tersudut oleh api itu segera diburu dengan peralatan mereka, bongkah batu, alat batu, batang kayu dan sejenis," ucapnya.

Mereka yang mulai ke luar dari wilayah tropis, khususnya Afrika, menuju wilayah lain yang relatif dingin, penggunaan api membatu bertahan hidup.

"Leluhur kita sesudah Homo erectus, misal Neanderthal dan Cro Magnon yang hidup di wilayah relatif dingin di wilayah Eropa tentu memanfaatkan gua sedemikian rupa untuk hidup," ungkapnya.

Baca Juga:  Menelusuri Kehidupan Seks Kaum Neanderthal, Apakah Manusia Purba Berciuman?

Di dalam gua huniannya api unggun senantiasa menyala. Api itu untuk beragam keperluan. Di puncak musim dingin tahunan mereka lebih betah bersktivitas di dalam gua.

"Mungkin mereka mulai menggambari dinding gua huniannya. Api makin menghadirkan kreativitas seni. Makanya banyak seniman seni rupa saat ini juga suka nyalakan api,"paparnya

Saat Homo Sapiens hadir, mungkin api telah menjadi bagian kesehariaannya. Para penghuni gua generasi baru ini juga masih melanjutkan akrivitas penghuni gua kakek moyangnya.

Lambat laun saat mereka memasuki kehidupan baru, masa Neolitikum, beragam wadah gerabah untuk memasak bahan makan makin beragam. Mulailah mereka memasak dengan gerabah di atas api. Makanan mereka makin lunak. Kerja mastikatori makin lemah.

Apalagi masa modern sampai Zaman 5.0 ini. Tulang alveolar dan gigi makin mereduksi. Prognathism atawa ketongosan makin mereduksi. Pola gigi rahang atas dan bawa tidak serius lagi sebagai "jet and bite" atau bahkan "over jet", namun makin bergeser ke pola "over bite".

"Geligi rahang atas dan rahang bawah makin sejajar. Bonusnya adalah Homo Sapiens ini mampu menghadirkan aksara "f" dan "v"," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini