Artidjo Alkostar Sosok Dosen yang Menunjukan Hukum dan Konstitusi Tak Bisa Ditawar

Awaludin, Okezone · Senin 01 Maret 2021 15:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 337 2370245 artidjo-alkostar-sosok-dosen-yang-menunjukan-hukum-dan-konstitusi-tak-bisa-ditawar-u4AGkI1pCw.jfif Artidjo Alkostar semasa hidup (foto: Okezone.com)

JAKARTA - Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK), Artidjo Alkostar meninggal dunia, Minggu 28 Februari 2021, dikarenakan penyakit yang dideritanya.

Semasa hidupnya, mantan Hakim Agung itu dikenal bersih dan tegas terhadap koruptor. Kepergiannya pun meninggalkan duka mendalam terutama bagi Ketua Umum Angkatan Muda Partai Berkarya (AMPB), Fauzan Rachmansyah yang diketahui mahasiswa didikannya di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Baca juga:  Din Syamsuddin Kenang Artidjo Alkostar sebagai Hakim Pemberani, Jujur, dan Adil

Fauzan mengenang ketegasan Artidjo yang sudah muncul sejak mengajar. Di kala itu, tidak ada satu pun mahasiswa yang berani melawan almarhum yang memang sangat tegas dalam mengajar.

"Saya ingat betul waktu itu, beliau mengajar Hukum Pidana dan Etika Profesi di Universitas Islam Indonesia. Semua Mahasiswa UII sangat takut jika mendapat dosen Bapak Artidjo, karena beliau mendidik dengan keras, menunjukan Hukum dan konstitusi tidak bisa ditawar," kata Fauzan dalam keterangannya kepada Okezone, Senin (1/3/2021).

Baca juga: Batal di Situbondo, Jenazah Artidjo Alkostar Akan Dimakamkan di Kampus UII Yogyakarta

Menurutnya, Artidjo Alkostar adalah seseorang yang perfectsionist. Sehingga tidak ada satu pun mahasiswanya yang bisa mendapatkan nilai A dalam mata kuliah pelajaran almarhum.

"Bahkan beliau tidak pernah memberi nilai A kepada mahasiswanya, karena tidak mungkin orang yang baru belajar mencapai kesempurnaan," tuturnya.

 

Berkat ketegasan yang diajarkan Artidjo, Fauzan dapat memahami ajarannya, sehingga dirinya mampu menghadapi semua tantangan kehidupan, dan mampu menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, Bangsa, dan Negara.

"Dulu kami sangat kesal, tapi saat ini kami menyadari ilmu hukum sejatinya yang beliau ajarkan. Sebuah warisan yang tidak terlupakan," ucapnya.

Menurut Fauzan, sosok Artidjo layak diteladani. Sepak terjangnya begitu ditakuti oleh penjahat kerah putih dan bandar narkoba. Berbagai upaya suap untuk mempengaruhi putusan sama sekali tidak mempan.

“Dosen yang memiliki integritas, menanamkan anti korupsi dan mengajarkan kesempurnaan kepada mahasiswanya,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Artidjo Alkostar lahir di Situbondo, Jawa Timur, 22 Mei 1948, adalah seorang ahli hukum Indonesia.

Artidjo menyelesaikan pendidikan SMA di Asem Bagus, Situbondo. Selanjutnya melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan melanjutkan Master of Laws di Nort Western University, Chicago serta melanjutkan S3 di Universitas Diponegoro Semarang dan mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hukum pada 2007.

Ia pernah menjadi Direktur LBH Yogyakarta, dosen Fakultas Hukum UII dan Hakim Agung sejak 2000 hingga 2018 dan sudah menangani 19.483 perkara. Artidjo mendapat banyak sorotan atas keputusan dan pernyataan perbedaan pendapatnya dalam banyak kasus besar atau dikenal dalam dunia hukum sebagai dissenting opinion.

Namanya terangkat saat memperberat vonis 4 tahun penjara menjadi 12 tahun kepada politikus Angelina Sondakh untuk kasus korupsi, serta vonis 10 bulan kepada dokter Ayu untuk kasus malapraktik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini