Kisah Bung Karno Menulis Surat Cinta di Kertas Kop Surat Kepresidenan

Doddy Handoko , Okezone · Senin 01 Maret 2021 06:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 337 2369936 kisah-bung-karno-menulis-surat-cinta-di-kertas-kop-surat-kepresidenan-JUuTI10ZT1.jpg Presiden Soekarno (Foto : Istimewa)

MEMILIKI beberapa istri ada suka dukanya, malah kadang merepotkan. Perhatian harus dibagi dengan para istri itu, jika ada yang merasa diperlakukan kurang adil maka ditebak akan muncul banyak masalah. Hal itu juga dialami Presiden Sukarno atau Bung Karno yang pernah menuli surat cinta di atas kertas dengan kop surat kepresidenan.

Roso Daras dalam buku "Sukarno Serpihan Sejarah yang Tercecer" menuliskan ,suatu ketika Bung Karno tidak sempat menulis surat cinta untuk masing-masing istrinya. Ia menyuruh juru tulis Istana untuk mengetikkan surat cinta bagi istrinya.

Bung Karno terperanjat ketika sadar bahwa surat cinta itu diketik di atas kertas berkop Kepresidenan resmi. Lengkap dengan logo burung garuda dan cap kepresidenan. Pengirim tidak ditulis sebagai ‘mas’ atau ‘Sukarno’ tetapi "Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Ir Soekarno". Tentu saja surat itu dibatalkan, lalu dibuat di kertas biasa.

Kejadiaan lain saat Bung karno menikah dengan Hartini, Fatmawati marah dan keluar dari Istana, memilih tinggal di Kebayoran Baru dan tak mau balik lagi ke istana. Fatmawati meninggalkan Istana (baca: meninggalkan suami). Sikapnya keras kepala untuk tidak mau menengok Bung Karno saat tergolek sekarat di Wisma Yaso. Bahkan, sikapnya menolak melayat, menengok jenazah Bung Karno saat wafat 21 Juni 1970.

"Tentu saja Famawati punya alasan tersendiri, mengapa dia bersikap demikian. Landasan sikapnya, barangkali hanya dia dan Tuhan yang tahu," papar Roso.

Ia menambahkan ,"Saya, dan mungkin Anda, hanya bisa menebak-nebak tentang mengapa Fatmawati berbuat demikian. Salah satu kemungkinan, kemungkinan terbesar (sekaligus terbenar) adalah karena kecemburuan dan penolakannya, ketika Bung Karno meminta izin menikahi Hartini (bahkan kemudian Ratna Sari Dewi, dan seterusnya," ungkapnya.

Ujungnya, Hartini tidak tinggal di Istana, tetapi di paviliun Istana Bogor. Dewi Soekarno, wanita Jepang ini ditempatkan di Wisma Yasoo, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sementara istri lainnya, Haryati tinggal di kawasan Slipi, Jakarta Barat.

Baca Juga : Gayatri Rajapatni, Kisah Kecantikan Putri Majapahit Bagai Cleopatra

Baca Juga : Soekarno Kecil Diramal Ibunya Akan Jadi Pemimpin Besar

Ajudan Bung Karno punya tugas tambahan. Bambang Widjanarko menceritakan susahnya mengurus istri-istri Bung Karno. Istri Sukarno ini selalu curiga ke mana Bung Karno pergi setelah jam dinas usai, menemui istrinya yang lain? ke rumah si A, si B atau si C?

Ajudan Sukarno mau tidak mau harus berbohong demi menyelamatkan Bung Karno.

“Kami para ajudannya harus membantu dan mengamankan setiap timbul persoalan. Kalau perlu harus berbohong, apabila ibu yang satu bertanya apakah Bung Karno bertemu dengan ibu yang lainnya,” kata Bambang Widjanarko dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’ terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Jika Soekarno bertanya “Apakah aku sudah rapi?” Maka ‘rapi’ itu artinya bersih dari bekas lipstik, dan wangi parfum salah satu istrinya. Ajudan akan teliti memeriksa. Jika ada bekas parfum, maka Soekarno akan pulang dulu ke Istana Negara untuk mandi dan berganti pakaian.

Di antara istri yang lain, Haryati termasuk yang paling tidak akur dengan istri atau keluarga istri Sukarno yang lain.

“Ibu Dewi (Ratna Sari Dewi, istri keenam Sukarno) pernah berang dan naik pitam melihat kehadiran Ibu Haryati dan perkataannya. Memang demikian aku pun pernah tersinggung karena ucapan-ucapannya,” ungkap Rachmawati Sukarnoputri di buku 'Bapakku, Ibuku'.

Pernah suatu saat, Haryati, mendengar Soekarno sedang menemui istrinya yang lain. Dia pun marah dan hendak menyusul ke tempat acara. Soekarno yang mendapat laporan, memerintahkan bagaimana dan apapun caranya, Haryati tak boleh meninggalkan rumahnya di Slipi.

Ajudan lalu menggelar ‘operasi sabotase’. Awalnya sopir Haryati berpura-pura mobilnya mogok. Haryati yang murka meminta agar dikirim mobil dari Istana. Tapi berjam-jam mobil itu tidak juga datang.

Saat sopir sudah berhasil menyalakan mobil yang tadi mogok, sebuah truk tiba-tiba mogok di depan rumahnya. Mobil Haryati pun tidak bisa keluar dari garasi. Misi sabotase berhasil.

Gonjang-ganjing Tragedi 1965 juga mempengaruhi hubungan Sukarno dan Haryati, hingga akhirnya Sukarno memilih menceraikannya pada 1966.

“Perceraianku dengan engkau ialah karena kita rupanya tidak ‘cocok’ satu sama lain,” tulis Sukarno dalam surat perceraiaannya yang dikutip Reni Nuryanti dalam Perempuan dalam Hidup Sukarno.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini